Bikin Nagih, Lezatnya Kue Coro Bikinan Mbah Kalim

Sosok Mbah Kalim penjual Kue Coro, yang telah 40 tahun menekuni profesinya sejak tahun 1981. (Foto: Kiriman Junitaputri)

bernasnews – Jenis kudapan tradisional di Jogja, banyak ragam dan cita rasanya bagian dari produk budaya yang istimewa. Salah satu jenis kudapan tradisional yang masih eksis hingga kini dan perlu untuk dilestarikan adalah Kue Coro (Coro dibaca seperti Malioboro, red).

Kue Coro ini merupakan jajanan tradisional berbentuk seperti bunga yang mekar, berbahan dasar tepung beras dan santan. Kue ini memiliki tekstur lembut, biasanya ditambah dengan cita rasa harumnya daun pandan. Terasa lebih nikmat jika disajikan masih hangat keluar dari cetakkan.

Mbah Kalim merupakan salah satu penjual Kue Coro, yang menjajakan dengan cara benar-benar masih tradisional. Ia memasak dengan menggunakan tungku berbahan bakar kayu, serta beralaskan daun pisang untuk meyajikannya.

Mbah Kalim saat melayani pembeli Kue Coro di lapaknya yang cukup sederhana di bilangan Jalan Sosrowijayan, Kota Yogyakarta. (Foto: Kiriman Junitaputri)

Mbah Kalim menekuni profesi sebagai penjual Kue Coro telah 40 tahun lamanya, tepatnya sejak tahun 1981. Berawal dari meneruskan usaha dari kakaknya. Meski usianya tidak muda lagi, Mbah Kalim masih semangat untuk berjualan. Perempuan berusia 75 tahun ini merupakan sosk ibu hebat dari 7 orang anak.  Anak yang 2 sudah meninggal, sedangkan yang 5 ada yang bekerja di swalayan dan ada yang buka usaha laundry.

Setiap harinya Mbah Kalim jualan mangkal di Jalan Sosrowijayan, Kota Yogyakarta. Tepatnya di depan Hotel Grage Jogja, jualan dari pagi pukul 06:00 WIB hingga dagangannya habis. Semua bahannya masih baru dan dimasak sejak pukul 03:00 WIB pagi. Jadi Kue Coro ini dapat dimakan di sore hari, dengan syarat kue dikukus terlebih dahulu sebelum dinikmati.

Kue Coro buatan Mbah Kalim dibandrol Rp 1.000 per bijinya. Setiap hari ia bisa membuat adonan sekitar 5 kilogram, dengan menghabiskan 8 sampai 10 butir kelapa. Sebelum jualan mangkal di tempatnya sekarang, ia berjualan di Pasar Ngebuk, Kemetiran. Karena sudah nggak kuat dan nggak ada yang bisa mengantar, akhirnya Mbah Karim berjualan di dekat rumahnya. (Junitaputri, Mahsiswa Prodi Public Relation ASMI Santa Maria Yogyakarta)