BERNASNEWS.COM —
Rajata adalah sebutan perak dalam
bahasa Sanskerta. Perak amat lekat dengan Yogyakarta seiring dengan
bertumbuhnya Kotagede sebagai sentra kerajinan perak yang diperkirakan sudah
muncul sejak periode Kerajaan Mataram Islam, abad 16 Masehi.
Sementara Kunstambachtsschool atau Sekolah Seni Kerajinan “Sedyaning Piwoelang Angesti Boedi” didirikan oleh Java Institute yang diresmikan pada tanggal, 1 Maret 1940, oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, salah satu pelindung sekolah KGPAA Prabu Suryadilaga yang kemudian menjadi Adipati Paku Alam VIII. Sekolah ini turut andil dalam perkembangaan ornamen seni hias kerajinan perak.
“Pameran ini menceritakan perjalanan perak sejak
berabad-abad silam. Sejarah membawa cerita perak dan Sonobudoyo pada satu
benang merah melalui Kunstambachtsschool.
Melalui pameran ini berharap industri perak terus lestari di Yogyakarta dan
Kotagede, khususnya,” ungkap Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahli, SE, MM
dalam sambutan pembukaan Pameran Rajata,
Selasa (4/8/2020).
Pameran Rajata bertemakan
“Perak dan Kisah di Antaranya” diselenggarakan oleh Museum Sonobudoyo, tanggal
4 – 25 Agustus 2020, pukul 09:00 – 21:00 WIB, di Gedung Pameran Temporer, Jalan
Pangurakan (Titik Nol), Yogyakarta. “Pameran ini merupakan kali pertama dalam pandemi
Covid-19 sehingga dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Jumlah
pengunjung yang masuk di dalam ruang pameran dibatasi sebanyak 25 orang, dengan
durasi lebih kurang 30 menit,” jelas Setyawan.
Menurut Setyawan, pameran kali ini bukan mencari pengunjung
tetapi untuk belajar bersama dengan masyarakat dalam menyikapi tanggap darurat
Covid-19. Sebelumnya Museum Sonobudoyo juga telah mengikuti simulasi protocol kesehatan
yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta maupun Dinas
Pariwisata DIY.
“Pengunjung wajib pakai masker, sebelum masuk ruang pamer
cuci tangan dan pengukuran suhu badan dengan thermogun yang dilengkapi kamera video. Juga soal keamanan,
keselamatan dan koleksi sangat kami perhatikan, mengingat 10 tahun lalu museum
pernah kehilangan koleksinya yang sangat berharga,” tandasnya.
Sementara Kepala Seksi Koleksi, Konservasi dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo, Ery Sustiyadi, ST, MA menjelaskan, bahwa puluhan karya rajata (perak) yang dipamerkan itu merupakan hasil konservasi. Juga beberapa koleksi dari Java Institute dan pengadaan “baru” dari seorang kolektor di Kotagede.
“Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 banyak pemilik barang-barang perak menjual secara kiloan pada pengrajin di Kotagede untuk dilebur lagi. Namun ada seorang kolektor yang peduli membeli beberapa produk perak lawasan dan diserahkan kepada Museum Sonobudoyo,” pungkas Ery Sustiyadi. (ted)











