bernasnews – Menandai usia lima tahun, Komunitas Literasi Yuk Belajar Menulis (YBM) memberikan YBM Award kepada lima pegiat literasi. Mereka adalah CV Gema Godam Grafika yang diterima Drs. Praba Pangripta, praktisi kesehatan dr. Asdi Yudiono, serta tiga orang pendidik yakni Nisem, S.Pd., Dra. Nurhidayati, M.Pd., dan Susy Ernawati, M.Pd.
Pemberian award dilakukan oleh ketua komunitas Y.B. Margantoro dalam pertemuan di kawasan Jalan P. Diponegoro, Yogyakarta, Senin (17/4/2023). Hadir sejumlah pegiat literasi dari berbagai profesi, mulai dari pendidik, pustakawan, dokter, mahasiswa sampai ibu rumah tangga.
Selain pemberian award, juga dilaksanakan peluncuran dua buku bertajuk Persembahan Literasi Guru dan Untaian Kusuma Bangsa karya penulis Majalah Literasi Guru (Maligu), pemberian hadiah pemenang lomba menulis, dan syukuran.
Pemenang lomba menulis Maligu adalah Henny Sri Rantauwati, M.Pd., Ratna Sekarsih Datrie, Juan Suarez, dan penghargaan khusus Yoseph Nai Helly, S.SiT., M.A.
Y.B. Margantoro dalam sambutan singkat menyampaikan syukur dan terima kasih atas kebersamaan para pegiat literasi di Komunitas YBM. Dengan semangat kekeluargaan, anggota tekun dalam proses belajar dan berkarya bersama.
Penerima award dr. Asdi Yudiono pada kesempatan ini menceritakan pengalaman uniknya dalam berkarya tulis. Dia hampir selalu menulis di sela-sela perjalanan darat maupun udara ketika ke luar kota atau ke luar negeri. Naskah tulisan kemudian diproses lanjut dan dikirim ke media atau penerbit buku.
“Menulis itu indah, menyenangkan, dan bermakna. Saya lebih semangat menulis sekarang. Mari kita olah gagasan, pengamatan, pengalaman kita yang beragam dalam karya tulis. Lalu tulisan itu kita kirim ke media atau penerbit. Kita akan memiliki karya monumental yang berharga,” kata dr. Asdi yang mengelola Klinik Intan Yogyakarta serta menjadi mitra Maligu dan bernasnews Digital Academy (bDA) ini.
Puisi YBM
Meski tidak dibacakan secara langsung, Kepala Perpustakaan STPN Yogyakarta Yoseph Nai Helly menulis puisi berjudul YBM di acara tersebut.
Puisi itu tertulis begini : Di kala sepi/ tak usah ragu kawan, tak perlu risau sobat,/ tak perlu bingung/ tentang hidup ini.
Kita masih saja bergelut dengan cerita lisan,/ kita kehilangan identitas./ Kita kehilangan jati diri.
Sebelum kita sirna,/ sebelum kita raib,/ sebelum kita kaku,/ sebelum raga kita tak berdaya.
Mari kita ubah tradisi lama,/ kita tulis pengalaman kita,/ kita tulis apa yang kita tahu,/ kita tulis apa yang kita bisa.
Yuk Belajar Menulis.
Menulis,/ membuat otak kita cerdas,/ jiwa kita semakin bijaksana,/ kata-kata kita tak akan punah.
S’bab,/ Menulis itu,/ ekspresi jiwa,/ menulis itu menjauhkan diri dari kepikunan,/ menulis itu pekerjaan peradaban.
Seusai beberapa agenda HUT ke-5 Komunitas Literasi YBM itu, pertemuan dilanjutkan dengan buka bersama dan ramah tamah. (mar)












