News  

DJPPR Tingkatkan Literasi Keuangan Lewat Edukasi APBN dan SBN Ritel di Yogyakarta

bernasnews — Pemerintah terus mendorong masyarakat agar aktif berperan dalam pembangunan nasional.Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) melalui Direktorat Surat Utang Negara (SUN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kantor Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan edukasi dan sosialisasi bertajuk “Peran Pembiayaan APBN dan Literasi Investasi SBN Ritel”.

Pemerintah menghadirkan kolaborasi strategis bertajuk Kemenkeu Satu, yang tidak hanya memperkuat sinergi antarunit di lingkungan Kementerian Keuangan, tetapi juga memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya pembiayaan negara.

Tak tanggung-tanggung, kegiatan ini melibatkan perwakilan dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan kantor-kantor vertikal Kementerian Keuangan se-DIY.

Erna Sulistyowati selaku Kepala Kanwil DJP DIY membuka acara dengan semangat optimisme. Ia memaparkan kondisi pelaksanaan APBN 2025 yang tetap kredibel dan sehat meski dunia terus dibayangi ketidakpastian global.

Dalam sambutannya, Erna menegaskan bahwa pemahaman publik tentang pembiayaan APBN dan manfaat investasi dalam Surat Berharga Negara (SBN) mutlak diperlukan.

“Jika masyarakat memahami peran strategis pembiayaan APBN, maka partisipasi dalam mendukung pembangunan nasional akan tumbuh. Investasi SBN bukan hanya menguntungkan, tetapi juga berdampak langsung pada masa depan bangsa,” ujar Erna tegas.

Literasi Investasi dan Antusiasme Masyarakat

Pernyataan Erna diamini oleh Chandra A.S. Wibowo, Analis Keuangan Negara Ahli Madya dari Direktorat SUN, yang hadir sebagai pembicara kunci.

Chandra menyoroti peran vital APBN sebagai instrumen pembangunan yang tidak hanya merespons kondisi makroekonomi, tetapi juga mendorong pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.

“Pemerintah mengelola pembiayaan utang secara hati-hati, fleksibel, dan oportunistik. Kami menimbang waktu penerbitan, jumlah, instrumen, dan komposisi mata uang secara saksama. Semua dilakukan agar APBN tetap sehat dan efektif,” ungkap Chandra.

Sesi paparan materi berlangsung hangat dan interaktif. Rena Mustika Tresna dari Direktorat SUN memandu jalannya diskusi sebagai moderator.

Ia mengawal sesi pemaparan yang dibawakan oleh Yoesman A. Setyawan, Kepala Seksi Program dan Sistem Kerja Direktorat SUN. Yoesman mengupas tuntas konsep perencanaan keuangan dan investasi yang mudah dipahami peserta.

Yoesman menyampaikan bahwa literasi keuangan menjadi fondasi penting dalam mencapai tujuan finansial individu dan keluarga. Ia menekankan pentingnya memilih instrumen investasi yang aman dan sesuai dengan kebutuhan.

Pada kesempatan tersebut, Yoesman juga memperkenalkan SBN Ritel seri SBR014, yang saat ini tengah memasuki masa penawaran.

“SBR014 menawarkan kombinasi ideal antara keamanan, kemudahan, dan imbal hasil yang kompetitif. Produk ini sangat cocok bagi masyarakat yang ingin berinvestasi sekaligus berkontribusi langsung terhadap pembangunan nasional,” jelas Yoesman.

Antusiasme peserta tampak tinggi. Banyak dari mereka menyampaikan pertanyaan hingga sesi diskusi berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan.

Peserta menunjukkan minat besar terhadap isu pembiayaan negara dan peluang investasi melalui instrumen SBN ritel.

Penyelenggara berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi mampu menggugah kesadaran dan partisipasi masyarakat.

Dengan memahami mekanisme pembiayaan APBN dan potensi investasi SBN, masyarakat diharapkan mampu menjadi investor yang cerdas dan patriotik. (Eln)