bernasnews – Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut mengadakan uji coba instrumen Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka yang berlangsung selama dua hari, pada Rabu hingga Kamis, 2–3 Agustus 2023.
Setidaknya kegiatan itu melibatkan 20 partisipan yang berasal dari berbagai kalangan profesi masyarakat, seperti peneliti, dosen, penulis, karyawan negeri, karyawan swasta, wartawan, mahasiswa, siswa SMP, siswa SMA, dan profesi lainnya.
Kepala Balai Bahasa DIY, Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd mengatakan uji coba itu telah menjadi agenda rutin setiap tahunnya dimana Balai Bahasa DIY selalu mengujicobakan wacana dan soal UKBI yang telah divalidasi secara internal oleh para pakar pengujian.
Menurutnya, hal itu penting lantaran instrumen soal nantinya akan diujikan kepada masyarakat untuk mengecek kemahiran dalam berbahasa Indonesia.
“Sistemnya rutin setiap tahun, nanti tahun depan akan ada lagi, masalah penggunaan nya (baru akan diketahui) setelah ini selesai diujicobakan. Mana yang memenuhi kriteria itu nanti tim pusat yang akan menentukan, apakah soal soal ini layak diujikan,” kata Kepala Balai Bahasa DIY, Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd, Kamis (3/8/2023).
Dwi juga menambahkan, tujuan lainnya untuk mengetahui tingkat keterbacaan soal-soal yang akan di ujikan untuk peserta Uji Kemaharian Berbahasa Indonesia (UKBI).
Selain Balai Bahasa DIY, ada 29 UPT lain di setiap provinsi yang menyelenggarakan kegiatan tahunan ini. Uji coba instrumen UKBI adaptif merdeka ini diharapkan dapat dipanduan dalam menentukan butir soal yang layak dan standar untuk instrumen soal-soal UKBI selanjutnya.
“Dampak paling akhir yang kami harapkan adalah masyarakat semakin mahir menggunakan bahasa Indonesia, berkualitas berbahasa nya dan ini kan para pengguna ini kan sesuai dengan profesi profesi nya tentu saja ini akan sangat bermanfaat bagi pemangku kepentingan yang menggunakan alat ukur UKBI ini menguji seseorang kualitas dalam menggunakan bahasa Indonesia,” ucapnya.
Sementara Koordinator UKBI Balai Bahasa DIY, Mulyanto menjelaskan ada 4 paket soal yang diujicobakan. Sebelum uji coba dilakukan, peserta mendapat pengarahan terkait teknisnya mengerjakan soal.
Mereka harus bisa melewati tujuh level hasil dari soal yang dikerjakan peserta. Namun, lanjutnya hasil yang didapat bukan menjadi patokan atau standar penilaian peserta melainkan menjadi masukan bagi Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangandan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Dalam kegiatan uji coba itu, seluruh peserta mengerjakan soal UKBI yang terdiri atas empat seksi, yaitu seksi I (mendengarkan), seksi II (merespons kaidah), seksi III (membaca), dan seksi IV (menulis).
“Peserta akan memperoleh butir-butir soal dengan bobot dan jumlah yang berbeda-beda tergantung tingkat kemahiran berbahasa peserta, dalam uji coba ini setiap peserta wajib menyelesaikan semua butir soal yang diberikan,” katanya.
Salah satu peserta uji coba UKBI yakni Suciati Ardini Pangastuti menyambut baik kegiatan seperti ini dikenalkan kepada berbagai profesi. Sebagai seorang penulis, ia menyebut memperoleh pengalaman dan ilmu baru terkait kaedah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
“Jujur ini pengalaman pertama saya mengikuti, saya juga jadi lebih tau tentang rambu rambu penulisan seperti apa, ini kan banyak jebakan jebakan (dalam soal) jadi harus teliti. Ini penting, kalau saya menilai sebagai nasionalisme bangsa. Jadi bahasa yang baik itu kan menunjukkan bangsa kita lebih martabat,” pungkas Ardini. (lan)












