bernasnews – Pametri Wiji mengadakan sarasehan spesial bertema “Interaksi Keris Pusaka dengan Sang Pemiliknya” bersama nara sumber Prof. KPH. Ki Ismara Kusumatatwa di kediaman RM Suryo Putro, Kompleks Colombo Yogyakarta, Minggu (31/8/2025). Pametri Wiji merupakan kepanjangan dari Paheman Memetri Wesi Aji yang berdiri di Yogyakarta, 17April 1983.
Setelah paparan dan dilakukan tanya jawab ada salah satu rangkaian acara yang selalu ditunggu oleh para peserta sarasehan yaitu Mirsani/Nanting Dhuwung dari keris pusaka atau tosan aji yang dibawa oleh para peserta sarasehan untuk kemudian dibabar oleh para Kurator atau Senior Pametri Wiji yang pada kesempatan itu dilaksanakan oleh Victor, MH dan Wahyu Padmana, SH, MH. Mereka berdua merupakan Assessor Keris LSP Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Pusaka Keris atau Tosan Aji yang sudah dibabar tersebut kemudian diedarkan secara bergantian kepara peserta sarasehan untuk dapat menanting dan mengamati dengan harapan agar dapat mengetahui kriteria materi keris yang bagus ataupun yang kurang untuk menambah pengetahuan serta wawasan para peserta sarasehan. Seusai acara sarasehan terus diadakan ramah tamah sambil menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan oleh keluarga pengunduh,” kata RM Suryo Putro kepada bernasnews di Yogyakarta, Kamis (4/9).
PERJALANAN PAMETRI WIJI
Mengenang perjalanan Pametri Wiji, Suryo Putro mengemukakan, di masa dalu sebelum terdapat suatu wadah resmi bagi pengemar tosan aji untuk berkumpul dan berdiskusi, kegiatan serupa sudah kerap kali dilakukan secara informal oleh para pemerhati budaya tosan aji. Tetapi sarasehan dan diskusi tersebut sifatnya tertutup dan hanya diikuti oleh sedikit peserta yang sudah saling mengenal, sehingga sulit sekali bagi orang awam untuk belajar dan mendalami budaya tosan aji.
Dengan situasi yang demikian, pengertian dan pemahaman tentang budaya tosan aji sulit sekali dipelajari dan menyebar. Pada akhirnya hal ini dapat mengakibatkan punahnya budaya tosan aji di Indonesia.
Prihatin dengan situasi tersebut dan terilhami oleh organisasi penggemar tosan aji “Bowo Roso” yang telah berdiri terlebih dahulu di Surakarta, penggemar tosan aji Yogyakarta yang dipelopori oleh RM. Supono dan Suwarsono Lumintu mengemukakan ide untuk membentuk suatu wadah perkumpulan bagi penggemar tosan aji di Yogyakarta yang akan mengkaji segala hal yang bersangkutan dengan tosan aji, serta terbuka untuk umum guna memudahkan masyarakat awam untuk mempelajari budaya tosan aji.
Menurut Suryo Putro, ide tersebut kemudian disampaikan kepada penggemar tosan aji lainnya di Yogyakarta. Setelah melalui rapat-rapat kecil di kediaman Suwarsono Lumintu yang dihadiri antara lain oleh Ir. Haryono Arumbinang, M.Sc., RM. Widitomo dan KRT Tarunaseputra, kemudian disepakati untuk segera merealisasikan ide tersebut.
Akhirnya, pada hari Minggu Pon 17 April 1983 dalam suatu sarasehan penggemar tosan aji di nDalem Mangunkusuman, Yogyakarta didirikanlah suatu perkumpulan penggemar tosan aji yang diberi nama Paheman Memetri Wesi Aji yang disingkat PAMETRI WIJI. Nama tersebut diusulkan oleh KRT Puspodiningrat, yang juga menciptakan lambang Pametri Wiji berupa Mahkota dengan gambar gatra dan trisula di tengahnya, yang sekaligus merupakan suryasengkala tahun berdirinya Pametri Wiji, yaitu “ Trisula ing Tengahing Gatra Ratu“.
Pada saat pertama kali didirikan, Pengurus Pametri Wiji terdiri dari Ketua Umum KPH Mandoyokusumo, Ketua Harian Ir. Haryono Arumbinang, M.Sc., Wakil Ketua Harian Drs Kardono, serta Sekretaris dan Bendahara, yang masing-masing dijabat oleh Suwarsono Lumintu dan RM Widitomo, serta Drs. KGPH. Poeger sebagai Pelindung.
Satu tahun setelah didirikan, Pametri Wiji mendapat kepercayaan dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk turut serta meramaikan acara perayaan Sekaten, dengan menampilkan pameran tosan aji koleksi anggotanya di Sitihinggil Karaton Ngayogyakarta.
Saat ini Ketua Umum Pametri Wiji dijabat oleh dr. RM.Kunyun Marsindro, Sp.Rad atau KRT. Puspadingrat, Ketua Hariannya adalah RM. Enggar Pikantoyo nama asli dari KRT. Kusumonegara sedangkan Sekretaris dijabat oleh Boedhi Aditya.
Kegiatan rutin yang dilakukan oleh Pametri Wiji salah satunya menyelenggarakan sarasehan yang terbuka untuk umum setiap bulan sekali di Ndalem Puspadiningrat, Yogyakarta dengan mengangkat tema yang berkaitan dengan budaya Jawa antara lain terkait Tosan Aji, Tari, Batik, Busana, Wayang Wong, Perhiasan Perak, Jamasan Pusaka, Arsitektur Rumah Jawa serta materi tentang budaya Jawa lainnya. Adapun narasumbernya diambil dari para Pengurus serta Anggota Pametriwiji itu sendiri yang memang pakar di bidangnya masing masing. (*/mar)












