bernasnews – Dalam suasana penuh makna dan kebersamaan, peringatan 200 tahun Perang Diponegoro (1825–2025) digelar secara khidmat di Jawa Village Resort, Pandowoharjo, Sleman, Kamis malam (17/7/2025). Acara ini menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro dan menggugah kembali kesadaran nasional akan pentingnya jati diri bangsa.
Salah satu momen menyentuh datang dari perwakilan Pragontoro Diponegoro, yang merupakan keturunan langsung sang pahlawan nasional.
“Kami sangat terharu dan bahagia, karena ternyata yang memperingati 200 tahun Perang Jawa sangat banyak. Semoga perjuangan Pangeran Diponegoro bisa masuk ke sanubari kita semua,” ujar mereka.
Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono dalam pidatonya dengan lantang menyerukan pentingnya menjadikan peringatan dua abad Perang Diponegoro sebagai titik tolak kebangkitan nasional.
“Perjuangan Diponegoro adalah upaya mempertahankan jati diri bangsa dalam menghadapi dominasi dan ekspansi asing,” tegas Agus Jabo.
Ia menyoroti bahwa berbagai sistem dunia telah dicoba di Indonesia, namun belum membawa kemajuan signifikan. Hal ini disebabkan karena bangsa Indonesia belum benar-benar mengenal jati dirinya sendiri. “Bangsa kita seperti kerumunan yang kehilangan arah. Kita belum menemukan siapa diri kita,” ucapnya.
Agus Jabo menilai bahwa Perang Diponegoro bukan hanya perlawanan fisik, tetapi juga perlawanan budaya dan spiritual terhadap kolonialisme. Ia mengkritik strategi Belanda yang memutus sejarah bangsa Indonesia dan menjauhkan rakyat dari akar budayanya sendiri.
“Salah satu cara Belanda melemahkan kita adalah dengan memutus mata rantai sejarah dan melarang simbol-simbol kebangsaan,” katanya.
Dalam pidatonya, Agus menyampaikan harapan besar pada pemerintahan mendatang di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang menurutnya menunjukkan semangat membebaskan bangsa dari belenggu oligarki dan kemiskinan.
“Saya menyaksikan Pak Prabowo sedang berupaya membangkitkan mata batin bangsa ini. Inilah semangat Diponegoro yang relevan hari ini. Jati diri bangsa bukan hanya soal sejarah, tapi soal karakter, iman, dan keberanian. Dan itu harus terus diwariskan pada generasi muda.
Kita tidak boleh terus menjadi follower. Kita harus punya pegangan, harus punya simbol perjuangan. Mari kita cari tahu siapa diri kita. Jika bangsa ini menemukan jati dirinya, saya yakin kita bisa menjadi negara besar yang melampaui bangsa penjajah kita dulu,” tegas Agus Jabo.
PERLAWANAN KETIDAKADILAN
Sementara itu, Pengageng Padepokan Diponegaran KRT Dipoyudo menambahkan bahwa Perang Diponegoro adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang relevan sepanjang zaman.
“Beliau mengajarkan kita bahwa perjuangan bukan hanya soal menang, tapi soal martabat dan keyakinan. Dalam dunia yang terus berubah, semangat Diponegoro tetap menjadi inspirasi untuk melawan segala bentuk ketidakadilan,” tandasnya.
Peringatan ini digagas oleh budayawan Sigit Sugito dan turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti mantan anggota DPR RI Idham Samawi, Ketua IKPNI DIY GBP H. Prabukusumo, S.Psi., sejumlah budayawan dan tokoh masyarakat lainnya.
Tuan rumah Sarwoto Atmo Sutarno dalam sambutannya menyatakan bahwa Jawa Village Resort diharapkan menjadi ruang kreatif dan nyaman bagi para seniman dan budayawan untuk berkumpul dan berjejaring.
“Kami mempunyai cita-cita agar tempat ini menjadi tempat yang nyaman untuk reuni dan berkumpul para seniman. Mudah-mudahan tempat ini dapat terus memperkuat kesenian Jawa agar tetap eksis dan tumbuh sepanjang masa,” kata Sarwoto.
Di akhir acara, sebuah pesan spiritual juga mengemuka: “Jika pemerintah tidak bisa lagi diharapkan, biarlah alam semesta yang mengambil alih.”
Sebuah penutup yang merefleksikan keyakinan bahwa kekuatan budaya, spiritualitas, dan alam semesta akan selalu membimbing bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik selama kita tidak melupakan akar dan jati diri kita sendiri.
Peringatan 200 Tahun Perang Diponegoro bukan sekadar momentum sejarah, melainkan seruan untuk bangkit dan menjadi bangsa yang utuh dalam identitas, teguh dalam prinsip, dan mandiri dalam peradaban. (mar/Ajeng Putri Anggraini C. P., Mahasiswi MMTC Yogyakarta)











