bernasnews – Pada tanggal 7 Oktober 1945 di Yogyakarta terjadi Peristiwa Pertempuran Kotabaru. Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Yogyakarta membantu membawa korban peristiwa itu ke Rumah Sakit Petronella. Korban perang Soepadi pada waktu itu dibawa ke Gedung Asrama Militer Akademi (kini SMP N 5 Yogyakarta).
“Pada peristiwa ini, PMI Cabang Yogyakarta yang dibentuk pada tanggal 29 September 1945 berperan aktif dalam menolong korban perang dengan mengirimkan anggota-anggota Mobele Cologne atau MC ke daerah pertempuran. MC adalah pasukan gerak cepat yang memberi pertolongan darurat.
Anggota-anggota MC terdiri dari pemuda-pemudi, pelajar, mahasiswa yang tidak menggabungkan diri dalam PMI. Anggota MC di daerah kota Yogyakartya dihimpun dari pemuda-pemudi yang ada di setiap daerah Kemantren atau Mantri Pamong Praja. Selain dibawa ke Rumah Sakit Petronella, korban juga dibawa ke pos-pos PMI terdekat.
Sehubungan dengan terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat atau TKR pada 5 Oktober 1945, Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan Maklumat Nomor 6 Tahun 1945 tertanggal 27 Oktober 1945,” kata Dosen Sejarah FIB UGM Yogyakarta Baha’Uddin, M.Hum dalam Rapat Pleno Penyusunan Buku Sejarah 80 Tahun PMI Yogyakarta di aula kantor setempat, Kamis (10/7/2025).
Rapat pleno yang dibuka oleh Ketua Pelaksana Tugas PMI Kota Yogyakarta Irjen Pol (Purn) Drs. R.M. Haka Astana, M.W., S.H. ini juga menghadirkan narasumber Ketua PMI DIY G.B.P.H. H Prabukusumo, S.Psi., Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Yogyakarta K.H. Muhammad Jazir ASP, Kabiro Kesekretariatan Badan Diklat PMI Pusat Indra Yogasara, dan Ketua Pelaksana Tugas Badan Diklat DIY Warjiyani.
Menurut dosen sejarah UGM itu, Maklumat Nomor 6 Tahun 1945 berisi perintah kepada semua dokter, perawat, rumah sakit, PMI beserta seluruh bangunan di Yogyakarta untuk sepenuhnya membantu TKR baik berupa pengobatan maupun perawatan.
Jawatan Kesehatan dan ahli kesehatan di DIY diperintahkan untuk membantuk regu-regu penolong di dekat pertempuran. Jika dibutuhkan, PMI, dokter, juru rawat, dan lain sebagainya untuk meningkatkan pengabdian dan partisipasinya terhadap perjuangan TKR.
MEMBANTU DI PERTEMPURAN BERBAGAI KOTA
Baha’Uddin mengatakan, selain menolong korban perang di Yogyakarta, PMI Cabang Yogyakarta juga mengirimkan anggotanya ke berbagai pertempuran yang terjadi di luar Yogyakarta seperti Magelang dan Ambarawa.
Ketika Pemerintah Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946, dalam kongresnya tanggal 16-17 Oktober 1946 PMI Pusat memutuskan untuk memindahkan kantornya ke Yogyakarta, di Jalan Gondokusuman No 14 Yogyakarta.
“Setelah PMI Pusat berkedudukan di Yogyakarta, PMI Cabang Yogyakarta tidak meleburkan diri dalam PMI Pusat melainkan tetap berkedudukan sebagai PMI Cabang. Markas PMI Pusat berkedudukan di Yogyakarta selama Yogyakarta masih menjadi ibukota negara Indoensia.
Setelah terbentuknya Republik Indonesia Serikat atau RIS dan kembalinya ibu kota ke Jakarta, PMI Pusat juga kembali memindahkan kegiatannya ke Jakarta. PMI Cabang Yogyakarta kemudian menempati Gedung Markas PMI Pusat yang ada di jalan Gondokusuman No 14 Yogyakarta,” kata dia.
Bagaimana aktivitas awal PMI Cabang Yogyakarta? Baha’Uddin mengemukakan, selain memberikan pertolongan kepada korban perang, juga memberikan bantuan pada masalah pengungsian, tawanan perang, menyelenggarakan dapur umum dan masalah-masalah sosial lainnya.
PMI Cabang Yogyakarta dalam rangka memperbaiki kesehatan rakyat itu menyelenggarakan dapur umum yang bahan-bahan makanannya cukup baik dan bergizi. Sejak bulan November 1945 setiap hari dapur umum PMI menyediakan makanan kira-kira untuk 1.500 jiwa. (mar)











