bernasnews – Memasuki bulan kebangsaan, menjelang ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 80 tahun, Umat Katolik Lingkungan Santo Yusup Sutopadan, Paroki Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta mengadakan sarasehan dengan topik “Keluarga Sebagai Tempat Tumbuhnya Kekatolikan dan Semangat Kerasulan.” Sarasehan yang dilaksanakan di rumah A. Heru Atmana, Kamis (7/8/ 2025) malam ini dihadiri kurang lebih 30 orang anggota lingkungan.
Pemandu sarasehan Andreas Wahyu K. menyampaikan apa yang telah dibuat oleh Keuskupan Agung Semarang (KAS) melalui buku Panduan Pertemuan Bulan Kebangsaan Agustus 2025. Ia mengatakan, sebagai warga masyarakat umat Katolik tentu juga terlibat dalam berbagai aktivitas dan kegiatan yang diadakan oleh masyarakat dimana mereka tinggal.
“Namun sebagai warga Gereja, kita diajak untuk memaknai bulan Agustus ini secara lebih mendalam. Kegiatan yang kita lakukan mungkin sama, tetapi kita diajak untuk menghubungkan semua itu dengan iman Kekatolikan kita. Apakah gerak langkah umat Katolik di tengah masyarakat memiliki kaitan dengan penghayatan iman? Itulah yang akan kita renungkan bersama melalui pertemuan-pertemuan di bulan katekese kebangsaan ini,” kata dia.
Pertemuan Katekesae Bulan Kebangsaan Tahun 2025 ini dibagi dalam dua kali pertemuan. Pertemuan pertama membahas keluarga sebagai tempat tumbuhnya kekatolikan dan semangat kerasulan. Pertemuan kedua membicarakan lingkungan sebagai komunitas basis Gerejawi yang umatnya langsung bersinggungan dengan kehidupan konkret di tengah masyarakat.
Keluarga adalah sebuah institusi ilahi, yaitu sebuah persatuan yang oleh Allah diletakkan dalam kodrat manusia ketika diciptakan sebagai tempat awal untuk membentuk fundamen kehidupan pribadi-pribadi manusia. Maka keluarga bukan hanya sekadar satu kesatuan yuridis, sosial dan ekonomi.
Namun keluarga mampu membentuk kesatuan cinta kasih dan solidaritas yang secara sangat istimewa merupakan sarana yang memadai untuk mengakarkan (atau menginternalisasikan) nilai-nilai budaya, etis, sosial, rohani dan religius serta mentradisikan nilai-nilai tersebut sebagai nilai-nilai yang penting bagi perkembangan dan kebahagiaan para anggotanya dan seluruh warga masyarakat.
Yoseph nai Helly yang hadir pada acara itu mengemukakan, dunia digital meskipun mampu menghubungan semakin banyak orang dengan mudah, namun juga berisiko menipiskan relasi interpersonal yang sesungguhnya. Banyak orang (bahkan di tengah keluarga) berkumpul dan masing-masing sibuk dengan HP masing-masing. Kita tidak bisa melihat wajah saudara, sahabat yang sakit hati dengan komentar kita di dunia digital; bahkan kita menertawakan tindakannya yang tiba-tiba keluar dari group.
“Dunia digital telah menghilangkan makna kata “SRAWUNG” dengan segala kekayaannya karena kita berjumpa secara konkret dengan hati dan tubuh-raga serta segala ekspresinya.” kata dia. (*/mar)











