bernasnews – Taman Doa Maria Oblat, berlokasi di Jalan Mawar No. 26, Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat ini didedikasikan bagi siapapun yang ingin mengalami keheningan, kekuatan doa, dan pelukan kasih Allah, melalui Bunda Maria Imakulata.
Taman Doa ini dikelola oleh para Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI), sebuah kongregasi religious misionaris yang menghidupi semangat “Oblatio“ – Persembahan diri sepenuhnya kepada Allah. Kata “ Oblat” berarti “persembahan,“ dan Bunda Maria Imakulata menjadi teladan utama dalam mempersembahkan seluruh hidupnya kepada rencana keselamatan Allah.
Memasuki halaman Taman Doa ini, peziarah akan menemui rute jalan salib pendek yang indah. Di sisi depan terdapat semacam batu prasasti dengan tulisan “Belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”.
Dalam booklet Taman Doa Maria Oblat, BAGIAN I – JALAN SALIB OMI , penulis menemukan renungan singkat yang indah dan sangat menyentuh hati untuk tiap perhentian yang akan kita lalui.
Dalam booklet disebutkan juga bahwa, renungan singkat untuk tiap perhentian ini,diambil dari semangat hidup Santo Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri Kongregasi OMI.
Perhentian I : Yesus dihukum mati. Tatap wajah Yesus yang terhina. Ia memilih jalan salib demi cinta-Nya. “Tuhan, ketika aku dihakimi dan tidak dipahami, peluklah aku dalam kasih-Mu.“
Perhentian II : Yesus memanggul Salib-Nya.
Salib adalah lambang cinta, jangan tolak bebanmu hari ini.
“Tuhan, sering aku ingin lari dari salibku, tapi Engkau memanggilku untuk tetap setia.”
Perhentian III : Yesus jatuh pertama kali.
Kerapuhan manusiawi tak membuat–Nya menyerah. Bangkitlah lagi.
“Di saat aku jatuh, Tuhan, jangan biarkan aku tinggal dalam keputusasaan.”
Perhentian IV : Yesus berjumpa dengan Bunda-Nya.
Kasih seorang Ibu adalah kekuatan yang menyertai dalam penderitaan. “Tuhan, dalam luka batinku, izinkan aku berteduh di hati Ibu-Mu.“
Perhentian V : Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene.
Tuhanpun bersedia dibantu. Terimalah uluran tangan kasih.
“Terima kasih Tuhan, atas orang orang yang Kau kirim di saat aku tak kuat lagi “ Perhentian VI : Wajah Yesus diusap oleh Veronika
Keberanian kecil dengan cinta yang besar memancarkan wajah Kristus . “Ajarlah aku, Tuhan, untuk berani mencintai meski tak selalu dimengerti “
Perhentian VII : Yesus jatuh kedua kali.
Meski jatuh lagi, cinta-Nya tak pernah surut. Demikian juga harapanmu.
“Tuhan, ketika aku gagal lagi, bisikanlah bahwa Engkau belum menyerah padaku.”
Perhentian VIII : Yesus menghibur perempuan Yerusalem.
Di tengah derita, Ia tetap peduli pada luka sesama.
“Dalam sakitku, Tuhan, janganlah biarkan aku menutup mata terhadap luka orang lain. “
Perhentian IX : Yesus jatuh ketiga kali.
Batas kekuatan-Nya tercapai, tetapi Ia tidak menyerah. Ikuti jejak-Nya.
“Tuhan, saat aku merasa tak ada harapan, peganglah tanganku dan angkatlah aku “
Perhentian X : Yesus ditelanjangi
Tuhan direndahkan sampai habis. Di situ martabat kita ditinggikan .
“Tuhan, ketika harga diriku dilucuti, lindungilah aku dengan martabat salib-Mu.“
Perhentian XI : Yesus disalibkan.
Paku cinta-Nya, menembus langit dan bumi. Ia mengasihimu sepenuhnya. “Aku takut penderitaan, Tuhan…tapi jika itu jalan cinta, kuatkan aku.
