News  

Novel “Katri” Angkat Sosok Perempuan yang Kuat Hadapi Kekerasan Kehidupan

Penulis novel “Katri” Adeste Adipriyanti (tengah) dalam obrolan buku di Buku Akik, Ngaglik, Sleman, DIY, Jumat 8/8/2025. (Foto : Kiriman Yoseph NH)

bernasnews – Obrolan akrab bertajuk “Perempuan dalam Sastra” membedah novel “Katri” bersama penulisnya Adeste Adipriyanti di Buku Akik, Jalan Kaliurang Km. 12 Gang Besi Raja Nomor 60 D, Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, Jumat (8/8/2025). Acara santai tapi menarik ini dimoderatori oleh Ruhaeni Intan. Hadir kurang lebih 20 orang dan para pengunjung Buku Akik yang ingin melihat atau membeli buku.

Buku novel “Katri” ini cukup menyita waktu panjang sebab yang ditulis adalah sebuah kisah perjalanan seorang perempuan dengan berbagai liku-liku kehidupan yang harus dijalani. Di buku fiksi sejarah penuh kreativitas ini, penulis Adeste mengangkat seorang tokoh perempuan yang kuat dalam menghadapi keadaan yang begitu rumit karena harus dipenjara dengan alasan yang tidak jelas.

Katri yang hadir sebagai tokoh perempuan dalam novel ini mengatakan bahwa ia hanyalah seorang perempuan biasa tanpa label apapun, harus menjalani sebuah peristiwa kekerasan. Menurut dia hal itu atas kehendak Tuhan sebab jika Tuhan tidak menghendaki maka semua peristiwa atau kejadian tidak akan terjadi.

Penulis Adeste menyampaikan bahwa Katri sangat sedih ketika ditanyakan tentang keluarganya. Ibu itu mengemukakan, selama menjalankan hukuman di penjara, kasih, kesabaran, dan kesetiaan ibunya merupakan kekuatan sebab ia selalu mengunjunginya di dalam penjara untuk menguatkannya.

Moderator Ruhaeni Intan menanyakan apa harapan Katri dalam menyongsong 80 tahun tahun kemerdekaan Republik Indonesia? Dia menjawab bhwa novel ini perlu dibaca oleh generasi muda terutama kaum perempuan agar mengetahui sejarah dengan baik sehingga tidak tertipu oleh kebenaran palsu yang dibuat oleh mereka yang tidak jujur.

“Kemerdekaan adalah kebebasan yang tidak dibelenggu. Kemerdekaan itu juga artinya kebebasan dan tidak ada kebencian kepada siapapun termasuk mereka yang menyiksa sekalipun ketika berada di dalam penjara,” kata dia.

Yoseph Nai Helly yang hadir mewakili Majalah “Literasi Guru” (MALIGU) dan Pustakawan STPN Yogyakarta menanyakan konsekuensi penulisan buku fiksi sejarah ini yang mungkin saja disalahpahami oleh mereka yang tersinggung atas kebenaran ini?

Penulis buku Adeste menjawab bahwa salah satu alasan itu yang membuat lamanya penyelesaian buku novel tersebut. Namun karena sejarah tentang fakta yang dialami oleh iatri maka konsekuensi apapun harus diambil untuk menyampaikan kebenaran tentang peristiwa kekerasan yang pernah dialami. Bukan untuk apa-apa, tetapi agar ada jejak bagi generasi muda selanjutnya untuk diketahui ada kekerasan terhadap perempuan di masa lalu tanpa alasan. (mar/Yoseph Nai Helly, Majalah “Literasi Guru”)