News  

Refleksi Pertemuan Satupena DIY : Matinya Seorang Penulis

Pengurus dan Anggota Satupena DIY dalam pertemuan di Padepokan Lereng Merepi, Sleman, DIY, Minggu (9/4/2023). (Foto : Rakhmat Supriyono - Satupena)

bernasnews — Pertemuan rutin Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena DIY di tengah bulan suci Ramadan kali ini dirangkai dengan buka bersama dan berjamaah shalat Mahgrib di Padepokan Lereng Merapi, Sleman, DIY, Minggu (9/4/2023). Dalam pertemuan itu, dibicarakan rencana workshop untuk guru SMP dan SMA. Hal ini dimaksudkan agar sastra meluas di tengah masyarakat sejak usia remaja. Sebab sastra menghaluskan budi manusia. 

Acara dibuka oleh Asmariah dengan membacakan puisinya. Di sela acara, Sabatina membaca puisinya, juga Sutirman Eka Ardhana, penyair senior muridnya Umbu Landhu Paranggi, Presiden Malioboro. Separuh hidupnya, Sutirman adalah seorang penulis. Disusul kemudian Prof. Arif Kusumawanto, dari Fakultas Teknik UGM Yogyakarta. 

Puisi Prof. Kusuma mendapatkan tepuk tangan yang meriah. Ia dikenal sebagai penulis buku-buku Arsitektur Hijau, yang tidak pernah menulis karya sastra. Denok Kristianti, penyair yang telah memenangkan banyak penghargaan sastra dalam dan luar negri menilai puisi Profesor bagus. Dia minta puisi itu segera dikirim ke grup untuk dimuat. Komentar lain yang senada dilontarkan dalam forum menjelang berbuka puasa sore itu. 

Menanggapi komentar itu, Prof. Kusuma mengatakan, puisi itu baru saja dibuat beberapa menit yang lalu oleh AI (Artificial Intelegen) melalui aplikasi Chat.Openai.com yang dapat diakses siapa saja di seluruh dunia. 

Katakanlah, secara mentah-mentah, puisi itu karya robot buatan manusia yang siap setiap saat disuruh bikin puisi tentang apa saja, kapan saja, 24 jam sehari sepanjang tahun.

Walau pun robot itu membatasi data dalam dirinya hanya sampai 2021, namun data yang ada padanya jauh lebih banyak dari penulis mana pun di dunia. Sebab dia adalah mesin besar. Tidak hanya puisi, kita dapat menyuruhnya membuat esai dan cerpen. Atau berbagai bentuk tulisan lainnya tentang apa saja.

Mau tak mau, suka tak suka rencana workshop penulisan satra Satupena DIY untuk guru harus dipikirkan ulang. Terutama tentang isi, metoda, dan tujuan pokok dalam workshop tersebut. Apakah dapat karya AI diklaim sebagai karya manusia pemesannya? 

Apa yang membedakan karya manusia dan karya AI? Mana lebih unggul, karya AI dibanding karya penulis manusia? Apakah metoda-metoda pendidikan sastra konvensional selama puluhan tahun ini harus berubah? Perubahan apa yang harus dibuat untuk mengantisipasi kecerdasan AI dalam menulis? 

Bagaimana kritikus, atau juri lomba sastra harus menilai sebuah karya sastra atau karya tulis? Apakah kurikulum sastra di sekolah harus berubah? Bagaimana perubahannya dan kapan? Serta siapa yang akan mengubahnya? Dengan AI apakah seorang penulis telah mati?  Dan seterusnya, dan sebagainya.

Adzan Maghrib kemudian menghentikan perbincangan kami yang baru mulai, dan kami berbuka bersama.  (mar/Kamerad Kanjeng, Pengurus Satupena DIY)