Dwi Windu Lumpur Lapindo, Dalam Musibah Tentu Ada Berkah

Semacam gerbang masuk wisata Lumpur Lapindo, jadi tempat favorit untuk berfoto oleh pengunjung. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

bernasnews — Di balik sebuah musibah tentu ada berkah, begitu petuah bijak yang diyakini banyak orang. Seperti kejadian fenomena alam yang disebabkan oleh ulah manusia, 16 tahun lalu di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo dan Desa Jatirejo Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Wilayah yang juga sering disebut sebagai kota udang dan mempunyai semboyan ‘Permai Bersih Hatinya’ itu mengalami musibah berupa banjir keluarnya lumpur dari perut bumi akibat pengeboran untuk penambangan oleh sebuah perusahaan terbatas milik seorang konglomerat Indonesia, pada tanggal 29 Mei 2006.

Tragedi lumpur Lapindo disebutnya, telah menelan jiwa 17 orang dan kerugian dari dampak meluapnya lumpur yang kekinian pun belum berhenti menurut sumber hingga mencapai Rp 45 Trilyun. Berdampak cukup besar bagi masyarakat Jawa Timur.

Semua sektor terutama di wilayah Porong dan sekitarnya, bahkan sebagian ke wilayah kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Wilayah yang terdampak adalah dari Porong, Jabon, Tanggulangin, dan sebagian Gempol. Termasuk jalan tol yang melintas di atasnya di putus juga 2 sutet yang berada di tengah lokasi Lumpur Lapindo sudah tidak dioprasikan lagi.

Pengunjung dari Jogja saat melintas di jalan raya menyempatkan untuk melihat secara langsung genangan lumpur Lapindo. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

Bagi yang kali pertama berkunjung ke Sidoarjo atau melintas wilayah terdampak, kebanyakan ingin melihat menyaksikan fenemona genangan lumpur bak danau lumpur. Hal inilah yang kekinian mendatangkan berkah bagi sebagian orang yang mencoba mengkais rejeki di tempat ini.

Berdasar pengamatan bernasnews, beberapa waktu, lalu tanggul Lumpur Lapindo setinggi kurang lebih 10 meter, di sepanjang Jalan Raya Porong Sidoarjo dibuat semacam ‘wisata’ lumpur.

Pungunjung yang naik ke atas tanggul dipungut Rp 10.000 per orang tanpa disertai bukti tiket masuk seperti tempat wisata pada umumnya. Sementara, di atas tanggul juga telah siap beberapa warga setempat yang menjual jasa sebagai ojek untuk memandu mengelilingi danau lumpur.

Di lokasi itu pengunjung selain pemandangan hamparan lumpur, juga bisa berswa foto di papan peringatan yang menyatakan wilayah ini berbahaya atau monument yang dibikin oleh warga sebagai peringatan terjadi tragedy lantaran ulah manusia atas nama eksplorasi dan eksploitasi alam dengan semena-mena. Pingin berkunjung? (nun/ ted)