bernasnews – Bagi orang kebanyakan di Indonesia, makan nasi atau sejenis kalau tidak disertai kerupuk atau krupuk yang kriuk – kriuk rasanya belum pas. Belum terasa komplet nikmatnya. Maka, walau lauknya terbatas krupuk dan kecap, makanan itu rasanya sudah nikmat dan patut disyukuri.
Menurut referensi, krupuk adalah makanan yang dibuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan. Setelah dikukus, disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak dan dijemur agar mudah digoreng.
Saking banyaknya kreasi atau inovasi perajin krupuk dalam menyajikan produk lauk terkenal itu, ada cukup banyak varian krupuk yang beredar di masyarakat. Masing-masing ada cita rasa, penikmat dan penggermarnya tersendiri.
Ada krupuk rambak, krupuk udang, krupuk singkong, krupuk seblak, krupuk kemplang, krupuk bawang, krupuk tongkol, krupuk kulit sapi, kurupik udang finna, krupuk jengkol.
KRUPUK BERAS
Salah satu varian krupuk yang cukup laris di pasaran adalah Krupuk Beras dengan komposisi beras, tepung tapioca, margarine, barang putih dan garam. Cara penyajiannya dengan menyediakan minyak goreng mendidih, tuangkan krupuk sedikit demi sedikit. Sesudah masak ditiraskan, dan sajikan untuk camilan lauk.
Krupuk Beras yang merupakan industri rumah tangga ini diproduksi oleh PT Kruber Giga Media, Bantul, Yogyakarta. Berat bersihnya antara 50g, 80 g, 100g, 250g, 500g, dan 1.000g. Ada yang mentah dan matang.
Uniknya, inisiator dan prudusen Krupuk Beras ini adalah mantan pendidik di satuan pendidikan swasta di Yogyakarta yang kini berdinamika sebagai kontributor majalah berbahasa Jawa DJAKA LODANG dan mengelola media online di Bantul. Dia adalah Martopo, orangtua dari tiga anak putra putri, yang tinggal di Bantul, Yogyakarta. Persisnya, dari Gereja Klodran Bantul ke arah selatan.
“Selain ada kafe sederhana di rumah ini, saya berpikir perlu ada produk UMKM yang dapat dihasilkan dan dipasarkan. Sejak beberapa tahun ini, kami memproduksi Krupuk Beras dan Kacang Bawang G2G. Kami titipkan di beberapa tempat dan even. Syukur alhamdulilah, dapat diterima dengan baik di pasar.
Jadi meski awalnya saya adalah pendidik dan kontributor majalah berbahasa Jawa, namun saya dan keluarga mencoba untuk berkreasi memproduksi makanan ringan krupuk dan kacang itu,” kata Martopo kepada bernasnews, Jumat (6/6/2025).
Jumat malam itu, Martopo dengan ramah menerima tamu saudaranya Y. Bambang Soponyono dan isteri yang melakukan silarurahmi keluarga. Perbincangan terasa akrab dan menyenangkan, masing-masing menceritakan kondisi kini keluarga.
Diperoleh keterangan, paling tidak ada 13-an jenis krupuk paling enak di Indonesia yakni krupuk putih, krupuk macan, krupuk pasir, krupuk gendar, krupuk ikan, krupuk bawang, krupuk kemplang, krupuk opak, krupuk udang, krupuk rambak, krupuk mie, krupuk emping, krupuk puli.
Meski dimakan terasa nikmat, krupuk pada umumnya dianjurkan agar dikonsumsi secara tidak berlebihan, sebab penikmat dapat terkena risiko tekanan darah tinggi. Mengapa? Karena krupuk mengandung minyak, kalori dan lemak. Tetapi meski demikian, krupuk itu tetap enak dimakan dan membuat kangen. Kriuk- kriuk, kriuk… (mar)










