News  

Gendhis Luwes Pentaskan “Rara Jonggrang” di Purawisata Yogyakarta

Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes yang bermarkas di kampung Mangunnegaran, Yogyakarta akan mementaskan “Rara Jonggrang”

bernasnews – Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes yang bermarkas di kampung Mangunnegaran, Yogyakarta akan mementaskan “Rara Jonggrang” di Amphytheater Purawisata, Yogyakarta, Kamis (23/10/2025) pukul 19.30 – 21.30 WIB.

“Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes awalnya didirikan oleh ibu-ibu kelompok Dasa Wisma setempat yang menyukai Seni Tari dan Line Dance pada tanggal 23 September 2022. Kemudian berkembang tatkala diikuti oleh anak-anak balita sampai remaja karena adanya ‘Kampung Menari’ yang memberi kesempatan mereka untuk tampil di banyak acara di Kelurahan, Kecamatan, dan Kota Yogyakarta,” kata seniman senior Anastasia kepada bernasnews, Selasa (21/10).

Menurut Anastasia, anggota sanggar itu juga belajar membaca puisi, geguritan, bahkan mocopat, untuk kemudian berkeinginan lebih untuk dapat tampil dalam pentas teater. Pementasan teater yang pertama dilaksanakan pada bulan September 2024 di gedung Societeit Milatary Taman Budaya Yogyakarta dengan naskah yang ditulis dan disutradarai Alexander Deska aktor muda dari teater Seriboe Jendela dengan Astrada Namira Merari Cendani. Pentas seni itu berjudul “Romansa Geger Sepehi” berlatar belakang peristiwa sejarah yang terjadi di ujung kampung Mangunnegaran.

Gelar teater yang kedua pada tahun 2025 mengambil judul “Rara Jonggrang”, dengan penulis naskah sekaligus sutradara ditangani oleh Anastasia dari Teater Alam hasil gemblengan Azwar AN sejak tahun 1976.

Anastasia mengemukakan, pementasan ini bertujuan untuk ikut memasyarakatkan teater yang dimulai dari kampung Mangunnegaran, dimana kampung ini memiliki sejarah lahirnya teater di Yogyakarta bahkan di Indonesia. Bengkel Teater dan Teater Alam lahir di kawasan Sawojajar yang masuk dalam wilayah kampung Mangunnegaran.

Para pemain dalam pementasan “Rara Jonggrang” sebagian besar adalah warga masyarakat awam yang belum mengenal dunia teater. Keterlibatan masyarakat kampung Mangunnegaran luar biasa, mulai dari anak-anak usia TK, SD, remaja sampai lansia dengan usia di atas 70 tahun berlatih bersama yang dimulai pada awal bulan September 2025.

Latihan selama satu setengah bulan ini relatif berjalan lancar karena dukungan dari para pengurus kampung, bahkan Mantri/Camat Kemantren Kraton mempersilahkan untuk berlatih di pendopo Kemantren. Beberapa aktor teater yang sudah cukup berpengalaman seperti Rina Nikandaru, Jamil AN, Oka Swastika Mahendra ikut serta mendukung gelar teater ini.

Pimpinan Produksi dipegang langsung oleh Ketua Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes Saptowati, Sekretariat dipegang oleh Oka Swastika Mahendra, Bendahara Produksi Yoanariris dan Sriyati. Kehumasan Putri Wisudawati dan Stage Manager dipercayakan kepada anak-anak muda yang potensial Ravieka dan Hoshe.

Di bidang artistik, Property ditangani oleh: Ki Mudjar Sangkerta, Heri Johan, dan Endang Purwati; Tim Sinema digarap: Joni Asman, Greg Usanta, dan GR Jaduk; Kreator Digital diolah: Kanda Andi, Devara, dan Rasyid; Penata Musik: Saronto, dengan timnya: Wildan, Bino, Octa, Ino, Rafa, Dika, Zidan, dan Agus.

Kemudian Penata Gerak: Retno Azis dan Dhimas Duta; Penata Rias: Rina Nikandaru, Puri, dan Inunk; Penata Busana: Dewi dan Jeany Hendrick; Penata Cahaya: Alexander Deska; Dokumentasi: Gelang; Konsumsi: Tari, Nuning, Dwi Astuti; Keamanan: Puguh dan Dwi Raharjo; Penerima tamu: BM. Daruno, Danik, Ardhy, Nadinda, Anik, Wildan, Farid, Rahma, Intan, Feby, dan Raya.

Para pemeran yang terlibat dalam pementasan “Rara Jonggrang” : Alunetta, Daniel Rae, Embun Ujung Daun, Hoshe, Eleonora Sekar, Dhimas Duta, Selma Alivia, Ezra, Wesi, Akadi, Khansa Avicena, Angelica, Deva, Eliz, Ravieka Fathya, Guntoro, Barkun Rubini, Djoko Sartono, Sri Mulyaningsih, Didi Sumarsidi, Yoanariris, Jamil AN, Rina Nikandaru, Oka Swastika Mahendra.

Para penari Prajurit: Rara, Zahwa, Inara, Rara, Rania, Kira, Kila, Kinan, Elen, Mima, Ipah, Kala, Dara, Mahika. Para penari Jaranan dan pasukan Balabatu: Mahes, Kaila, Julio, Tania, Aya, Sea, Antha, Quensha, Marcella. Para penari warga desa: Wahyuningsih, Eka, Ranti, Nuning, Santa, Nayla, Keysa.

“Gelar teater ini menampilkan beberapa adegan dalam bentuk sinema untuk mengatasi kerumitan yang tidak mudah untuk dipanggungkan. Dengan segala bentuk kendala yang dihadapi dalam berproses selama produksi, kebersamaan dan keinginan besar untuk berkarya bersama menjadi penyemangat dalam usaha gelar teater ‘Rara Jonggrang’ ini, ada salah satu anak yang berseloroh dan diamini kawan-kawannya “sing penting srawung, seneng lho akeh kancane”. Itulah motto kami, srawung yang menggembirakan, guyub rukun dalam menggelar karya,” kata Anastasia.

Seniman senior ini mewakili seluruh crew dan pemeran “Rara Jonggrang” berharap, semoga gelar karya dalam pentas seni ini juga dapat menghibur dan menggembirakan penonton. Terlebih menumbuhkan semangat untuk tetap berkarya dalam keterbatasan apapun yang harus dihadapi. (*/mar)