News  

Indahnya Suka Cita Ulang Tahun Lindi di Panti Asuhan

Yoseph Umarhadi dan Lindi berdialog dengan tiga adik-adik dari Panti Asuhan Santa Maria, Ganjuran, Bantul, DIY tentang kehidupan mereka. (Foto : Benny Antono)

bernasnews – Suasana Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) agak berbeda, Minggu (8/6/2025) pagi menjelang siang. Tambir bambu berisi buah ditata rapi di muka aula. Bersisian hidangan bakmi goreng, urap sayur, sup B2, ayam goreng, dan sup buah, serta hidangan penyertanya. Aula di dalam panti dipenuhi tetamu, bersama ke 79 adik-adik warga Panti Asuhan, serta para tamu undangan.

“Hari ini, Tuhan menepati janji-Nya. Hari Pantekosta adalah puncak peristiwa penting,” kata Pak Yoseph Umarhadi memimpin acara.

Mantan jurnalis Harian Surya, Tribun, dan Kompas ini menghaturkan terima kasih kepada Suster Magdelin Sri Winarti CB selaku pimpinan dan Suster Fransiska CB selaku pengurus Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran, Bantul. Hadir pula keluarga besar Xaverio, Ibu-Bapak dari Sanggar Anak Alam (SALAM) yang turut dihadiri guru-ortu, pengurus Panti Asuhan Permata Hati, dan para undangan di hari ulang tahun “Ibu mereka”.

Pagi itu, Lindi Ann Pieters istri Yoseph merayakan ulang tahun ke 60 tahun. Bu Lindi begitu panggilan akrabnya tidak merayakan di tempat-tempat hiburan atau hotel, restoran atau layaknya pesta mewah. Keluarga ini ternyata sering membuat acara bersama adik-adik di panti asuhan Ganjuran.

Saat ditanya, mengapa memilih merayakan ulang tahun ke 60 tahun bersama adik-adik panti? Ibu asli warga bilangan Tanah Kusir, Jakarta ini menjawab landai saja, “Ah, ini karena sudah kenal lama saja dengan Suster Magdelin…”. Bukan sebuah “pernyataan heroik” layaknya ibu pejabat menjawab pertanyaan media.

Dalam sambutannya, Yoseph Umarhadi memberi catatan, “Bertepatan dengan Hari Pantekosta, sebagai umat yang terurapi kita selayaknya bersyukur atas karya Roh Kudus. Semakin kita meyakini betapa Tuhan mencintai kita hingga bisa menjadi seperti saat ini.”

“Kasih Karunia Tuhan juga perlu kita rasakan dengan penuh rasa syukur. Iman Kristiani kita mengajarkan, Tuhan mengunjungi kita melalui Sang Putra Yesus untuk memerkenalkan Allah Bapa kepada kita umatnya,” katanya kemudian.

Dalam khotbah ibadah, sang suami yang juga mantan Frater Yesuit ini menyinggung peristiwa Idul Adha yang tengah dirayakan umat muslim. Kurban pada hari Raya Idul Adha memersembahkan hewan ternak sebagai simbol Ibrahim (Abraham) menaati perintah Allah untuk mengorbankan putranya terkasih.

Sementara umat Katolik, juga meyakini bahwa manusia telah jauh dari Tuhan oleh karena dosa. Maka Bapa mengutus sendiri putra-Nya untuk mengurbankan diri menebus dosa-dosa kita, ungkapnya.

Maka kepada adik – adik panti dampingan Suster – Suster Carolus Boromeus (CB) tersebut, Yoseph mengajak agar selalu bergembira dan bersyukur karena kita telah ditebus dosanya oleh Tuhan melalui Sang Putra Yesus Kristus.

“Jangan ragu ya adik – adik. Kita semua adalah ahli waris kerajaan surga yang telah dibebaskan dari dosa manusia. Kita semua telah diangkat menjadi anak Allah sendiri,” kata dia.

Mantan anggota DPR-RI tersebut juga bersyukur  secara pribadi, telah 33 tahun didampingi oleh Lindi. Sang istri telah membesarkan ke lima putra-putri, baik di rumah Jakarta pun di Jogja dengan kehangatan kasih sayang berlimpah. Lindi alias Bu Yoseph Umarhadi juga telaten memberi perhatian kepada putra-putri lain yang mereka rengkuh dari panti. Juga beberapa “putra seminaris” mereka dari Seminari Menengah Mertoyudan dalam beberapa angkatan.

Pemilu telah usai. Banyak anggota legislatif sudah duduk nyaman di kursi terpilih. Namun itu tidak cukup. Keluarga Yoseph Umarhadi juga bersetia secara rutin duduk bersama di pesta lesehan yang ugahari. Untuk merayakan ulang tahun pun bersama adik-adik di Panti Asuhan Santa Maria Ganjuran. Tanpa janji-janji, namun hanya bersama-sama memuji kebaikan Tuhan Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya ini.

Lindi mengajak beryanyi dan berjoget bersama 79 adik-adik yang berasal dari ujung barat Sumatera hingga  Papua. Mereka berdendang lagu-lagu Nusantara hingga joget Papua.

“Mari adik-adik semua, kita bergembira dan jangan bersedih. Sebab Tuhan Yesus mau menderita untuk menebus dosa-dosa kita,” ajak Yoseph sambil diakhiri lantun paduan suara angklung berdendang tembang Nusantara.

Indahnya suka cita, tetap dalam semangat bela rasa dan teladan terpuji. (mar/Benny Antono, Penulis di Yogyakarta)