Jika telah terpahat jiwa/ Memeluk rahasia tak terungkap/ Dia menari-nari di sudut hati/ Mengintai dengan mata nanar
Bisik gelap melintas pikir/ Menggigit menggoda ketidakpastian/ Juta tanya sahabat dan musuh terpahat/ Hati terpelanting di lautan keraguan
Mata selalu memandang samar/ Mencari petunjuk di balik senyum palsu/ Masuk lumpur labirin kebohongan/ Selalu terjadi kebenaran tersembunyi
Jika cinta tak perlu curiga/ Maka kasih adalah percaya di antara kita/ Biarkan kejujuran dan ketulusan berbicara/ Meluruhkan bentang dinding ketidakpercayaan
Jangan biarkan tanya membelenggu/ Beri ruang pada kesempatan bahagia dan keyakinan/ Biarlah cinta mengatasi kegelapan curiga/ Membawa sinar terang di setiap langkah perjalanan
(CURIGA, karya Oka Swastika, Jogjakarta 20 Mei 2023).
kau harus bertanya kepada kucing/ untuk tahu lezatnya daging tikus/ temuilah kucing liar/ yang tak bertuan/ yang berkeliaran bebas/ cari makan sendiri/ di alamnya
jangan bertanya kepada ular/ cara makanmu beda dengan ular
kau harus bertanya kepada koruptor/ untuk tahu lezatnya/ uang beraroma bangkai/ yang bisa membuat/ anak dan isteri tertawa lebar
kau harus bertanya/ kepada diri sendiri/ untuk tahu diri/ jangan bertanya/ kepada tikus atau ular/ atau koruptor
(TANYA KEPADA, karya Wisnudjati, japjog 09052020).
bernasnews – Sengaja tulisan ini diawali dengan dua puisi karya Oka Swastika (Curiga) dan Wisnudjati (Tanya Kepada), karena perjumpaan para penulis di Gedung Abhipraya, selatan nol Km Yogyakarta, Minggu (21/5/2023) itu bertajuk Syawalan & Bincang Karya Satupena DIY. Satupena DIY dengan tagline Tanpa Budaya Literasi, Jogja Tidak Istimewa dalam acara itu menghadirkan pembahas Simon HT dan Sutirman Eka Ardhana. Sebagai moderator adalah Hazwan Iskandar Jaya.
Syawalan ala Perkumpulan Penulis Indonesia ini memang berbeda. Karena selain saling bermaafan dengan bersalaman satu dengan lainnya, mereka mendapat menu bincang karya Satupena DIY. Dua puisi karya Oka Swastika dan Wisnudjati, satu diantaranya yang mengawali tulisan ini, dibaca oleh Manajer Program Gedung Abhipraya S Dhandi Demawan, Nunung Rieta, serta Oka Swastika dan Wisnudjati. Puisi-puisi itu, juga karya anggota lain, telah dimuat di WAG Satupena DIY.
Menurut Ana Ratri, acara ini ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Yakni syawalan, silaturahmi dan sinau bareng tentang kepenulisan khususnya karya sastra. Peserta dengan antusias mendengarkan pemaparan pembahas dan peserta lain dalam pertemuan lesehan dan suguhan pisang, kacang, dan aneka gorengan.
Menciptakan karya sastra khususnya puisi menjadi hak dan pilihan setiap orang khususnya penulis. Di masa lalu, untuk menjadikan sebuah karya termuat di media massa khususnya media cetak membutuhkan proses panjang dan belum tentu berhasil. Dibutuhkan seleksi ketat oleh redaktur. Kini, ketika karya sastra itu tercipta dan dirasakan menarik oleh penulisnya, maka dapat segera dipublikasikan di WAG komunitas sastra yang diikuti penulis. Karya sastra yang relatif cepat tercipta itu adalah puisi.
Apakah puisi itu dibutuhkan masyarakat atau tidak, menurut penyair Fausi Absal, tidak menjadi masalah. Tanpa pengakuan oleh siapa pun, karya puisi hendaknya tetap ada atau diciptakan. Puisi hendaknya multi dimensi dan memiliki energi kepada pembaca. Budayawan dan sastrawan Rendra memiliki kekuatan untuk menciptakan karya puisi yang multi dimensi itu.
Apakah berkarya sastra atau menulis secara umum itu memberikan manfaat finansial memadai bagi penulisnya? Eka Ardhana mengatakan, di masa lalu manfaat itu dapat dirasakan dan beberapa penulis top di tanah air telah menikmati rejeki menulis secara memadai. Namun saat sekarang, seiring dengan semakin berkurangnya media cetak yang dulu menyajikan halaman sastra budaya, apresiasi finansial bagi penulis koran juga berkurang.
“Dulu, ada penulis yang ketika berkarya harus nyepi ke suatu tempat agar memperoleh kelancaran ide tulisan. Kini stuasinya berbeda. Secara umum, menurut saya setiap penulis harus siap berkarya dalam suasana yang riuh, ramai. Artinya, menulis dalam riuh. Tetapi ini memang tidak gampang dan setiap penulis berbeda tradisi menulisnya,” kata Eka yan menjabat Ketua Satupena DIY dan telah berkarya banyak buku ini.
Simon HT dalam pembahasannya mengemukakan, posisi penulis atau penyair di mana dalam pergulatan di masyarakat dan dia mau apa. Ketika ada aksi korupsi dan maling ayam, dan penyair membahas dalam karyanya, ini bukan persoalan yang sederhana. Kasus korupsi BTS yang sedang ramai di media saat ini misalnya, ini persoalan politik atau penegakan hukum.
“Bagaimana puisi itu menampilkan realitas subyektif individual, realitas sosial dan realitas spriritual. Juga apakah puisi itu dapat bertahan lama dari sisi waktu. Ini perjuangan penulis dalam berkarya,” kata Simon.
Hazwan Iskandar Jaya kemudian memungkasi perbincangan ini dengan mengatakan, karya sastra pada dasarnya harus memenuhi fungsi rekreatif, fungsi keindahan dan fungsi moralitas.
Menurut rencana, pertemuan seperti ini akan diselenggarakan sebulan sekali dengan topik bahasan berbeda. (mar)
.












