bernasnews – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, melakukan kunjungan ke Gallery Welas Asih pada Sabtu, 26 Juli 2025, sebuah ruang seni milik budayawan Handoyo Wibowo, yang lebih dikenal dengan nama Koh Hwat.
Dalam kunjungan tersebut, Hasto didampingi oleh Komandan Kodim 0734/Kota Yogyakarta, Kolonel Inf. Arif Setiyono.
Setibanya di lokasi yang beralamat di Jalan Veteran No. 78, suasana kehangatan langsung terasa saat Koh Hwat menyambut kehadiran Wali Kota.
Momen ini bukan hanya sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap kontribusi Koh Hwat dalam menjaga dan menghidupkan budaya Jawa, khususnya lewat geguritan.
Gallery Welas Asih menyimpan lebih dari 4.000 geguritan karya Koh Hwat yang ditulis selama bertahun-tahun. Ribuan puisi berbahasa Jawa ini disusun dan dipajang rapi dalam bingkai-bingkai di sepanjang dinding galeri.
Geguritan tersebut tidak hanya indah secara bentuk, namun juga kaya makna. Mulai dari pesan moral, renungan kehidupan, hingga kritik sosial, semuanya dirangkum dalam gaya sastra khas Jawa.
Geguritan Sebagai Cerminan Jiwa dan Warisan Budaya
Selama berkeliling, Wali Kota tampak terkesan dan menyampaikan rasa hormatnya terhadap dedikasi Koh Hwat dalam melestarikan bahasa dan sastra Jawa.
“Ini bukan hanya soal karya seni, tetapi ini adalah bentuk cinta luar biasa terhadap budaya Jawa. 4.000 geguritan adalah bukti ketekunan, konsistensi, dan jiwa kepedulian budaya yang patut dijadikan inspirasi,” ujar Hasto.
Ia menegaskan bahwa kumpulan geguritan tersebut merupakan aset budaya tak ternilai, bukan hanya bagi Kota Yogyakarta, namun juga bagi bangsa Indonesia.
“Geguritan-geguritan ini bukan hanya sekadar tulisan, tapi juga cerminan dari pemikiran, perasaan, dan kepedulian Koh Hwat terhadap sesama dan lingkungan. Ini adalah warisan yang patut kita lestarikan dan jadikan inspirasi,” katanya.
Hasto juga menambahkan bahwa upaya seperti ini penting dalam membentuk karakter generasi muda melalui akar budaya.
“Budaya adalah benteng bangsa. Apa yang dilakukan Koh Hwat sejalan dengan semangat kebangsaan membangun Indonesia dari akar budaya sendiri,” ucapnya.
Di sisi lain, Koh Hwat menjelaskan bahwa geguritan-geguritan yang ia hasilkan merupakan refleksi dari pengamatan, pengalaman hidup, dan perenungannya selama bertahun-tahun. Ia menyebut Gallery Welas Asih bukan hanya sebagai tempat memajang karya, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan kontemplasi.
“Gallery Welas Asih bukan hanya ruang pajang, tetapi juga ruang edukasi dan kontemplasi,” ungkap Koh Hwat.
Menurutnya, tema utama dari karya-karyanya adalah kemanusiaan, spiritualitas, kehidupan, dan kritik sosial. Ia berharap geguritan dapat menjadi sarana menyampaikan nilai-nilai luhur di tengah derasnya arus modernisasi.
“Saya ingin budaya Jawa tetap hidup di tengah arus modernisasi. Geguritan adalah cara saya menyuarakan nilai-nilai luhur itu kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia pun berharap karyanya bisa menjadi sarana berbagi kebaikan dan pengingat akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan.
Kunjungan tersebut juga diwarnai dengan dialog budaya singkat dan penampilan pembacaan salah satu geguritan oleh Koh Hwat. Momen ini menandai pentingnya peran seniman dan budayawan dalam menjaga identitas kultural di tengah zaman yang terus berubah. (Eln)












