bernasnews – Sebagai warga Indonesia, tentunya kita mengenal Danau Toba dengan alamnya nan elok. Danau vulkanik terbesar di dunia ini membentang dengan panjang 100 km dan lebar 30 km, dengan kedalaman airnya 50 meter.
Saking luasnya, danau ini masuk dalam wilayah administratif tujuh kabupaten di Provinsi Sumatra Utara, yakni Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, dan Toba.
Seperti diketahui, Danau Toba telah dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai Destinasi Super Prioritas (DSP) bersama empat destinasi lainnya, yaitu Borobudur, Likupang, Mandalika dan Labuan Bajo. Bahkan Organisasi PBB Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) telah menetapkan Danau Toba sebagai Taman Bumi Global (Global Geopark) sejak Juli 2020.
Danau ini menawarkan panorama alam memukau yang dapat dinikmati dari banyak sudutnya. Tak hanya itu, seni dan budaya yang berkembang di tengah masyarakatnya juga menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan.
Keberadaan Bandara Internasional Silangit di Kabupaten Tapanuli Utara semakin mempermudah akses ke sekeliling danau ini. Dari Jakarta (Bandara Internasional Soekarno-Hatta), ada penerbangan langsung menuju Silangit setiap harinya.
Kini, selain tawaran wisata alam dan budaya, di kawasan Danau Toba bertambah satu lagi tawaran wisatanya, yakni wisata religi, khususnya Kristiani. Pasalnya, di salah satu tepian danau tersebut terdapat patung Yesus, tepatnya bernama Patung Kristus Penyelamat. Orang-orang pada umumnya menjulukinya sebagai Patung Yesus Sibeabea.
Letak patung tersebut di puncak bukit Sibeabea. Bukit yang berketinggian 1.021 meter di atas permukaan laut ini masuk wilayah administrasi Desa Turpuk Sihotang, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir (wilayah yang berada di daratan Sumatra Utara, bukan di Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba).
Destinasi religi ini relatif baru dibuka untuk umum. Menurut sejumlah informasi yang saya himpun, di destinasi wisata ini terdapat fasilitas-fasilitas pendukung seperti taman doa, kafe/restoran dan lain-lain.
Sebelum ada patung yang ikonik itu, Bukit Sibeabea sudah menjadi jujukan para wisatawan, untuk menikmati pemandangan alam seputaran Danau Toba dari ketinggian.
Patung Yesus Sibeabea dengan tinggi 61 meter ini menjadi yang tertinggi di dunia. Sebagaima diketahui, Patung Kristus Penebus di Rio de Janeiro setinggi 30 meter, Patung Kristus Pelindung di Brasil 43,5 meter, dan Patung Hati Yesus di Rumania 22,5 meter. Kemudian di Manado, Sulawesi Utara, terdapat patung Yesus Memberkati, yang memiliki penopang setinggi 20 meter dan patungnya sendiri setinggi 30 meter dengan kemiringan 35 derajat.
Ketika penulis bertanya ke seorang kawan Batak yang tinggal di tepian Danau Toba kenapa tingginya 61 meter, dia menjawab bahwa itu didasarkan pada Alkitab terkait penciptaan semesta selama enam hari dan libur satu hari. Dari situlah angka ‘6’ dan ‘1’ bersumber.
Penulis dan beberapa kawan memang sengaja tidak menuju ke puncak Bukit Sibeabea untuk keperluan pemotretan dan pemvideoan, tapi kami menuju ke sebuah puncak bukit yang berada di desa sebelahnya, yakni Desa Janji Martahan yang berada di kecamatan dan kabupaten yang sama. Dalam pandangan kami, pengambilan foto dan video dengan menggunakan drone dan lensa tele lebih menarik dari spot ini.
Pemulis memotretnya tidak menggunakan peralatan fotografi yang canggih, tapi hanya menggunakan kamera ponsel. Pastilah hasilnya amat sederhana. (mar/Farid Wahdiono, Penulis dan Fotografer)












