bernasnews –Salah satu nilai keutamaan yang dapat dipetik dari sajian Wayang Orang Tenaga Kesehatan Bahagia FK-KMK UGM Yogyakarta bertajuk mBangun Pertapan Saptaharga adalah mereka tidak melupakan tempat belajar dan para gurunya. Ini sebagai wujud penghormatan dan terima kasih murid-murid Pertapan Saptaharga.
Pentas wayang orang dengan dalang Wigung Wratsangka ini dilaksanakan di halaman Gedung Tahir fakultas setempat, Sabtu (4/3/2023) malam. Pentas Ini sebagai puncak acara temu alumni FK-KMK UGM dan sekaligus dies natalis ke-77 yang dilaksanakan oleh Alumni Angkatan 1986.
Dibuka dengan tari Sampur Kuning, wayang orang yang melibatkan 30-an alumni FK-KMK UGM Yogyakarta termasuk Ketua KAGAMADOK Hasto Wardoyo sebagai Semar, pada adegan pertama menampilkan suasana di keputren. Kisah di sini menunjukkan pembangunan dan persiapan ulang tahun ke-77 Pertapan Saptaharga.
Pada adegan goro-goro dengan penampilan Punakawan dan istrinya mengasuh Raden Priyambodo dari Pertapan Ndederpenyu yang mencari ayahnya bernama Arjuna. Di sini ditampilkan visual videotron Semar browsing Mustakaweni dan terjadinya angin puting beliung.
Adegan berikut adalah perjalanan menuju Saptaharga. Merasa sebagai siswa Saptaharga, anak-anak Pandawa siap membangun Pertapan Saptaharga.
Kemudian suasana di Saptaharga, Abiyasa dan Bhisma memberikan wejangan atas ilmu yang selama ini telah diperoleh dari Pertapan Saptaharga serta pendapat para Pandawa tentang Pertapan Saptaharga.
Di antara berbagai adegan menarik perpaduan seni tradisional, modern dan sentuan teknologi melalui tayangan visual videotron, ada saat Priyambodo kasmaran dengan Mustakaweni. Saat sedang kasmaran itu, jimat Kalimasada diserahkan ke Petruk. Oleh anak Semar ini, jimat disalahgunakan untuk mencari kekayaan, kedudukan dan kehormatan.
Para pemain wayang orang ini adalah C. Krismini, Ida Safitri Laksanawati, Alida Lienawati, Christanti Effendy, Sri Awali Febriana, Shintab Restu Wibawa, Maria Silvia Merry, Agung Widianto, Prabata, Hasto Wardaya, Suyanto, Abdul Gofir, Darwito, Yanri Wijayanti Subronto, Ita Ostawati, Josephine Julian, Novita Krisnaeni, Budi Yuli Setianto.
Kemudian Benny Trisaktyari, Ahmad Faesol, Bima W Nugraha, Tri Baskoro T. Satoto, Untung Gunarto, Feliks Duwit, Nur Arfian, Hardyanto Soebono, Tri Wibawa, Yodi Mahendradhata, A Budi Sulistya, Dwi Heri Susatya, Suhardjanto, Hanggoro Tri Rinonce, dan ki dalang Wigung Wratsangka.
Mereka tampil dengan penuh semangat, percaya diri, lucu, komunikatif dan memberi pesan-pesan bermakna. (mar)











