BERNASNEWS.COM — Banyak penganan tempo dulu bernama atau mendapat sebutan unik-unik dan tidak begitu lazim, entah nama atau sebutan itu karena dari bentuk, warna, mungkin juga dari rasanya. Bahkan dari nama terkadang menimbulkan persepsi tertentu terhadap penganan tersebut.
Salah satu dari panganan jadul dengan nama unik yang kini kian langka didapat adalah Bur Saren atu juga disebut Bubur Saren. Disebutnya demikian sebab warna tampilan warnanya seperti saren dalam bahasa Jawa yang artinya adalah darah yang mengental.
Kuliner berbahan dasar dari tepung ketan ini cita rasanya
benar-benar sangat khas, manis dan ada rasa rempahnya. Disajikan atau dijual
dalam kemasan bungkus daun pisang. Warna kehitaman pada Bur Saren dari londo merang atau tangkai padi yang dibakar. Abu merang
yang berwarna hitam direndam dalam air bersih kemudian disaring air yang berwarna
hitam itu sebagai pewarnanya.
Sementara rasa Bur Saren merupakan rasa rempah dari hasil perpaduan rasa jahe, kayu manis dan cengkih. Rasa manis dari gula jawa. Cara menjajikan Bur Saren dibungkus dengan daun pisang, sebelum dibungkus atasnya disiram atau diberi toping dengan santen kanil. Santen kanil adalah santan kental yang dimasak dengan diberi daun pandan dan garam agar gurih rasanya.
“Memang benar kalau belum kenal penganan Bur Saren dikiranya berbahan dari saren atau darah. Itu pernah saya alami ketika menyajikan penganan tersebut dalam hajatan acara kantor,” ujar Muhammad Santoso, kepada Bernasnews.com, saat ketemu di lapak penjual Bur Saren, di Pasar Kluwih, bilangan Kampung Suryoputran, Yogyakarta.
Kemudian setelah dijelaskan tentang bahan-bahan untuk membuatnya, lanjut Santoso, sebagian teman kantor yang awalnya menganggap haram baru berani mencoba mencicipi. “Mereka menyatakan rasanya enak dan sangat terkesan atas penganan tersebut,” ujar mantan karyawan perumda di Kulon Progo itu.
Untuk berburu penganan Bur Saren harus pagi, adanya hanya di Pasar Ngasem dan Pasar Kluwih, Kemantren Kraton, Yogyakarta. Menjadi langka karena yang bikin juga semakin sedikit dan bisa jadi kalah dengan banyak hadirnya penganan kekinian. Sebenarnya penganan-penganan jadul nan unik semacam Bur Saren apabila dieksplore menjadi bagian dari wisata kuliner akan menjadi daya tarik wisatawan. (ted)











