News  

Sarasehan 200 Tahun Perang Jawa Edukatif dan Hidupkan Literasi Sejarah Lokal

Penyerahan kenang-kenangan gambar Pangeran Diponegoro oleh Dewan Pertimbangan Patra Padi kepada para narasumber Sarasehan 200 Tahun Perang Jawa di Purworejo, Minggu 20/7/2025. (Foto : Kiriman Suryo Putro)

bernasnews – Sarasehan untuk memperingati 200 tahun Perang Jawa bukan hanya merupakan peringatan, tetapi momentum edukatif yang menghidupkan literasi sejarah lokal. Kegiatan ini telah menyemarakkan Kembali ingatan kolektif akan Perang Jawa.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi lintas komunitas atas kegiatan ini,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Stefanus Aan dalam sambutan sarasehan Peringatan 200 Tahun Perang Jawa di Rumah Budaya Tjokrodipo di Kali Kepuh, Sindurjan, Purworejo, Jawa Tengah, Minggu (20/7/2025).

Suryo Putro dari Dewan Pertimbangan Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) kepada bernasnews di Yogyakarta, Senin (21/7) mengatakan, acara ini sukses digelar dengan antusiasme tinggi, menghadirkan lintas generasi untuk merenungi salah satu peristiwa besar dalam sejarah bangsa.

Menurut dia, sarasehan mengangkat dua tema sentral yakni “Perang Jawa: Dilema Tjokronogoro” dengan pembicara Dr. Sudibyo M.Hum. dan “Perang Jawa dari Sudut Pandang yang Lain: Novel Glonggong Karya Junaedi Setiyono” dengan pembicara Bagas Pratyaksa Nuraga dan penangap Dr.  Junaedi Setiyono, M.Pd. Sebagai moderator yakni Mahestya Andi Sanjaya dan Achmad Fajar Chalik.

“Dipandu secara apik oleh Mastri Imammusadin, S.H, sarasehan ini tak sekadar menjadi ajang diskusi, namun juga peristiwa kebudayaan yang mempertemukan tokoh intelektual, seniman, sastrawan, dan pegiat budaya dalam satu panggung dialog yang mendalam,” kata dia.

Pembicara Dr. Sudibyo menekankan pentingnya peringatan ini sebagai refleksi nilai-nilai perjuangan dan kesadaran sejarah. Perang Jawa bukan sekadar konflik bersenjata, tapi juga pertempuran ideologi, harga diri bangsa, dan perlawanan terhadap kolonialisme.

“Sosok Tjokronogoro menggambarkan dilema antara loyalitas pada kolonial dan suara rakyat. Kita perlu menjadikannya pelajaran, bukan sekadar kenangan,” katanya.

Sarasehan ini juga menampilkan manifestasi artistik bertajuk “Perempuan Dipanegara” dengan menampilkan Titi Prabandari, Dedy Harnanto, Harpi Melati, dan Nungki Nur Cahyani. Karya seni rupa bertema “Perang Jawa” dari Edi (Komunitas PFA) juga turut mewarnai ruangan dengan ekspresi visual yang menggugah.

Acara ini terselenggara berkat dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, serta Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Purworejo, bersama berbagai komunitas budaya seperti Patra Padi, Lelana Indonesia, Teras SeniKu, dan Nildance. (*/mar)