bernasnews – Di era yang semakin modern ini, hampir setiap orang mengetahui dan menggunakan telepon genggam atau telepon seluler yang lazim disebut handphone (HP). Ada yang memiliki satu buah, dan ada yang lebih dari satu buah. Generasi dan serinya pun berbeda-beda, tergantung kemauan, selera, kebutuhan, dan kemampuan beli.
Kalau awalnya HP baru dimiliki dan dipakai oleh satu dua kelompok masyarakat, namun kini sudah kian merata. Terlihat di banyak tempat, anak-anak kecil di bawah tiga tahun (Batita) pun ada yang sudah mampu mengoperasikan HP. Bahkan kalau tidak diberi HP oleh orang tuanya, si Batita akan merengek dan menangis. Menjadi tenang dan asyik kalau sudah pegang HP.
Dari sekian banyak isi di dalam HP, kita pernah memperoleh kiriman pesan atau informasi berupa teks, foto, video atau materi lainnya dari keluarga, sahabat atau teman. Pesan itu ada yang penting, kurang penting, lucu, inspiratif atau memotivasi.
Inspirasi dan motivasi, disamping unsur lain, adalah dua hal penting dalam kehidupan. Inspirasi akan memunculkan ide-ide bagus yang dapat dikembangkan untuk mewujudkan karya-karya baru yang kreatif dan inovatif. Sedangkan motivasi akan mendorong semangat seseorang untuk mampu beradaptasi, berkolaborasi dan bertumbuh.
GURU DAN TEMAN
Penulis bersyukur hampir setiap hari sejak lama hingga kini memperoleh kiriman pesan pendek sapaan pagi yang inspiratif dan memotivasi antara lain dari guru dan teman sekolah di masa lalu. Sapaan itu selalu disertai foto atau ilustrasi dan narasi. Ada yang narasinya hanya satu kalimat, ada yang satu paragraf. Semuanya memiliki makna penting,
Penulis yang lulus dari sebuah SMA di Sleman, DIY tahun 1976 setiap hari selalu memperoleh sapaan pagi berilustrasi foto unik dari guru Bahasa Indonesia, Gregorius S. Pesan itu misalnya, Selamat berhari Minggu. Muliakan Sang Pencipta Langit dan Bumi. Kasih-Nya tiada batas. Puji Syukur.
Kemudian, Selamat berakhir pekan (Banyu bening lan dalan padhang). Sing diudhi lansia saben dinane. Puji Syukur; Dendang lansia (Berteduh di kebun pisang). Puji Syukur; Selamat pagi. Kemarin simbah-simbah melewati “Jembatan Pandansima” yang Panjang membentang. Happy yeyeye. Puji Syukur; Selamat pagi. Rabu yang lalu Eyang Tartono (84 tahun) launching karyanya. Puji Syukur; Yogya panas (Obong-obong uwuh). Bersyukur ada angin semilir.
Apa yang disampaikan guru penulis itu sederhana, hal-hal keseharian, berkalimat pendek, dengan ilustrasi foto. Namun yang patut diacungi jempol adalah konsistensi dalam menyapa dan selalu menyampaikan puji syukur.
Kemudian dari teman SMP bernama W. Yono antara lain mengirimkan narasi berikut ini : BERBAGI – Hidup manusia tidaklah kekal. Bersumbangsihlah pada saat kita dibutuhkan. Dan lakukanlah selama kita masih bisa melakukan; MEMBERI DAN MELAYANI – Memberi dan melayani jauh lebih berharga dan membanggakan daripada diberi dan dilayani.
BERGUNA – Manusia hebat belum tentu berguna bagi sesamanya. Tapi mereka yang hidupnya berguna bagi sesamanya, dialah manusia hebat; KERJA DAN DOA : Kerjakanlah apa yang kamu doakan. Doakannya apa yang kamu kerjakan. Di atas langit masih ada langit.
BERTEMU ORANG – Di saat kita bertemu orang baik jangan mencari keburukannya, dan di saat bertemu orang buruk carilah kebaikannya; HIDUP : Hidup tak selalu sempurna. Apa yang terjadi tak selalu kita suka. Tapi kita dapat selalu bahagia jika kita mensyukuri apa yang ada.
Sedangkan adik kelas di SMA yakni DW Moko selalu menyajikan kutipan/pepatah Latin kemudian diterjemahkan, direfleksikan dan disertai ilustrasi.
QUI FUGIT MOLAM, FUGIT FARINAM : Orang yang lari dari penggilingan, berarti pergi meninggalkan dan menjauhi tepung.
“Seseorang yang belum selesai mempelajari sesuatu lalu pergi meninggalkan sumber pengajarannya tidak akan mendapat hasil yang baik. Demikian juga ketika kita malas terus belajar perihal pengetahuan akan iman, sebenarnya mengalami kemiskinan akan iman sejati.”
PER ANGUSTA AD AUGUST : Dari kesulitan menuju kemuliaan.
“Orang yang sanggup bertahan dari didikan yang keras atau perjalanan hidup yang pahit akan merasakan hasilnya di kemudian hari. Tetaplah tegar dan opitimis menghadapi ujian kehidupan dan buka diri menerima hal positif dan hikmat perjuangan untuk mendapatkan hasil yang baik.”
OPTIMUM MEDICAMENTUM QUIES EST : Obat yang terbaik adalah ketenangan.
Dengan ketenangan bisa berpikir jernih dan batin yang tenang memberi ruang kepekaan yang positif. Dan ada pesan luhur : di dalam tinggal tenang dan percaya kepada Allah akan kau dapatkan kekuatanmu.”
Di saat penulis menulis esai ini, masuk sebuah pesan pendek di HP dari sahabat yang lain : DOA TERBAIK UNTUKMU. (Anto Margono, Pegiat Literasi di Yogyakarta)












