bernasnews — Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ternyata banyak menyimpan destinasi wisata alam yang asri dan autentik. Salah satunya adalah yang berada di Kecamatan Bayat, yang berlokasi di wilayah sisi selatan.
Menurut catatan, ada 5 fakta unik dari Bayat yakni, terdapat batuan berusia 100 juta tahun, pembuatan gerabah/ terakota yang unik dengan menggunakan alat putar miring, asal nama Bayat dari kata tem-bayat-an yang bermakna hidup rukun saling membantu dan gotong royong.
Juga sebagai pusat penelitian geologi bagi para mahasiswa dalam negeri maupun luar negeri, dan yang terakhir adalah Batik Bayat, di mana kerajinan membatik sudah ada sejak masa pada pra-Hindu dan berkembang sejak datangnya Ki Ageng Pandanaran pada abad ke-17.
Untuk wisata alam dan bentuk bebatuan zaman purba tersebut terletak di Desa Gunung Gajah, yang berjarak 18 kilometer dari Kota Klaten. Diberi nama Gunung Gajah menurut cerita tutur konon terdapat binatanag gajah yang dikutuk oleh raja sakti menjadi arca gajah yang besarnya menyerupai gunung (bukit).
Pada masa itu, oleh sang raja yang sakti mandraguna Desa Gunung Gajah juga diramal akan menjadi desa yang maju, yang dalam filosofi Jawa disebut dengan masa “Rejaning Jaman”. Kekinian ramalan terkait menjadi desa yang maju tampak pada potensi sebagai desa wisata.
Sebagai desa wisata, Desa Gunung Gajah terdapat destinasi wisata Bukit Cinta dan Watu Prahu. Watu prahu adalah batu besar yang berbentuk seperti perahu terbalik, batu ini dipercaya oleh warga setempat sebagai saksi bisu legenda Roro Denok dan Jaka Tuwa.
Sementara Bukit Cinta memilik pesona alam yang asri, di tempat ini pengunjung dapat menikmati keindahan Kota Klaten dari ketinggian. Juga dibangun spot-spot foto serta taman yang dilengkapi dengan tempat istirahat dan beberapa wahana permainan anak, yang dibangun pada tahun 2016.
“Rejaning Jaman Desa Gunung Gajah terbukti nyata usai diresmikan sebagai desa wisata, yang berkunjung ke Bukit Cinta parkir kendaraan meluber hingga jalanan ujung desa. Bahkan Pak Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng, red) pun pernah datang mengunjungi desa kami,” terang Pak Parjiyo (60 tahun), juru parkir setempat, kepada bernasnews, saat berkunjung, Jumat (16/1/2026).
Menurutnya, kondisi itu terbalik seratus delapan puluh derajat ketika Covid-19 melanda seluruah negeri pada tahun 2020. Kegiatan pariwisata di Desa Gunung Gajah jadi berhenti total dan lumpuh sehingga juga berdampak pada berbagai fasilitas wisata yang kini menjadi mangkrak tak terurus.
“Saya kok yakin apabila dibenahi atau dibangun kembali berbagai fasilitas wisata yang mangkrak, Desa Gunung Gajah akan kembali reja (ramai) UMKM warga kembali tumbuh, asalkan juga ada upaya promosi agar menjadi viral seperti obyek wisata lainnya,” harap Parjiyo.
“Terlebih saat ini pariwisata juga sedang digalakkan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi bagi pemerintah maupun masyarakat, serta menjadi kebutuhan saat liburan. Sayangnya hingga ada pergantian pimpinan daerah, belum ada yang berkunjung lagi untuk melihat kondisinya,” pungkasnya. (ted)












