bernasnews — Jogja memang istimewa banyak predikat disandangnya, salah satunya adalah sebagai tujuan wisata kuliner. Banyak ragam jenis makanan dan minuman tradisional yang sangat khas tersaji di resto-resto maupun di lapak-lapak kios kaki lima maupun pasar tradisional.
Salah satu minuman tradisional yang masih mudah dijumpai dan tetap eksis adalah minuman segar dawet. Siapa yang tidak kenal minuman segar dawet? Bisa dipastikan hampir semua orang mengenal apa itu dawet. Terlebih dalam sebuah lagunya sang maestro campursari almarhum Didi Kempot juga mempopulerkan cendol dawet.
Dawet adalah minuman yang dibuat dari campuran sirup dari gula aren (gula Jawa), santan kelapa, dan cendol yang berbahan dari pati atau beras. Minuman dawet sudah tak asing lagi di telinga kita. Hampir di setiap daerah pasti ada dawet dengan banyak varian rasa dan harga.
Ada yang berbeda dengan es dawet legendaris Pak Slamet Sonosewu, dibanding dengan es dawet lainya. Selain harga yang murah, cita rasa dari es dawet ini dari dulu selalu konsisten tidak berubah sama sekali. Harga dawet buatan Pak Slamet ini dibandrol Rp 2.000 per mangkoknya. Tak heran jika setiap hari rata-rata mampu menjual 500 mangkok, tinggal hitung berapa omset penjualannya?
Bapak berusia 67 Tahun ini sudah 47 Tahun menjalankan usaha berjualan dawet. Pak Slamet memulai usahanya pada tahun 1975 di Kulon Progo, saat itu dengan harga Rp25 untuk satu porsi mangkok dawetnya. Kemudian pada tahun 1982 memutuskan untuk pindah ke Sonosewu, dekat Kampus UPY atau tepatnya di Jalan Sonosewu, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY.
Setiap hari Pak Slamet berjualan mulai pukul 10:00 – pukul 13:30 WIB. Bapak 5 orang anak ini tidak sendiri dalam menjual dawet, setiap harinya ia ditemani Bu Ijah (67 tahun) istrinya, serta 2 orang anaknya yakni, Mbak Yuni (35 tahun) dan Mbak Lastri (38 tahun). Dari hasil berjualan dawet selama 47 tahun ini Pak Slamet mampu membesarkan kelima anaknya, hingga saat ini mereka sudah memiliki keluarga masing- masing.
Kendati demikian Pak Slamet enggan untuk beristirahat di hari tuanya. Ia masih ingin tetap meneruskan bisnisnya tersebut. Karena dia belum siap meninggalkan bisnis dawet yang sudah dirintisnya sedari nol.
Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari Pak Slamet ini, yaitu kegigihan dan ketekunan dalam membangun suatu usaha yang pastinya telah melewati fase jatuh bangun dalam perjalanannya. Namun ia tetap yakin dan memegang teguh prinsipnya.
Pak Slamet tidak takut kalah saing dengan dawet-dawet lainya yang tampil secara moderen. Hal itulah, yang menjadikan usahanya semakin maju, semakin dikenal banyak orang dan unggul dari dawet dawet lainya. (Nathalia Ellok Bp, Mahasiswi ASMI Santa Maria Yogyakarta)












