bernasnews – Lomba menulis dalam format surat untuk Santa Helena itu penting dan memberdayakan. Bukan saja dalam mengembangkan kemampuan menulis, tapi meneguhkan sosok Santa Helena sebagai bagian dari pengembangan iman pribadi dan lingkungan.
“Lewat menulis surat, umat menggali perasaan dan pikiran pribadinya yang dalam terhadap Santa Helena, baik berupa curahan hati, penghargaan, maupun permohonan. Format surat sifatnya personal, sehingga pengungkapannya bisa lebih jujur, terbuka dan menyentuh. Pada akhirnya, secara psikologis ini akan mendekatkan dan mengakrabkan jarak Santa Helena dalam diri umat,” kata juri lomba menulis surat kepada Santa Helena, Anindya Barata, kepada bernasnews di kediamannya, Perum Green Mutiara Java Regency, Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY, Sabtu (9/8/2025).
Lomba menulis surat kepada Santa Helena ini diadakan oleh Lingkungan Santa Helena, Paroki Gereja Santo Yakobus, Bantul, DIY melalui Tim Kerja Komunikasi Sosial (Timja Komsos) lingkungan, Buletin “Tinta Helena” dan Helena Menulis.
Menurut Anindya yang purna tugas di sebuah rumah budaya di Bantul ini, tulisan para peserta lomba sebagian besar sudah bagus dan sistematis, dengan kekhasannya masing-masing. Mereka menggambarkan Santa Helena sebagai sosok yang patut diteladani. Sebagian mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapi, baik dalam konteks pribadi maupun umat lingkungan.
“Beberapa peserta menonjol dalam gaya bahasa dan pengungkapan suara pribadinya dengan penuh penghayatan sehingga terasa sangat menyentuh. Pembaca bisa ikut merasakan, bukan sekadar memahami, apa yang diekspresikannya,” kata dia.
Juri lain, Willy Putranta, mengatakan, lomba menulis surat kepada Santa Helena ini merupakan sebuah terobosan bagi komunitas umat Katolik di tingkat lingkungan, terlebih di lingkungan yang baru terbentuk. Sangat jarang, bahkan langka, ada lomba menulis yang diselenggarakan oleh lingkungan seperti ini.
Peserta menulis surat kepada Santa Helena dengan menyampaikan ungkapan pribadi, personal, sehingga ada kegelisahan, harapan, maupun pandangan yang disampaikan kepada Santa Helena sebagai pelindung lingkungan.
“Saya harap, lomba semacam ini terus dilaksanakan oleh Lingkungan Santa Helena sebagai tradisi khas dan menjadi sarana meningkatkan budaya literasi bagi umat,” kata Willy yang jurnalis Majalah UTUSAN Yogyakarta ini. (mar)











