News  

Peringati Hari Pendidikan Nasional, KFM Gelar Baksos Di TK Kanisius Siswa Siwi Muntilan

Pengurus dan anggota Kebaya Foundation Magelang (KFM) foto bersama dengan Kepala Sekolah, Guru, dan murid TK Kanisius Siswa Siwi, Muntilan, Selasa (2/5/2023). Foto: Istimewa.

bernasnews — Kebaya Foundation Magelang (KFM) kembali menggelar kegiatan bakti sosial dalam rangka peringati  dan memeriahkan Hari Pendidikan Nasional, bertempat di Sekolah Taman Kanak-kanak Kanisius Siswa Siwi, Jalan Sleko, Sedayu Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (2/5/2023).

KFM tergerak kunjungi TK Kanisius Siswa Siwi yang memiliki murid sejumlah 30 anak lantaran keberadaan gedung sekolah posisinya lebih rendah dari jalan raya, sehingga ketika hujan lebat maka halaman sekolah akan kebanjiran.

“Akibat dari banjir itu air masuk ke kelas – kelas dan ruangan kantor. Banyak fasilitas sekolahan yang kemudian rusak, hanyut serta hilang. Mainan anak anak, meja kursi, almari, hasil karya siswa dan lain lain mengalami kerusakan,” kata Alexa Hersi, Ketua Kebaya Foundation Magelang, dalam keterangan.

Selain itu, lanjut Alexa Hersi menambahkan, sekolah TK Kanisius Siswa Siwi sebagian wali orang tua mueridnya dari masyarakat menengah kebawah, termasuk sekolahan yang perlu banyak dukungan, perhatian dan bantuan pendanaan.

Sementara Kepala Sekolah TK Kanisius Siswa Siwi Irene Rista Widiasih, S.Pd mengemukakan, bahwa anak – anak menaruh harap dan impian, ingin punya alat musik yang bisa digunakan guna menunjang pembelajaran berkesenian.

“Hadirnya Kebaya Foundation Magelang dengan membawa mainan, alat musik angklung, sejumlah pakaian kebaya, dan lain-lain untuk anak – anak, kami merasa terharu dan mengucapakan terima kasih yang tak terkira,” ungkap Irene, yang didampingi guru Fransiska Yuppy Maharani.

Dipilihnya alat musik angklung karena sekolahan ingin wujudkan impian siswa dan para pendidik untuk bisa bermain ansambel musik sekaligus mengenalkan alat musik tradisional itu sebagai edukasi melestarikan seni tradisi bangsa sendiri sekaligus merawat budaya.

Bermain musik angklung dengan memadukan alat musik lain dari barang bekas untuk dijadikan alat perkusi alternatif akan menjadi bentuk kreasi tersendiri, yang diharapkan bisa memancing kreatifitas pada anak. Kami melihat anak anak terlihat bahagia mendapatkan itu semua. Dengan pengenalan angklung ini kami juga bisa mengenalkan kepada anak – anak bagaimana memanfaatkan bambu yang ada di sekitar sekolah bisa diolah sebagai bahan utama pembuatan angklung.

“Tentu saja kami akan mengundang ahli pembuat angklung untuk menentukan bentuk, komposisi suara dan sebagainya. Semoga anak didik kami dapat menjadi anak yang sukses di masa depannya,” tandas Irene.

Di akhir kegiatan bakti sosial tersebut, Ketua KFM Alexa Hersi mengungkapkan, merasa bangga kepada para pendidik di sekolah tersebut yang dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya tetap terus mendidik dengan sebaik mungkin, mencipta kreasi dalam menjalankan tugasnya dan dengan kesabaran yang penuh tanggung jawab.

“Kami juga berharap selalu ada lembaga – lembaga swasta maupun instansi pemerintah untuk lebih peduli dengan kondisi sekolahan yang seperti ini,” ujarnya. (*/ ted)