bernasnews – Kehidupan seseorang di dunia ini, mulai dari ranah keluarga, masyarakat, sampai global, semuanya merupakan rangkaian awal, proses dan hasil. Selama melaksanakan proses itu, setiap insan manusia selalu bertanya satu hal penting : siapa diriku sebenarnya?
Proses pencarian jati diri itu tidak mudah, dapat benar atau salah dan jatuh bangun. Manusia membutuhkan panutan dan pegangan dalam hal itu. Maka kalau manusia mengandalkan Tuhan dalam proses kehidupan ini, dia akan memperoleh keselamatan.
“Kita menemukan jati diri dalam kasih Tuhan. Bagi Allah, kita itu dikasihi, dipilih dan diutus. Dari seluruh (proses) pencarian jati diri kita akan menemui hal ini, bahwa aku berharga, dikasihi, dipulihkan dan siap diutus,” kata Pastor Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul Romo Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr. dalam sarasehan PIOD (Pendampingan Iman Usia Orang Dewasa) bertajuk “Who Am I?” di gereja setempat, Minggu (12/10/2025).
Selain Romo Merdi, tampil pula sebagai narasumber Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi Paroki Santo Yakobus Bantul AKBP Bonifasius Slamet. Sarasehan yang dibuka oleh Tanto dan Florince ini dimoderatori oleh F.X. Trimulyono, S.Ag., M.Sn. Pada kesempatan ini juga ditayangkan film pendek “BONI : Kisah Inspiratif Seorang Polisi”.
Romo Merdi yang melaksanakan tugas sebagai Romo Paroki, Komisi Kepemudaan, dan Moderator BPK Kevikepan Yogyakarta Barat ini mengawali ceramahnya yang ramah dengan mengajak peserta menyadari bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah. “Bahwa Allah menciptakan kita baik adanya, membangun relasi dengan kita secara personal,” kata dia.
Lalu muncul pertanyaan, siapa aku di mata dunia? Sebagaimana dikatakan dalam kitab suci, manusia melihat apa yang ada di depan mata, namun Tuhan melihat hati. Tuhan menegaskan pula agar kita jangan serupa dengan dunia ini. Untuk itu, Romo Merdi mengajak peserta sarasehan menyadari antara identitas sejati dalam Tuhan dan label dunia yakni penampilan, prestasi dan status.
Dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini, setiap orang pasti memiliki luka batin, cacat pusaka. Oleh karenanya, kita diajak mengenali luka batin itu, sebagai penolakan atau pengalaman yang membuat sulit mengenali diri sendiri.
Romo Merdi mengajak peserta sarasehan untuk bersyukur bahwa Allah menerima kita apa adanya. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Perumpaan anak yang hilang dalam kitab suci membuktikan hal itu. Bahwa kita mengalami kasih tanpa syarat dari Allah, forgive and forget.
“Oleh karena itu, setelah menemukan jati diri kita, maka akan lahir pribadi yang baru di dalam Krstus. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan yang baik. Maka saatnya kita menemukan panggilan pribadi dan makna hidup,” kata pastor paroki yang baru saja merayakan pesta imamatnya ini. (mar)












