News  

74 Tahun Silam, Palang Merah Pemuda Yogyakarta Propaganda Keliling Kemanusiaan

Ilustrasi panduan sebagai anggota Palang Merah Pemuda, dari buku “Palang Merah Indonesia 70 Tahun Mengabdi untuk Kemanusiaan dan Kemerdekaan”, 2015. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Sejarah mencatat, Yogyakarta pernah menjadi ibu kota Indonesia pada tahun 1946 – 1949, tepatnya tanggal 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949. Perpindahan ibu kota ke Yogyakarta dilakukan karena situasi keamanan di Jakarta tidak kondusif setelah proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Satu masa dengan peristiwa itu, Palang Merah Indonesia (PMI) yang didirikan pada 17 September 1945 mengadakan kongres pertama pada tanggal 16 – 17 Oktober 1946 dan dihadiri oleh seluruh cabang PMI di Indonesia. Pada kongres itu diputuskan untuk memindahkan kantor PMI Pusat dari Jakarta ke Yogyakarta. Di Jakarta diadakan kantor perwakilan kantor pusat di bawah pimpinan dr. Bahder Djohan.

Mulai tahun 1946 markas PMI Pusat mengemudikan kegiatannya di Jalan Gondokusuman No 14 Yogyakarta. Meski PMI Pusat berkantor di Yogyakarta, PMI Cabang Yogyakartra yang dibentuk pada tanggal 29 September 1945 tidak meleburkan diri dalam PMI Pusat melainkan tetap berkedudukan sebagai PMI Cabang dengan markas menempati sebuah gedung di Jalan Secodiningratan.

Menengok sejarah lama, menurut Indra Yogasara dari PMI Pusat pada rapat pleno penyusunan buku sejarah 80 Tahun PMI Yogyakarta di aula kantor setempat, Jalan Tegalgendu No 25 Kotagede, Yogyakarta, Kamis (10/7/2025), Palang Merah Pemuda (PMP) Yogyakarta – yang kemudian menjadi Palang Merah Remaja (PMR) — mengadakan propaganda keliling tentang kemanusiaan pada 9 – 27 Juli 1951 atau 74 tahun silam.

Apa yang mereka lakukan? Yakni dengan memutar film mengenai kesehatan, sosial, pendidikan hingga film berita dalam dan luar negeri. Selain itu, para anggota PMP itu juga mengunjungi beberapa rumah yatim.

“Rumah yatim yang mereka kunjungi adalah di Wiloso Projo, Bantul, rumah yatim Muhammadiyah di Godean, Sleman, sanatorium Pakem, Sleman. Kemudian juga sebuah rumah yatim di Kotagede, Yogyakarta,” kata Indra yang menjabat Kepala Biro Kesekretariatan Badan Diklat PMI Pusat.

CIKAL BAKAL PALANG MERAH REMAJA

Menurut buku “Palang Merah Indonesia 70 Tahun Mengabdi untuk Kemanusiaan dan Kemerdekaan” (PMI Pusat, 2015), pembentukan bagian PMP diputuskan pada Kongres ke-IV PMI di Jakarta, Januari 1050. Maka mulai 1 Maret 1950 Markas Besar PMI mempunyai bagian PMP. Kemudian disampaikan instruksi agar cabang-cabang PMI seluruh Indonesia membentuk PMP.

Kegiatan PMP didasarkan atas tiga bagian yaitu : Mempertinggi mutu kebersihan dan kesehatan, Mengabdi terhadap masyarakat, Mempererat persaudaraan nasional maupun internasional.

Kegiatan PMP tidak terlepas dari ketiga bagian tersebut. Mulai dari kebersihan diri sendiri seperti mandi, gosok gigi, mencuci tangan, hingga memberikan contoh yang baik di sekolah seperti membuang sampah pada tempatnya. Kemudian melakukan pengabdian kepada masyarakat seperti mengumpulkan uang untuk anak-anak yang sakit dan menghibur anggota angkatan perang. PMP membentuk persabahatan internasional dengan saling berkirim surat dan bertukar album kegiatan.

Kini, PMP atau Junior Red Cross dikenal sebagai Palang Merah Remaja atau Youth Red Cross berkembang sebagai kegiatan internasional di sekolah-sekolah dalam bidang kemanusiaan.  (mar)