Perhentian XII : Yesus Wafat di salib.
Dalam kematian-Nya kita menerima hidup. Sembah sujudlah.
“ Tuhan Yesus , Engkau mati untukku – aku serahkan seluruh hidupku kepada- Mu “
Perhentian XIII : Yesus diturunkan dari salib. Dalam pelukan Bunda, Tubuh- Nya yang tersalib menjadi persembahan suci.
“Dalam pelukan Bunda-Mu, Tuhan, istirahatkanlah jiwaku yang kadang letih “
Perhentian XIV : Yesus dimakamkan.
Tampaknya berakhir, namun cinta selalu menemukan kebangkitan.
“Ketika semuanya gelap dan terasa sia sia, Tuhan, rawatlah benih harapan dalam hatiku “
• Perhentian XV : Kebangkitan Yesus
Salib bukan akhir,tetapi jalan menuju hidup baru, Alleluya !
“Tuhan, hidupkanlah kembali bagian diriku yang telah mati – agar aku sungguh hidup “
Setelah area Jalan salib, kita akan menjumpai tempat air suci yang dialirkan melalui beberapa kran.
Melangkah lebih ke dalam, kita akan menjumpai gerbang utama area Taman Doa. Di gerbang utama area Taman Doa peziarah akan disambut dengan tulisan yang berbunyi : “Kupersembahkan dosa dosaku dan kusambut kasih pengampunan-Mu, Tuhan “
BAGIAN II – PATUNG MARIA OBLAT
Patung Maria Oblat menggambarkan Bunda Maria Imakulata yang berdiri dengan tangan terbuka, menyambut setiap peziarah yang datang. Dalam wajahnya terpancar kelembutan, kesetiaan, dan kekuatan seorang Ibu.
Renungan : Bunda Maria, Engkau dipilih Allah untuk menjadi Ibu Sang Penebus. Engkau menerima tugas itu dengan hati yang penuh iman. Ajarilah aku untuk menyerahkan diriku seutuhnya kepada kehendak Allah, sebagaimana Engkau mempersembahkan seluruh hidup-Mu. Semoga aku pun menjadi “oblat “ – persembahan yang hidup dan kudus bagi Allah. “Aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (Lukas 1:38)
BAGIAN III – PATUNG SALIB CORDOBA
Salib Cordoba adalah salib Yesus yang berbeda. Salah satu tangan-Nya telulur turun dari kayu, menyimbolkan pengampunan dan penerimaan yan aktif dari Tuhan. Tulisan di depannya : “Telah Kuampuni Dosamu, Teruskanlah kepada sesamamu”.
Renungan : Tuhan yang Tersalib, Engkau tidak hanya wafat untuk menebus dosaku, tetapi juga mengulurkan tangan untuk mengangkatku kembali. Dalam salib ini aku merasakan kekuatan kasih yang tidak hanya mengampuni, tetapi juga mengutus. Biarlah pengampunan yang kuterima ini tidak berhenti padaku, melainkan mengalir ke sesamaku. “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami “ (Matius 6:12).
BAGIAN IV – KAPEL DOA
Kapel menjadi pusat keheningan dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan.
Di sinilah kita dapat merenung, berdoa dalam diam, mencurahkan isi hati di hadapan Sakramen Maha Kudus.
DOA PENUTUP ZIARAH
Tuhan Yesus yang Maha kasih. Terima kasih atas kasih-Mu yang menyertaiku dalam Ziarah ini. Terima kasih atas pengampunan-Mu, atas teladan Bunda Maria Imakulata, atas setiap salib dan bangkit yang Engkau tunjukkan kepadaku. Kini aku kembali ke dunia dengan hati yang diperbaharui, siap menjadi pembawa kasih dan damai-Mu. Amin
“ Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu .” ( Yohanes 14:27 ) (mar/Benedekta Kushayati Mawartiningtyas, Umat Paroki Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, DIY)












