bernasnews – Dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, hampir dapat dipastikan seseorang pernah menerima dan atau memberi oleh-oleh. Bermula menerima oleh-oleh dari keluarga atau sahabat, seseorang belajar untuk (ganti) memberi oleh-oleh kepada orang lain.
Ketika seseorang mau berkunjung ke orang lain, atau sepulang dari suatu kunjungan di tempat lain, pemberian oleh-oleh adalah hal yang lumrah. Memang bukan keharusan, namun sudah menjadi sebuah tradisi.
Bagi anak-anak kecil, menerima oleh-oleh barang atau makanan dari keluarga atau sahabat, betapa menyenangkan hati? Bahkan kenangan indah itu dapat terbawa sampai dewasa. Selain anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan lanjut usia juga akan merasa senang dan dihargai bila menerima oleh-oleh. Apalagi oleh-oleh itu sesuatu yang disukai atau diharapkan, rasa senang itu akan lebih terasa.
Dalam dunia pariwisata, penyediaan, penjualan, pembelian dan pemberian oleh-oleh masuk dalam kategori kenangan. Kenangan adalah bagian dari Sapta Pesona yakni tujuh unsur daya tarik wisata di Indonesia yang terdiri dari Aman, Tertib, Bersih, Sejuh, Indah, Ramah, dan Kenangan. Ketujuh unsur itu saling terkait yang harus dijaga dan dilestarikan. Unsur kenangan pasti membutuhkan situasi aman, tertib, bersih, sejuk dan ramah.
Selama ini kita mengenal cukup banyak makanan khas Indonesia yang lezat dan favorit, namun juga menjadi pilihan oleh-oleh agar menjadi kenangan bagi yang memberi dan menerima hal itu. Makanan khas itu tersebar di banyak kota di tanah air.
Di Pulau Jawa misalnya ada nasi goreng kambing, roti bakar panggang, gulali (Jakarta); peuyeum, bandrek, kue moci (Bandung), keripik singkong (Bogor), tahu (Sumedang); lumpia (Semarang), serabi (Solo), keripik tempe (Tegal), es cendol (Jateng); bakpia, tahu tempe, sate klatak, pia, gudeg (Yogyakarta); bolu lapis (Surabaya), keripik apel (Malang), kue apem (Jatim).
Kemudian Pulau Sumatera ada bika ambon (Medan), pempek (Palembang), mie, kue cubir (Aceh, Riau), kerisik, rendang (Sumbar), dendeng balado, gulai kambing (Padang). Selanjutnya ada pie susu, coklat, cemilan tahu walik, jus jeruk (Bali), kerupuk ikan, es pisang ijo (Makassar).
Beberapa remaja siswa SMP Maria Immaculata Yogyakarta yang ikut ekstrakurikuler jurnalistik dan mengelola majalah sekolah MATA juga memiliki banyak kenangan tentang oleh-oleh. Mereka yang berasal dari beberapa kota di tanah air pernah menerima dan memberi oleh-oleh kepada saudara dan sahabat.
Siswi kelas 9A Felisitas Erudita Gracia Puitri mengemukakan, makna oleh-oleh adalah bentuk kasih sayang dan cinta dari seseorang yang berupa buah tangan khas dari suatu daerah serta akan dirasakan lebih spesial dan menghangatkan diri.
“Pemberian oleh-oleh khas daerah adalah untuk membangkitkan rasa cinta terhadap kearifan lokal dan sosial budaya setempat. Dengan mengenal dan menyayangi oleh-oleh daerah, kita telah ikut melestarikan budaya tanah air kita,” kata dia secara tersenyum.
KENANGAN BUKU
Kita mengetahui bahwa buku adalah “jendela dunia”. Dengan membaca dan apalagi menulis buku, kita diajak untuk memiliki kesadaran terhadap pentingnya buku khususnya dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Buku dapat menjadi sahabat serta sekaligus menjadi media untuk berbagi pemikiran dan inspirasi.
Kenangan yang mendalam diharapkan dapat tercipta melalui oleh-oleh buku. Selain itu, oleh-oleh buku juga dalam rangka berbagi pencerahan ilmu pengetahuan, membuka wawasan baru, dan motivasi untuk bertumbuh. Pesan penting mendidik juga dapat disampaikan melalui kegiatan dan tradisi ini.
Beberapa hal yang dapat kita petik atas nilai-nilai dalam pemberian atau penerimaan oleh-oleh buku adalah : simbol pembelajaran dan keterbukaan pikiran; pemberian ilmu pengetahuan; pengalaman dan refleksi; sumber pengetahuan yang tidak basi; pesan nilai-nilai karakter, dan sebagainya.
Mengingat pentingnya makna kenangan atau oleh-oleh buku, kiranya dapat menjadi pilihan baru untuk memperat silaturahmi antarsahabat atau keluarga. Apalagi kalau oleh-olehnya selain buku juga makanan dan minuman, tentu akan lebih afdol lagi. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi)












