Desa Widodomartani Gandeng FTI UII Kembangkan Eduwisata

BERNASNEWS.COM – Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman menggandeng Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII untuk merintis dan mengembangkan wisata pendidikan (eduwisata) yang fokus pada pertanian dan peternakan di desa tersebut.

Hal ini merupakan langkah awal dari kerja sama Desa Widodomartani dan FTI UII yang sudah dirintis sejak tahun 2016 dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai proyek yang dikerjakan oleh FTI bersama masyarakat setempat.

“Dalam kerja sama ini, UII akan menangani masalah teknologinya, seperti teknologi pengolahan kotoran hewan menjadi biogas dan pupuk maupun inovasi-inovasi teknologi tepat guna lainnya. Dan biogas dari kotoran sapi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik untuk seluruh lokasi eduwisata sehingga tidak lagi terlalu tergantung pada listrik dari PLN yang selama ini digunakan sebanyak 900 watt. Karena potensi energi listrik dari biogas cukup besar mencapai 220 watt,” kata Susilo Widodo, Pembina Eduwisata yang juga Kasi Pelayanan Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak kepada wartawan di kandang sapi kelompok ternak Desa Widodomartani, Kamis (13/2/2020).

Lokasi eduwisata di Dusun Karanganyar, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Kamis (13/2/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Menurut Widodo Susilo, dalam kerja sama itu pihak Desa Widodomartani sangat mengharkan berbagai inovasi teknologi tepat guna dikembangkan oleh FTI UII.

Sementara Setyawan Wahyu Pratomo ST MT, Dosen Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri UII, mengatakan, potensi kotoran hewan terutama ternak sapi di Desa Widodomartani sangat besar untuk menghasilkan energi listrik melalui teknologi biogas.

Menurut Wawan-sapaan Setyawan Wahyu Pratomo-di Desa Widodomartani ada 3 kandang kelompok ternak, yakni kandang sapi, kambing dan puyuh. Namun, yang mampu menghasilkan energi listrik cukup besar adalah dari kotoran sapi. Sebab, di kandang kelompok ada 80 ekor sapi di mana-mana masing-masing sapi rata-rata menghasilkan 30 kilogram kotoran per hari atau total 2.400 kilogram atau 2,4 ton kotoran sapi per hari.

Dari 2,4 ton kotoran sapi tersebut, menurut Wawan, bila dikonversikan menjadi listrik bisa menghasilkan 282 KwH. Dan selama ini, pengolahan kotoran ternak sapi belum optimal, paling cuma digunakan untuk pupuk tanaman.

Ternak sapi di kandang kelompok warga Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Kamis (13/2/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Padahal, menurut Wawan, kotoran sapi bisa menghasilkan listrik melalui biogas, pupuk cair dan pupuk padat. Karena itu, melalui program kerja sama yang ada, FTI UII akan mengembangkan inovasi-inovasi teknologi tepat guna, di antaranya pembuatan biogas dan pupuk tanaman dari kotoran ternak.

Proses pembuatan listrik dari biogas cukup sederhana dimana kotoran sapi/ternak dikumpulkan ke dalam biodigester lalu muncul gas metan yang digunakan untuk biogas. Dan hasil akhir dari biogas itu selain listrik adalah pupuk cair dan pupuk padat. iNamun, selama ini hanya pupuk padat yang dimanfaatkan oleh warga setempat.

Diharapkan dengan pengoptimalan pemanfaatan kotoran sapi yang ada di Desa Widodomartani, nilai tambahnya bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa setempat. (lip)