News  

Program Jogja Sapa Lansia: Pemkot Yogyakarta Libatkan Mahasiswa untuk Dampingi Lansia Tirah Baring 

Program Jogja Sapa Lansia
Program Jogja Sapa Lansia

bernasnews– Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali memperlihatkan kepeduliannya terhadap warga lanjut usia. Melalui program Jogja Sapa Lansia, Pemkot menggandeng mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk terjun langsung mendampingi lansia tirah baring yang membutuhkan perhatian intensif.

Langkah ini menjadi upaya nyata mencegah keterlantaran sekaligus meningkatkan kualitas hidup lansia, agar mereka tetap mendapatkan perawatan dan pendampingan di lingkungan keluarga serta masyarakat.

Fokus Program Jogja Sapa Lansia

Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Dinsosnakertrans Kota Yogyakarta, Indrawati, menegaskan program ini dirancang untuk menekan kasus lansia terlantar yang kerap berujung pada rujukan ke panti.

“Melalui program ini, kami ingin memastikan selalu ada pihak yang bertanggung jawab. Lansia tidak boleh dibiarkan sendirian,” tegasnya, mengutip kabarjawa.com.

Awalnya, Jogja Sapa Lansia hanya sebatas gerakan menyapa warga lanjut usia. Namun, kini program ini berkembang menjadi lebih komprehensif dengan menyasar dua kelompok besar: lansia tirah baring yang memerlukan pendampingan intensif serta lansia mandiri yang tetap membutuhkan perhatian dan dukungan sosial.

Indrawati menambahkan, keluarga tetap menjadi pilar utama dalam merawat lansia. Pemerintah hadir untuk memperkuat peran keluarga sekaligus membangun kepedulian masyarakat.

“Yang utama tetaplah keluarga. Kami ingin kualitas hidup lansia meningkat, anak-anak lebih peduli, dan masyarakat sekitar ikut serta menjaga. Merawat orang tua bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Tahap Pertama

Pada tahap awal, program ini sudah berjalan di enam kelurahan: Baciro, Gedongkiwo, Semaki, Wirogunan, Purbayan, dan Kotabaru. Dari hasil identifikasi, terdapat 64 lansia tirah baring yang mendapat pendampingan.

Proses identifikasi tidak hanya dilakukan melalui jalur birokrasi, melainkan juga melibatkan Komisi Lansia, jaringan komunitas, dan tokoh masyarakat agar bantuan tepat sasaran.

Dalam pelaksanaannya, Pemkot Yogyakarta menggandeng mahasiswa dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Program Studi Psikologi, STIKES Bethesda, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).

Para mahasiswa memberikan kontribusi sesuai bidang keilmuan masing-masing, mulai dari pemeriksaan psikologis, edukasi perawatan lansia, hingga dukungan mental bagi caregiver yang mendampingi setiap hari.

“Pendampingan ini memberikan dampak signifikan. Ada lansia yang sebelumnya hanya bisa tirah baring, kini sudah mampu bangun karena edukasi perawatan dari mahasiswa kepada caregiver. Perkembangan ini sangat menggembirakan,” jelas Indrawati.

Kesuksesan tahap pertama membuat Pemkot menyiapkan tahap kedua dengan cakupan lebih luas. Kali ini, kolaborasi akan melibatkan organisasi profesi seperti Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), serta LPK Insan Medika Academy.

Tahap kedua menyasar seluruh kelurahan di Kemantren Gondomanan, Rejowinangun, dan Ngampilan. Targetnya, semakin banyak lansia tirah baring yang mendapatkan pendampingan, semakin sedikit pula kasus keterlantaran lansia di Kota Yogyakarta.

Indrawati menegaskan, keberhasilan program ini hanya mungkin terwujud jika ada sinergi banyak pihak.

“Minimal ada edukasi kepada masyarakat, jejaring yang saling mendukung, serta sistem yang bisa membantu mobilitas maupun akses pelayanan lansia. Jika semua pihak peduli, kita bisa mengurangi keterlantaran lansia secara signifikan di Kota Yogyakarta,” pungkasnya.***(Eln)