bernasnews—Yogyakarta atau Jogja itu kata orang ngangeni atau membuat rindu untuk berkunjung. Bagi warga asli dan kemudian cukup lama pergi ke luar kota, suatu ketika akan merindu pulang. Demikian pula bagi mereka yang pernah belajar atau berwisata di kota ini, suatu saat juga akan merasa kangen.
Banyak cara dilakukan para pihak untuk mempromosikan, menyiapkan, melayani dan berharap suatu ketika para wisatawan kembali ke Jogja lagi. Salah satu pihak itu adalah Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Selain berpromosi secara online maupun bentuk yang lain, kantor ini juga masih menerbitkan leaflet.
Selebaran memanjang yang terbagi dalam enam halaman berwarna untuk publikasi singkat itu bertajuk Kangen Jogja. Pada edisi 1/2023, leaflet ini menyajikan laporan Jogja Esperience Tourisme. Ada workshop ecoprint, gowes Monalisa, jamu kampung herbal Rejiowinangun, kerajinan perak Kotagede, dan jemparingan gaya Mataram.
Kangen Jogja edisi II/2023 menyajikan Wisata Malam Kota Jogja yakni kuliner malam Pasar Kranggan, Jalan Prawirotaman, Jalan Margo Utomo, wisata malam Kawasan Kotabaru, dan kuliner malam Alun-Alun Utara.
Kemudian Kangen Jogja edisi III/2023 menyajikan Kampung Wisata Jogja yakni kampung wisata Purbayan, kampung wisata Warungboto, kampung wisata Dewo Bronto, kampung wisata Rejowinangun, dan kampung wisata Kali Gajah Wong.
Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Husni Eko Prabowo, S.E., M.I.P. mengemukakan, senantiasa bersikap ramah terhadap wisatawan yang datang ke Jogja akan sangat membantu rasa senang atau kerasan dalam berwisata. “Ya, harapannya lama tinggal wisatawan di kota ini meningkat dan suatu ketika nereka mau kembali lagi ke Jogja,” kata dia ketika menerima kunjungan siswa peserta ekstrakurikuler jurnalistik SMA BOPKRI 2 Yogyakarta, Rabu (17/5/2023).
Sejak Kerajaaan Mataram
Kampung wisata Pakualaaman memiliki sebuah paket wisata menarik bagi wisatawan yang hobi olahraga memanah. Wisatawan dapat mencoba berlatih jemparingan Gaya Mataram yakni olahraga panahan tradisional sejak dari zaman Kerajaan Mataram yang menggunakan pakaian tradisional Jawa dan dilakukan dengan duduk bersila.
Bagi wisatawan yang ingin mencoba aktivitas jemparingan akan disediakan busur dan anak panah, baju pranakan dan jarik, serta pemandu yang mengarahkan cara serta aturan permainan dalam jemparingan.
Wisatawan yang ingin menikmati kuliner di malam hari dengan suasana Jogja dapat mencoba mengunjungi kuliner di sebelah timur Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta yang dibuka mulai sore hingga larut malam. Berbagai kedai untuk bersantai dengan ragam menu mulai dari yang ringan hingga makanan berat tersedia. Ditemani suguhan live music di area terbuka yang nyaman untuk menampung cukup banyak orang yang berkunjung. (mar)












