bernasnews – Kalau bicara tentang pengungsi di Aceh, apa yang masuk ke dalam pikiran atau ingatan Anda? Pengungsi Rohingya? Siapa mereka? Orang-orang Rohingya adalah salah satu etnis yang mendiami satu negara bagian di Myanmar, yakni Rakhine State, tetapi tidak diakui sebagai bagian dari warga negara.
Oleh karena penganiayaan yang dialami, sebagian besar dari mereka telah meninggalkan Myanmar, tinggal di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh (1,3 juta), tinggal dan bekerja secara non-prosedural di Malaysia (200 ribu), dan sebagian kecil mengungsi ke Indonesia (1.300 orang).
Di Aceh saat ini ada 300-an pengungsi Rohingya, tinggal di empat kamp sementara (dalam tenda-tenda dan bangunan lama yang tidak/belum akan dipergunakan oleh orang Indonesia).
Di dunia ini ada lebih dari 120 juta orang terpaksa mengungsi oleh beragam beragam sebab : persekusi, konflik sosial, perang. Beberapa negara menampung lebih dari 1 juta pengungsi (Iran, Turki, Colombia, Jerman, Uganda). Di Indonesia, jumlahnya tidak sampai 12.000 orang, yakni para pengungsi dari luar negeri dan konon 60.000 pengungsi dalam negeri.
Ada pula para migran international. Ada lebih dari 300 juta orang meninggalkan negeri asal untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di negeri orang. Indonesia menjadi penyumbang yang cukup besar. Ada 9 juta orang Indonesia menjadi migran di luar negeri (paling banyak di Malaysia, sebagian di Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan – di negeri ini pekerja migran terbesar adalah dari Indonesia, Jepang, Australia, Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan Timur Tengah), untuk bekerja dan ada juga untuk belajar (45,000 mahasiswa – data 2016).
Sayangnya, sekitar 5 juta pekerja migran berangkat tanpa melalui prosedur yang benar. Mereka disebut pekerja migran non-prosedural, undocumented migrants, illegal migrants. Mereka ini rentan jadi korban perdagangan orang dan praktik eksploitasi yang membahayakan keselamatan mereka.
Data di atas mau menggambarkan bahwa kita hidup di zaman migrasi. Namun, kalau kita merenungkan hidup kita atau sejarah hidup umat manusia di dunia ini, kita bisa mengatakan bahwa kita semua adalah para migran di dunia ini. Untuk dapat hidup baik, sebagian besar dari kita harus berpindah, sebagian besar tidak sampai ke luar negeri, tapi dari satu kota ke kota lain, dari satu daerah ke daerah lain.
Manusia adalah makhluk yang berpindah, Homo migrans! Sekitar 200 ribu tahun lalu, nenek moyang kita Homo sapiens, meninggalkan Afrika dan menyebar ke seluruh dunia dan sekarang memenuhi bumi. Perpindahan atau migrasi tidak terelakkan demi berlanjutnya kehidupan dan penghidupan yang lebih layak.
Kitab Suci memperlihatkan kepada kita kisah-kisah migrasi, disebut migrasi biblis. Ingat kisah panggilan Abraham, yang diminta Tuhan Allah untuk meninggalkan Ur Kasdim menuju tanah yang dijanjikan. Ingat kisah Keluaran Israel dari Mesir. Ingat kisah pembuangan ke Babel dan kembalinya Israel dari Babel.
Tuhan Yesus yang datang ke dunia untuk keselamatan kita pun dapat dimaknai sebagai migrasi Allah ke dunia, migrasi dari kekekalan menuju dunia manusia, hidup bersama-sama kita, melaksanakan karya keselamatan, dan kemudian kembali kepada Bapa untuk mempersiapkan tempat bagi kita manusia, yang sedang berjalan menuju kepada-Nya.
