bernasnews – Korem 072/Pamungkas merayakan hari jadinya yang ke-64 dengan cara yang berbeda dan penuh makna. Sabtu, 6 September 2025 malam, halaman Makorem 072/Pamungkas berubah menjadi panggung budaya megah dengan gelaran Wayang Kulit berjudul Ngamarta Binangun, yang dibawakan oleh dalang kondang asal Kulon Progo, Ki Rubiyanto.
Sorotan lampu blencong menyinari kelir putih, sementara suara gamelan menggema mengiringi kisah epik para Pandawa. Ratusan penonton dari berbagai kalangan hadir, larut dalam alunan gending dan petuah moral yang diselipkan dalam dialog wayang.
Suasana yang hangat, sarat makna, sekaligus meriah, menjadikan perayaan HUT Korem 072/Pamungkas kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Kisah Pandawa Jadi Cermin Kehidupan
Lakon Ngamarta Binangun menceritakan perjuangan Pandawa membangun Kerajaan Amarta setelah kepergian ayahanda mereka, Prabu Pandu Dewanata. Pandawa menuntut hak kepada Prabu Destharata, penguasa Astina, yang kemudian memberi mandat agar mereka membuka hutan Wisamarta terlebih dahulu.
Proses mbabad alas penuh ujian. Pandawa menghadapi tantangan besar, mulai dari rintangan alam hingga cobaan batin. Namun dengan tekad, kebersamaan, dan keteguhan hati, mereka berhasil mendirikan Kerajaan Amarta yang kelak menjadi simbol keadilan dan kemakmuran.
Dalang Ki Rubiyanto membawakan kisah itu dengan penuh penghayatan. Setiap tokoh hidup di balik tangan sang dalang, disertai sindiran halus yang mengena terhadap situasi sosial masa kini. Penonton pun berkali-kali terhanyut, tertawa, sekaligus merenung.
Danrem 072/Pamungkas menegaskan bahwa usia 64 tahun bukan sekadar angka, melainkan bukti perjalanan panjang penuh pengabdian. Korem 072/Pamungkas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Yogyakarta.
“Kami berkomitmen terus bersinergi dengan pemerintah daerah, Polri, instansi terkait, dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keamanan, kedamaian, dan kondusivitas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pagelaran wayang ini tidak sekadar hiburan. Wayang merupakan tuntunan hidup, warisan budaya adiluhung yang sarat pesan moral tentang kebaikan, keadilan, dan persatuan.
Wayang Jadi Jembatan Persaudaraan
Di tengah derasnya arus modernisasi, Danrem berharap pagelaran ini menjadi perekat kebersamaan. Menurutnya wayang kulit mampu menyatukan hati dan pikiran kita, meredakan ketegangan, sekaligus memperkuat tali persaudaraan antar sesama anak bangsa, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebagai kota budaya, Yogyakarta memang dikenal dengan akar tradisi yang kuat. Korem 072/Pamungkas menegaskan komitmennya untuk ikut menjaga dan mengembangkan seni budaya lokal agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Gelaran Wayang Kulit Ngamarta Binangun bukan hanya menjadi puncak perayaan ulang tahun ke-64 Korem 072/Pamungkas, melainkan juga wujud nyata pelestarian seni tradisi. Penonton tidak hanya disuguhi tontonan, tetapi juga tuntunan kehidupan yang relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Dengan suasana yang penuh khidmat sekaligus meriah, perayaan HUT ke-64 Korem 072/Pamungkas berhasil menghadirkan harmoni antara nilai perjuangan, pengabdian, dan pelestarian budaya.
Semangat Pandawa membangun Amarta pun seolah menyatu dengan semangat Korem 072/Pamungkas dalam membangun ketahanan dan persatuan bangsa.










