bernasnews – Kini saatnya industri pariwisata nasional memasuki masa pemulihan sepenuhya. Terlebih ketika Presiden Jokowi mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 30 Desember 2022 dan pelaksanaan transisi dari pandemi ke endemi. Bagaimana kiat mendorong industri pariwisata?
Terkait dengan itu, buku berjudul Gunung Kidul The Next Bali karya Cyrillus Harinowo, dkk yang dibedah di Pendopo Budaya, Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 20 Agustus 2022 menjadi menarik. Sesuai dengan judulnya, buku itu menawarkan Gunung Kidul sebagai destinasi wisata yang patut diperhitungkan selain Bali.
Sejatinya, sejauh mana keunggulan wisata Gunung Kidul? Dari sekitar 59 pantai, baru 18 wisata pantai yang sudah terkenal. Kita sebut beberapa seperti pantai Indrayanti, Pok Tunggal, Timang, Siung, Wediombo, Sadeng, Ngobara, Baron, Kukup, Sepanjang dan Drini.
Faktor kunci keberhasilan
Kemudian, bagaimana mengembangkan industri pariwisata khususnya desa wisata di Gunung Kidul? Oleh karena itu, buku itu menawarkan aneka faktor kunci keberhasilan (key success factors) yang wajib dipenuhi.
Pertama, selama ini Provinsi DIY telah memiliki dua desa wisata yakni Desa Wisata Widosari, Kabupaten Kulon Progo dan Desa Wisata Tepus, Kabupaten Gunung Kidul yang menerima Anugrah Desa Wisata Indonesia dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada April 2022. Kedua desa wisata itu merupakan dua dari 50 desa wisata yang dipilih dari 500 desa wisata seluruh Indonesia.
Kedua, promosi menjadi faktor pendorong utama dalam menjual desa wisata. Perkembangan teknologi dan informasi (TI) berupa internet, youtube, google dan media sosial mampu mendorong promosi desa wisata menjadi lebih cepat sampai ke target pasar. Promosi pun dapat berupa aktivitas yang menarik masyarakat. Katakanlah, lomba naik sepeda sambil menikmati indahnya gunung kapur di Gunung Kidul.
Selama ini, bagaimana laju jumlah wisata ke Gunung Kidul? Data Badan Pusat Statistik, Gunung Kidul menunjukkan bahwa jumlah wisatawan (domestik dan manca negara) mengalami kenaikan 7,48% dari 3.040.095 orang pada 2018 menjadi 3.267.497 orang pada 2019.
Ketiga, infrastruktur sungguh menjadi faktor yang utama desa wisata. Infrastruktur dapat berupa jalan, jembatan dan penginapan hotel berbintang dan nonbintang.
Destinasi wisata Gunung Kidul amat potensial mengingat kabupaten itu termasuk pengembangan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) (Pansela). JJLS itu memanjang dari Kabupaten Lebak, Provinsi Banten hingga Banyuwangi, Jawa Timur.
Tak dapat disangkal lagi bahwa JJLS itu merupakan infrastruktur penting untuk mendorong perkembangan destinasi wisata Gunung Kidul. Jalur itu melewati bandara baru Yogyakarta International Airport yang membuat konektivitas ke Gunung Kidul kian lancar.
Artinya, Gunung Kidul yang telah memiliki bandara Gading wajib mengembangkannya menjadi bandara komersial. Transportasi yang memadai akan menjadi akses yang memudahkan wisatawan ke destinasi wisata.
Keempat, perlu pula dibangun jaringan listrik dan telekomunikasi yang lebih luas. Hal itu akan menjadi pendukung munculnya penginapan hotel berbintang dan nonbintang sehingga mampu memperpanjang waktu kunjungan wisatawan. Inilah tantangan berat Gunung Kidul.
Sesungguhnya, di Gunung Kidul telah terdapat beberapa destinasi wisata yang cantik. Sebut saja, Heha Sky View di Kapanewon Patuk, Gunung Kidul yang dapat dicapai 30 menit dari Kota Yogyakarta dilengkapi dengan tempat selfie, food stall dan restoran dengan harga makanan dan minuman yang terjangkau. Ditambah lagi spot foto Sky Ballon, Sky Plane, Sky Glass, Sky Swing dan Sky Garden.
Di kejauhan tampak Gunung Merapi. Demikian pula tampak pemandangan siang malam Kota Yogyakarta dari ketinggian di Gunung Kidul. Bukan hanya itu. Ada pula Heha Ocean View yang berada persis di pinggir laut pantai selatan dengan ombak yang indah dan tiada putus.
Destinasi wisata tersebut yang terletak di tebing dibangun mirip Lombad Street. Lombad Street adalah jalan yang merangkap sebagai taman yang terletak di Russian Hill dan Leaveworth Street di San Fransisco, Amerika Serikat.
Kelima, sesungguhnya, bank pun dapat mengembangkan desa wisata melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). CSR itu diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas efektif 16 Agustus 2007. Ayat 3 pasal 74 UU tersebut menitahkan bahwa perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi.
Kita ambil PT Bank Central Asia,Tbk atau BCA sebagai contoh bank yang telah aktif mengembangkan desa wisata di Gunung Kidul melalui CSR. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) terutama kaum muda (Karang Taruna) menjadi kunci utama keberhasilan. CSR bukan hanya 1-2 bulan, namun pengembangan desa wisata melalui CSR itu dapat berjalan bertahun-tahun.
Sebut saja, Wirawisata Goa Pindul di Kecamatan Karangmojo, Gunung Kidul sebagai salah satu contoh keberhasilan BCA dalam membimbing Karang Taruna. Wirawisata itu menjadi “unit bisnis” Karang Taruna setempat.
Keenam, namun hendaknya pengembangan pariwisata melalui CSR juga berpedoman pada pariwisata berkelanjutan yang meliputi pengelolaan keberlanjutan, keberlanjutan sosial ekonomi, budaya dan lingkungan. Hal itu tertuang pada Peraturan Kemenparekraf Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan efektif 7 Juli 2021.
Ketujuh, pemerintah daerah Gunung Kidul sudah semestinya meningkatkan alokasi anggaran pengembangan industri pariwisata. Sayangnya, anggaran begitu terbatas. Untuk itu, pemerintah daerah dapat mencari investor dalam dan luar negeri serta pelbagai lembaga lain termasuk bank papan atas untuk ikut menjadi sponsor pengembangan wisata.
Kedelapan, diperlukan pula deregulasi dengan merevisi UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Hal itu bertujuan untuk mampu mengantisipasi perubahan industri kepariwisataan dan kebutuhan pasar.
Buku Gunung Kidul, The Next Bali menegaskan bahwa tatkala aneka faktor kunci keberhasilan demikian telah terpenuhi, industri pariwisata nasional bakal semakin maju dan bahkan mampu memberikan kontribusi tinggi bagi produk domestik bruto (PDB). (mar/Paul Sutaryono, Pengamat Perbankan, Assistant Vice President BNI 2005 – 2009, Staf Ahli PPBI Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Selatan, Staf Ahli PSB Universitas Prof. Dr. Moestopo [Beragama], Jakarta Selatan)











