bernasnews — Sampah, sampah, dan sampah adalah sesuatu yang menurut banyak orang merupakan barang kotor dan perlu dihindari. Namun tidak bagi wanita ini. Dia justru mengumpulkan sampah-sampah untuk diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan keberlangsungan kehidupan makhluk hidup.
Sosok ini adalah Maria Imelda Prawesti, seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang putra. Mbak Esti demikian dia dipanggil merupakan aktivis ekologi di Gereja St. Theresia Bongsari Semarang. Saat ini Mbak Esti tinggal di Jalan Kumudasmoro Dalam III No. 11 RT 3 RW 5 Bongsari, Semarang.
Baginya sampah adalah tanggung jawab kita sebagai konsumen. Menurut perempuan yang memiliki motto hidup Slow living dan hidup dalam semangat Laudato Si ini sudah seharusnyalah sampah diolah sejak dari sumbernya. Pembuangan sampah ke TPS/TPA hanyalah pengalihan masalah, dan bukan solusi untuk menangani sampah.
Ketertarikannya mengelola sampah dimulai sejak masa Pra Paskah tahun 2015. Hal itu bermula karena pada tahun 2015, saat usianya memasuki 40 tahun, ia ingin berhenti bekerja dan ingin totalitas mendalami profesi sebagai ibu rumah tangga. Walaupun pada akhirnya ia benar-benar berhenti bekerja pada tahun 2018. Mbak Esti merasa bahwa hingga umur 40 tahun, ia selalu bekerja dengan ritme kerja yang padat. Karena terbiasa berpikir tentang banyak hal dan juga dengan ritme bekerja yang tinggi, maka ia merasa harus memiliki fokus dan objek cinta yang baru setelah berhenti bekerja. Hingga kemudian dari media sosialnya, Mbak Esti mengenal beberapa sosok yang menggiringnya untuk menjadikan bumi sebagai objek cinta dan fokusnya yang baru.
Fokus dan objek cinta yang ditemukannya adalah mengelola sampah/limbah. Sejak saat itu, Mbak Esti di sela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga mulai mengelola sampah. Hal itu dimulai dengan mengkoordinasikan bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam rumah dalam arti membeli sesuatu harus benar-benar digunakan dengan tepat, sehingga bisa meminimalisasikan sampah/limbah. Lalu apa pun limbah yang keluar dari rumah adalah aman untuk dikembalikan ke alam.
Apa pun limbah/ sampah yang dihasilkan dari rumahnya, sebisa mungkin diolahnya terlebih dahulu. Sampah yang dikelolanya adalah sampah organik, sampah anorganik, limbah air, bahkan ia pun menampung air hujan yang sering dianggap sebagai sampah dan dibuang begitu saja. Tampungan air ac pun tidak dibuang karena masih bisa digunakan.
Yang dilakukannya dalam mengelola sampah adalah sampah organik dimasukkan komposter untuk dijadikan pupuk padat dan pupuk cair, dibuat eco enzyme, bisa juga dimasukkan ke dalam lubang biopori. Sampah anorganik dibersihkan lalu dipilah menjadi sampah plastik lunak dan single lyer. Setelah dipilah kemudian dikirim ke UDINUS untuk digunakan sebagai bahan pembuatan aspal dan paving. Sampah plastik double lyer, single lyer keras yang tidak bisa dirongsokkan dikirim ke Dumask UGM Yogyakarta. Kardus, plastik yang bisa dijual, kertas, elektronik dititipkan kepada tukang rongsok.
Dalam mengelola sampah-sampah tersebut Mbak Esti bekerja sama dengan UDINUS Semarang dan Dumask UGM Yogyakarta. Dan ia berharap dari kegiatan pengelolaan sampah tersebut akan menular ke banyak umat dan warga, sehingga kita bisa bekerja sama untuk mengurangi beban TPA.
Agar kegiatan tersebut semakin nyata di tengah umat dan warga, Mbak Esti pun tergabung dalam berbagai komunitas di antaranya Tim Kerja Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup Gereja Bongsari, Komisi Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Kevikepan Semarang, bidang pelayanan kemasyarakatan khususnya timja KCLH. Mbak Esti merasakan bahwa dengan bergabung dalam suatu komunitas dan berjejaring berarti kita bisa menularkan virus merawat bumi kepada lebih banyak orang.
Pengalaman dalam mengelola sampah/limbah tersebut sudah dibagikannya kepada umat Paroki Bongsari saat ia berkegiatan sebagai bagian dari Tim Kerja Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup Gereja Bongsari, Tim di bidang pelayanan kemasyarakatan khususnya Timja KCLH, kerasulan awam saat berkegiatan dalam lingkup Komisi Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Kevikepan Semarang. Tak lupa dibagikan juga kepada kaum muda lintas agama dalam lingkup kegiatan bersama mereka. Menurutnya kegiatan-kegiatan pengelolaan sampah perlu dibagikan karena bumi adalah rumah bagi banyak makhluk sehingga kita tidak bisa merawat sendirian
Meski demikian tak jarang Mbak Esti mengalami kesulitan dan kendala yang cukup berarti saat mengelola sampah. Kesulitan yang dialami di rumah adalah ia masih harus memilah sampah sendiri. Sedangkan anggota keluarga lainnya masih berjalan sesuai instruksi sesaat. Dia menyadari bahwa harus sabar dalam memberikan teladan. Ketika mulai masuk dalam Tim Kerja Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup, kendala yang dihadapi adalah masih rendahnya wawasan dan minat umat juga para pihak dalam lingkup gereja, tentang pentingnya merawat bumi.
Namun kesulitan itu tidaklah membuatnya menjadi patah arang, karena Mbak Esti mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Bentuk dukungan keluarga adalah dengan membiarkan ia berbuat apa pun terkait pengolahan sampah. Mereka tampaknya diam, tetapi mereka mengamati dan kelak pasti akan merasakan manfaat yang sama.
Dari kegiatan pengelola sampah tersebut ternyata ia menemukan nilai-nilai yang sangat berarti. Nilai-nilai tersebut adalah ia memiliki filosofi baru tentang memandang bumi sebagai rumah kita bersama. Bahwa tidak seharusnya kita hanya bebersih dan beberes serta menjaga keasrian rumah tempat tinggal kita saja, namun juga melihat dan menjaga keasrian bumi secara menyeluruh, karena segala penjuru bumi itu saling terhubung. Dan hendaknya bumi kita jaga dan kita rawat bersama. Jadi tidak hanya rumah tempat tinggal kita saja yang kita pikirkan.
Mbak Esti memberikan pesan kepada kita semua agar kita mengelola sampah dalam rumah kita masing-masing dan mengurangi beban TPA. Karena sejatinya TPA hanyalah tumpukan masalah dari berbagai penjuru yang belum bisa tertangani. Bahkan potret TPA kita saat ini sudah seperti septiktank raksasa. Bukan hanya sampah organik dan anorganik di sana, tetapi bahkan kotoran manusia pun ada di sana. Virus berpotensi besar tumbuh dan berkembang biak di sana.
Dan pada akhirnya kita jugalah yang menjadi sasaran virus-virus tersebut. Marilah mulai sekarang kita peduli pada bumi kita dan keberlangsungan hidup anak cucu kita nanti. (zbd/ Maria Anna Dwi Tjahjarini, SMP Maria Mediatrix Semarang)












