bernasnews – Taman Budaya Yogyakarta (TBY) akan menggelar pameran seni rupa koleksi lembaga ini bertajuk Kencan Nonton Wayang di venue TBY, Rabu (24/5/2023) – Rabu (31/5) pukul 10.00 – 20.00 WIB. Pembukaan pameran oleh Kepala Dinas Kebudyaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, (Rabu (24/5) pukul 19.00 WIB..
TBY adalah lembaga kebudayaan milik negara yang lahir dari rahim Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI pada 1978. Tugasnya untuk melaksanakan pengembangan dan pengolahan seni budaya daerah di setiap propinsi. Lembaga ini adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjenbud Depdikbud RI. Kini, dengan berbagai perubahan kebijakan, TBY menjadi UPT Dinas Kebudayaan DIY.
Sejak awal berdiri, TBY telah melakukan pengoleksian karya seni rupa. Tujuannya untuk mewujudkan Galeri Seni Rupa di TBY. Karya-karya yang dikoleksi diperoleh melalui pembelian dan pemberian (hibah) sejumlah perupa. Sampai saat ini telah terdata lebih dari 100 karya seni berupa lukisan, grafis, kriya dan patung.
Tim Kurator yang terdiri dari Dr. Mikke Susanto, M.A., Khoirul Anam, M.A., Lisistrata Lusandiana, M.Hum. menyajikan 60 karya seni rupa di dalamnya. Koleksi karya para perupa yang ditampilkan diantarnya Aming Prayitno, Amri Yahya, Askabul, Bagong Kussudiarjo, Djakaria Suriakusumah, Dyan Anggraini Rais, Eddy Sulistyo, Edhi Sunarso, Entang Wiharso, Fadjar Sidik, Genthong HSA., H. Harjiman, H. Widayat, Herry Wibowo, Ida Hadjar, I Made Wiradana, I Made “Toris” Mahendra, Ida Hajar.
Selain itu, juga ada karya Kelompok SR. Jendela (Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani, Yunizar, Yusra Martunus, Handiwirman), R.M. Djajengasmoro, Rais Rayan, Rusli, Saptoto, Soetopo, Subroto SM., Sulebar M. Soekarman, Suwaji, Syahrizal Pahlevi,Ugo Untoro, Yon Indra, Z. Teguh Suwarto, dan perupa lainnya.
Pameran hasil kerjasama TBY dan Prodi S-1 Tata Kelola Seni FSR ISI Yogyakarta ini setidaknya tergambar sebagai “sketsa” lanskap seni rupa modern (di) Yogyakarta dekade 1970-2000an. Dengan dasar ini, pendekatan kurasi yang digunakan bersifat kronik-estetik. Konsep yang memadukan antara kronologi kejadian yang ditopang dengan paradigma estetika setiap perupa pada masa-masa tersebut.
TBY telah berperan menjembatani peran seniman di mata masyarakat. Termasuk menaikkan pamor karya seni sebagai benda penting di arena publik. Melalui pameran koleksi yang kedua ini, diharapkan dapat menaikkan citra TBY, Pemda dan masyarakat DIY, hingga Indonesia di pentas atau pasar seni internasional. Karya-karya penting yang disajikan ini telah sepadan dengan tontonan klasik seperti wayang, gamelan maupun jenis seni tradisi klasik lainnya. (*/mar)












