News  

“Yoga Djaya” Adakan Edukasi tentang Rempah : Menemukan Kesehatan dari Alam

Suasana edukasi tentang rempah dari komunitas “Yoga Djaya” di Prambanan, Sleman, DIY. (Foto : Kiriman Saventi WK)

bernasnews – Pegiat Rempah Nusantara “Yoga Djaya” yang berlamat di Suryoputran, Yogyakarta mengadakan edukasi tentang rempah-rempah di desa Candisari, Wukirharjo, Prambanan, Sleman, DIY, 24/5/2025. Kegiatan ini dilaksanakan berkenaan Hari Jamu Nasional 27 Mei.

Rempah-rempah merupakan salah satu kejayaan Indonesia. Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil rempah-rempah terkemuka di dunia, memiliki kekayaan rasa, manfaat dan beragam jenis yang tumbuh di negara ini. Dari yang tumbuh liar kecil hingga yang menjulang tinggi.

Kelas rempah yang yang diikuti 14 peserta dari berbagai profesi termasuk mahasiswa farmasi ini adalah kali kedua. Program tentang kekayaan tanaman herbal disampaikan oleh narasumber Dr. Djoko Santosa dari Fakultas Farmasi Biologi UGM Yogyakarta. Kegiatan dikemas secara menarik dengan menelusuri sepanjang jalan dan masuk ke alam bebas. Ada unsur belajar, berkreasi, dan menggali manfaat yang luar biasa dari tanaman herbal Nusantara khususnya yang ada di sekitar kita.

Acara berlangsung dari pukul 08.30-15.00 WIB berjalan lancar dengan cuaca cerah, meskipun sebelumnya sempat khawatir karena beberapa hari turun hujan. Acara yang dikemas santai dibuka dengan ramah tamah, lalu mengeksplorasi manfaat tanaman-tanaman liar di sekeliling kita, diakhiri dengan meracik minuman rempah dan tanya jawab. Antusiasme para peserta sangat bagus dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu dilontarkan, namun mengingat waktu sudah habis mau tidak mau acara harus diakhiri.

Salah satu harapan dari kegiatan ini adalah kesadaran masyarakat Indonesia untuk  bangga dan menyadari bahwa kita memiliki kekayaan yang luar biasa. Kekayaan yang dapat bermanfaat bagi tubuh dari bahan-bahan alami di sekitar kita.

Pemilik program Sinau, Lelaku. lan Waras Saka Alas “Yoga Djaya” adalah Santi Wijaya Hesti Utami dan Yogo Pratomo. Manfaat ikut program ini adalah pengenalan langsung tanaman obat di habitat aslinya, praktek identifikasi dan pemanfaatan herbal, diskusi budaya dan filosofi hidup selaras alam. Program menyusuri hutan yang sarat makna ini, peserta tidak hanya berjalan di antara pepohonan, tetapi juga menyelami warisan tanaman obat yang telah digunakan secara turun menurun. (mar/Saventi Wahyu K., Lingkungan Santa Helena, Paroki Santo Yakobus Bantul DIY)