News  

Umat Santo Yusuf Sutopadan Kumetiran Suka Cita Berdoa Rosario

Sebagian umat Santo Yusuf Sutopadan, Kumetiran, Yogyakarta saat berdoa Rosario dan BKL bersama. (foto : Istimewa)

bernasnews –– Bulan Maria dan Bulan Katakese Liturgi (BKL) bagi umat Katolik merupakan sebuah momentum yang selalu dimaknai sebagai bulan untuk berdevosi secara khusus kepada Bunda Maria. Melalui Doa Rosario serta renungan-renungan iman dalam katakese liturgi umat diharapkan ikut mengalami peningkatan kualitas kehidupan rohaninya selaras dengan perkembangan zaman yang semakin maju. 

Bertepatan dengan periode peringatan 60 tahun Konsili Vatikan II (1962-1965), gelaran Gereja Sinodal yang diprakarsai Paus Fransiskus (2021-2023/2024), Keuskupan Agung Semarang (KAS) menghidupi Arah Dasar (ARDAS) VIII “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah”. Secara khusus tahun 2023 menyuarakan keyakinan pastoral : “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah: Bersatu dan Bersinergi demi Indonesia Damai”. Sri Paus mengajak seluruh umat beriman untuk menemukan keindahan dan kebenaran perayaan liturgi dalam rangka formasio liturgi umat Allah.

Umat Katolik Lingkungan Santo Yusuf Sutopadan, Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta pun turut ambil bagian bersama umat semesta dalam menjalankan Bulan Maria dan BKL selama satu bulan penuh sejak tanggal 1 Mei hingga 31 Mei 2023. Kegiatan ini diisi dengan renungan-renungan singkat tentang “Berliturgi dengan Penuh Sukacita Membangun Formasio Liturgi Umat”. Renungan singkat yang ditulis oleh 21 orang romo dalam sebuah buku panduan berisi berbagai cerita penuh variasi yang dapat menggugah umat untuk terus mengikuti dengan rutin selama 31 hari penuh. 

Umat Lingkungan Santo Yusuf Sutopadan yang terdiri dari berbagai profesi itu bergabung dalam kegiatan kerohanian tersebut untuk saling menyapa dan saling berbagi pengalaman baik itu pengalaman iman maupun pengalaman nyata dalam kehidupan yang semakin modern serta sarat dengan teknologi tinggi penuh tantangan.

Ketua Lingkungan Santo Yusuf Sutopadan Agustinus Heru Atmana mengatakan, umat satu lingkungan mengalami kerinduan untuk berkumpul secara rutin setelah mengalami era new normal pasca peristiwa Covid-19 beberapa tahun silam. 

Dia menambahkan, kegiatan rohani yang dilakukan bersama merupakan cermin guyub rukun, saling memiliki, dan turut bertanggungjawab sebagai insan sosial yang hidup dalam masyarakat dan insan satu iman dalam satu lingkungan (rumongso handarbeni, melu hangrungkebi, bahasa Jawa). 

Umat Lingkungan Santo Yusuf Sutopadan mengikuti Doa Rosario dan BKL dengan suka cita walau harus berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya dengan jarak paling jauh kurang lebih 1 km. Umat yang hadir setiap hari pada pukul 19.00 (Senin-Jumat) dan pukul 19.30 (Sabtu) berjumlah kurang lebih 45 orang sampai 70 orang. (mar/Yoseph Nai Helly, Umat Santo Yusuf Sutopadan, Kumetiran, Yogyakarta)