bernasnews – Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) M. Jusuf Kalla menyampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada PMI Daerah Istimewa Yogyakarta (PMI) atas inisiatifnya untuk menyusun buku “Dasa Windu PMI Jogjakarta: Menelusuri 80 Tahun Jejak Perjalanan Palang Merah Indonesia DIY”.
Menurut dia, sejak pertama PMI kali hadir tepat satu bulan setelah kemerdekaan negeri ini, PMI Jogjakarta telah menjadi saksi dan sekaligus pelaku sejarah, hadir di tengah masyarakat saat duka melanda, berdiri teguh serta setia mendampingi bangsa ini dalam menghadapi berbagai bencana dan tantangan kemanusiaan
Buku setebal 604 halaman ini diterbitkan oleh PMI DIY bekerjasama dengan Penerbit Mitra Mekar Berkarya (ISBN : 979 – 623 – 5531 – 28 – 1). Tim penulis adalah Irjen Pol (Purn) Drs. R.M. Haka Astana M.W., S.H., Drs. Edy Heri Suasana, M.Pd. Kardi, S.H, Y.B. Margantoro, Ahmad Zaki Ali, M.Hum, Warjiyani, Indra Yogasara Daryadi, Ichsan Malik, S.Kom, Rani Savithri Widyansari, S.Pd, Sofia Ayu Megarani, Bobby Viscananto, S.Sos, Iwan Mahrus F, Yeni Nirmala Sari.
WUJUD RASA SYUKUR
Lebih lanjut Jusuf Kalla mengemukakan, buku ini dapat menjadi wujud rasa syukur atas 80 Tahun PMI, sekaligus pengingat, bahwa pengabdian yang tulus tak pernah lekang oleh waktu. Buku ini tidak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi juga menyalakan semangat untuk hari ini dan masa depan.
Setiap kisah yang tertulis merupakan pesan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas usia, suku, agama, maupun zaman. PMI ada karena ada orang-orang yang berani mengulurkan tangan, tanpa pamrih, untuk sesama.
Bagi generasi sekarang, khususnya generasi muda, buku ini adalah panggilan untuk meneruskan semangat kemanusiaan. Dunia yang kita hadapi saat ini penuh tantangan baru: perubahan iklim, bencana yang semakin kompleks, hingga krisis kemanusiaan global. Semua itu membutuhkan energi, kepedulian, dan inovasi dari kaum muda Indonesia.
Percayalah, sekecil apa pun tindakan yang kita lakukan, menjadi relawan PMI, mendonorkan darah, atau berbagi ide semua itu akan meninggalkan jejak kebaikan yang besar. Jadilah bagian dari sejarah, bukan hanya sebagai pembaca, tetapi sebagai pelaku kemanusiaan yang menyalakan harapan.
Semoga buku ini memberi inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk terus menjaga semangat kemanusiaan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung lahirnya karya ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi langkah kita dalam mengabdi tanpa batas. Terus tebarkan kebaikan. Demikian Ketua Umum PMI M. Jusuf Kalla.
PENDEKATAN SEJARAH
Penulis uitama buku Haka Astana mengingatkan, Jasmerah atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, yang menurut A. H. Nasution, Jasmerah adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi kepada Presiden Soekarno, sebagai judul pidato Soekarno. Meski buku ini bukanlah buku sejarah, namun buku ini adalah perwujudan PMI DIY untuk tidak meninggalkan Sejarah Palang Merah Indonesia, baik PMI Pusat, PMI Jogjakarta, maupun PMI Kota dan kabupaten se-DIY.
Buku ini ditulis dengan menggunakan pendekatan sejarah, meski harus diakui bersama bahwa sejarah merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari peradaban manusia yang terus berkembang dan berevolusi. Sebagai makhluk yang hidupnya dinamis, manusia akan menciptakan sejarah dan kemudian bermanfaat bagi kehidupan sekarang dan masa datang (Fandy: 2024).
Hal yang sama terjadi pada perjalanan dan dinamika Palang Merah Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebagai organisasi yang dinamis, PMI DIY akan menciptakan sejarah dan kemudian akan bermanfaat bagi kehidupan di masa sekarang dan di masa mendatang.
Buku ini juga menelusuri dan memuat kebijakan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Pakualam VIII yang –- beliau berdua -– bersikap dan bersepakat untuk menyatukan diri dalam satu kepemimpinan serta mendukung tegaknya NKRI dan memberikan support luar biasa terhadap keberadaan PMI.
Dalam hal ini keduanya, Seri Padoeka Sri Soeltan Hamengkubuwono IX yang merupakan raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Seri Padoeka Pakoealam VIII yang merupakan adipati Kadipaten Pakualaman, menyatukan diri untuk mengambil sikap menjadi bagian dari NKRI. Kebijakan dan sikap beliau berdua yang menyatukan diri serta memiliki kehendak yang sama dalam kehidupan bernegara, dalam Bahasa Jawa disebut dengan Dwi Tunggal Manunggal Rasa, Dwi Rasa Manunggal Karsa.
Menurut Haka Astana, di dalam buku ini, digunakan istilah PMI Tjabang Jogjakarta, PMI Tjabang Daerah Jogjakarta, PMI Daerah Istimewa Yogyakarta, serta PMI Kota Yogyakarta. Penggunaan istilah-istilah tersebut kami dasarkan pada referensi rujukan yang sesuai dengan penggunaan istilah pada zamannya. Penggunaan istilah tersebut juga tidak terlepas dari regulasi-regulasi yang ada pada masa yang sesuai.
Materi utama (bahan primer) yang dipergunakan dalam buku ini adalah materi dengan kategori prasasti (baik yang berupa buku buku, monumen, dan sebagainya), kemudian didukung dengan materi lain yang berupa bahan prasasti semasa (sejaman), serta dilengkapi dengan bahan-bahan sekunder. Bahan-bahan penulisan buku yang merupakan serpihan-serpihan dari sumber-sumber yang berserakan tersebut, dirunut dan dianalisis aspek ke-“sejarahan”-nya bagi PMI, perannya dalam perjalanan PMI Jogjakarta, kemudian disusun menjadi buku ini dan dituangkan menjadi delapan bab.
Bab I. Menapaki perjalanan kepalangmerahan di indonesia; Bab ii. Tugas dan peran PMI Yogyakarta; Bab III. Perjuangan PMI Yogyakarta dalam membantu mempertahankan NKRI; Bab IV. Perjalanan markas PMI Jogjakarta; Bab V. Peran PMI DIY dalam perjuangan lahirnya undang-undang kepalangmerahan; Bab VI. Kegiatan dan layanan PMI DIY; Bab VII Liputan media tentang peran serta PMI Yogyakarta dan testimoni; Bab VIII. Penegakan regulasi. (mar)