Setiap tahun, Gereja memperingati Hari Migran dan Pengungsi Sedunia. Tahun ini Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-111 akan dirayakan pada 4 – 5 Oktober 2025. Tema yang diberikan oleh mendiang Paus Fransiskus adalah “Para Migrans, Missionaris Pengharapan”. Tema ini dipilih sehubungan dengan Tahun Yubileum Pengharapan dan juga bertepatan dengan Tahun Yubileum Migran dan Pengungsi. Dalam pesannya, Paus Leo XIV mengajak kita untuk merefleksikan keterkaitan antara harapan, migrasi dan misi.
Dengan konteks global yang ditandai dengan perang, kekerasan, ketidakadilan, cuaca ekstrem, sehingga memaksa jutaan orang untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka dan mencari tempat lain untuk mempertahankan hidup, dalam konteks dunia atau negara-negara dengan kecenderungan untuk memikirkan kepentingan masing-masing (yang penting bangsaku, kelompokku, keluargaku dulu yang selamat), kita diajak untuk menyadari kembali martabat kemanusiaan yang berlaku untuk semua dan menumbuhkan semangat solidaritas serta harapan antarmanusia.
Hubungan antara migrasi dan harapan sangat jelas tergambar dalam banyak pengalaman migrasi, demikian kata Paus Leo. Para migran dan pengungsi adalah saksi-saksi pengharapan. Mereka menunjukkan pengharapan mereka melalui resiliensi dan keyakinan kepada Allah dalam perjalanan mereka dan dalam kehidupan sehari-hari di negeri asing.
Para migran dan pengungsi Katolik, secara khusus, menjadi para misionaris pengharapan di negeri-negeri yang menerima mereka, membuka jalan bagi iman akan Yesus Kristus kepada mereka yang belum mengenal Dia, melalui perjumpaan antaragama dan budaya, dalam hidup sehari-hari, dalam upaya membangun nilai-nilai bersama. Melalui antusiasme rohani, telah banyak dijumpai bagaimana para migran ini merevitalisasi komunitas-komunitas gerejawi yang kaku dan melorot kualitas rohaninya.
Kalau kita sekarang bisa berkumpul dalam nama Yesus, kalau Katolisitas dapat hidup dan berkembang di Indonesia, di seluruh dunia, itu semua karena gerak migrasi para misionaris pendahulu kita. Extra Migrationem nulla Ecclesia. Tanpa migrasi tidak akan Gereja. Dan, kalau Tanpa Gereja tidak akan ada Keselamatan (Extra Ecclesiam Nulla Salus), maka Tanpa Migrasi tidak akan ada Keselamatan (Extra Migrationem Nulla Salus).
Injil hari Minggu (24/8/2025) menggambarkan umat manusia dalam migrasi atau perjalanan menuju Kerajaan Allah. “Orang akan datang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan, dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.”
Namun, Yesus juga berkata, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” Dan Ia menambahkan, “Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama, dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir.”
Kita perlu merenungkan bagaimana kita menghayati perjalanan migrasi kita menuju kepada Kerajaan Allah. Apakah aku telah mengusahakan hidup yang bersolider, hidup yang penuh kasih konkret terhadap mereka yang lemah, kecil, tersingkir, para migran rentan di sekitarku?
Dalam perumpamaan mengenai Penghakiman Terakhir (Matius 25: 31-36) dikisahkan, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”
Paus Leo menutup pesannya dengan kata-kata berikut ini: “Pada Yubileum ini, ketika Gereja berdoa bagi semua migran dan pengungsi, saya ingin mempercayakan semua orang yang sedang dalam perjalanan, serta mereka yang bekerja untuk mendampingi mereka, kepada perlindungan keibuan Perawan Maria, penghibur bagi para migran, sehingga ia dapat menjaga harapan tetap hidup di hati mereka dan menopang mereka dalam komitmen mereka untuk membangun sebuah dunia yang semakin menyerupai Kerajaan Allah, tanah air sejati yang menanti kita di akhir perjalanan kita.” (mar/Martinus Dam Ferbrianto, SJ., Country Director Indonesia JRS/Jesuit Refugee Service)











