bernasnews — Cross Kunjungan adalah sebuah perjalanan batin dan kolaborasi guru–guru Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), sebagai ajang pertukaran pengalaman meraki (melakukan sesuatu dengan jiwa, kreativitas dan cinta, bahasa Yunani) dan kolaborasi dalam dan antarkomunitas. Acara ini diselennggarakan di Aula lantai 2 SD Negeri Klitren, Jalan Kemakmuran No.11, Klitren, Gondokusuman, Yogyakarta, Kamis (25/5/2023).
Dalam pertemuan ini dikemukakan, di GSM para guru saling berbagi, berkolaborasi hingga pada akhirnya memberikan makna dan berdampak, terlebih membangun kekeluargaan. Apapun kurikulumnya, apapun jenjang pendidikannya, yang terpenting dalam GSM adalah bagaimana kita memanusiakan manusia.
Hadir sebagai narasumber berbagi praktik baik itu adalah wakil GSM dari Supiori Papua Reynold Kbarek, S.Pd., dari Bali I Made Rasta, S.Pd., M.Pd.H., Founder GSM Muhammad Nur Rizal, Ph.D.
Semoga siswa senang di sekolah
Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Dikpora Kota Yogyakarta Mujino, S.Pd., M.Acc. pada kesempatan ini mengemukakan, menjadi keinginan kita bersama siswa-siswa kita menjadi enjoy, nyaman, dan senang itu terwujud. “Kami tidak ingin ada teman-teman kita yang merasa dibully, anak-anak kita yang merasa tidak nyaman, kita berharap semuanya menjadi nyaman. Orang tua tidak perlu memaksakan terlalu keras anaknya untuk belajar. Anak itu belajarnya ya main, karena anak di sekolah sudah full belajar belum lagi ada tugas PR yang menyebabkan anak stress dan menjadi tidak nyaman,” kata dia.
Dia berharap pula, semoga anak-anak kita bisa enjoy, bisa nyaman, dan tanpa adanya bullying apapun di sekolah. Semoga hal ini bisa terlaksana di setiap sekolah.
Kasi Kurikulum Dinas Dikpora Kota Yogyakarta Santo Mugi Prayitno, SP.d., M.Pd. menekankan pentingnya kecerdasan emosional dibandingkan dengan kecerdasan intelektual, karena orang yang merasa dimanusiakan itu lebih penting daripada dianggap pintar. Banyak orang pintar memiliki ide yang cerdas-cerdas, jebolan universitas-universitas, tetapi yang penting itu kecerdasan emosional karena bagaimana membangun hubungan dengan masyarakat.
Ketika guru datang ke sekolah dengan suasana hati murung, banyak pikiran, yakin pasti anak-anak itu sudah sedih karena gurunya sudah murung duluan. Jadi yang pertama dibangun adalah atmosfer pendidikan. Di sekolah menyengkan ini bagaimana mendapatkan atmosfer bahwa di sekolah itu menyenangkan, bahwa pendidikan itu adalah taman bermain bagi anak.
“Situasi yang menyenangkan itulah yang menjadi kunci utama bahwa pendidikan bisa masuk ke dalam karakter anak. Maka dari guru-guru semuanya saya menitip untuk mengajar anak dengan cara yang menyenangkan, dengan cinta dan dengan kasih,” kata dia.
Mau berubah
Guru dari Supiori Papua Reynold Kbarek, S.Pd. pada kesempatan ini mengemukakan, pertama dia mengikuti kegiatan progam dari Unesco dan melakukan evaluasi tetapi hasilnya tidak menyenangkan. Nilai dari anak-anak tidak sesuai dengan harapan guru-guru sehingga guru dianggap tidak dapat membuat nilai anak menjadi tinggi.
“Lalu kami mencoba progam GSM dan dari situ melakukan perubahan di sekolah. Jika dibandingkan dengna Jogja kami masih tertinggal jauh, tapi kami mau berubah dan membangun tranformasi linier yang berupa kekuatan bagi kami sampai saat ini,” kata Reynold.
Dia memberikan saran, untuk membangun fokus anak itu pertama-tama guru harus membangun dulu jiwa dari siswa murid-murid agar terciptanya fokus pada anak.
I Made Rasta, S.Pd., M.Pd. guru dari Bali mengatakan, kita mengajar manusia (anak) maka gunakan bahasa manusia. Manusia belajar menggunakan tata bahasa, manusia belajar mata hati maka dari itu seperti lagu Indonesia Raya bangunlah jiwanya.
“Banyak mindset mengajar yang tertutup padahal banyak cara mengajar yang bervarian seperti 2+2 = 4. Padahal untuk mencari jawaban yang sama tidak perlu menggunakan cara seperti itu, bisa saja 5-1 = 4. Inilah yang disebut mengajar dengan cara berbeda, tetapi hasilnya sama. Anak- anak kita itu adalah lilin yang cahaya-cahayanya adalah kemanusian yang berada di setiap orang,”kata dia.
Founder GSM M. Nur Rizal, Ph D. mengemukakan, Komunitas GSM didirikan guna mendorong setiap guru untuk melakukan pertemuan-pertemuan dan mendialogkan tentang persoalan-persoalan siswanya. Misal jika malas belajar itu bagaimana cara menyelesaikan, kalau siswanya ada persoalan-persoalan di rumah begitu bagaimana memberikan motivasi, dan jika siswa kesulitan belajar, teknik-teknik apa yang diberikan setelah itu agar lebih mudah belajarnya. Dengan begitu (pengalaman itu) dipertukarkan dengan harapan guru-guru saling mengisi. GSM juga melakukan beberapa kegiatan seperti Pendar dan TLC yang bertujuan untuk mendorong guru-guru bertemu membicarakan persoalan dan kemajuan sekolah.
“GSM ini adalah pendekatan yang ingin mengembalikan ajaran Ki Hadjar Dewantara agar sekolah menjadi taman bagi anak-anak itu hadir kembali di era modern. Ini yang menjadikan kebebasan bagi setiap individu agar bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi versi terbaiknya dan menjadikan anak-anak lebih kritis,” kata dia. (mar/Ricardo Marino, Mahasiswa Sosiologi UAJY)












