bernasnews – Para siswa-siswi kelas 6 Sekolah Dasar (SD) Marsudirini Yogyakarta melakukan Wawancara Wartawan Cilik (Warcil) dengan Wali Kota Yogyakarta Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K). di Kantor Balai Kota, Jalan Kenari No. 56, Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Yogyakarta, Selasa (3/6/2025). Mereka adalah Kelompok 1 Warcil yang terdiri dari Monica, Lovi, Yohana, Tata, Kacaya, Nuel, Abi, Richy, dan Richard.
Pada kesempatan ini, Wali Kota didampingi Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Yogyakarta Budi Santoso Asrori, S.E. M.Si., Kepala Bidang Pembinaan SD Mujino, Kepala SD Marsudirini Yogyakarta Sr. M. Rachel, OSF, S.Pd., FX Oktaf Laudensius, S.Si.,M.M. perwakilan yayasan Yosef Adiwahyanta, guru kelas Lukas Suharno, ketua komite sekolah dan pendamping program Warcil.
CITA-CITA WALI KOTA
Teman kami, Yohana memulai pertanyaan dengan menanyakan idola dan cita-cita Bapak Hasto saat masa kecil. Idola beliau adalah ayah, karena semasa kecilnya beliau tinggal jauh dari perkotaan sehingga sangat minim informasi di daerah tempat tinggal. Meski tidak memiliki cita-cita yang pasti sejak kecil, beliau tertarik pada hal-hal yang berhubungan dengan alam dan peternakan.
Ketika Richy bertanya tentang pandangan pendidikan di Kota Yogyakarta, beliau menjawab orang luar mengenal Jogja sebagai Kota Pelajar yang hebat. Bagi beliau, sekolah negeri dan swasta harus sama-sama bagus. Pak Hasto juga akan memberikan peraturan dari pihak walikota untuk mewajibkan pendidikan budi pekerti, agama, dan karakter.
Kemudian dilanjutkan dengan Kaca yang bertanya tentang lingkungan hidup. Pak Wali Kota mengemukakan, selama 100 hari bekerja, beliau berusaha untuk membersihkan sampah yang ada di TPA yang akhirnya berhasil membersihkan 25 TPA. Pak Hasto berharap setiap ada acara, pengunjung acara dapat mengatur sampah agar tidak berserakan dan di buang pada tempatnya.
Selanjutnya salah satu teman kami yaitu Tata mengajukan pertanyaan yang berkaitan tentang perekonomian. Menurut Pak Hasto, Kota Yogyakarta memiliki banyak potensi untuk meningkatkan perekonomian. Dengan cara ekonomi kreatif, menjual kembali usaha teh, kreativitas, dan sumber daya manusia.
Nuel menanyakan tentang pariwisata dan keterbatasan lahan parkir. Pak Hasto merencanakan bus tidak masuk kota secara bertahap dan beliau juga ingin menghidupkan program “Sepeda Kanggo Kerja lan Kanggo Nyambut Gawe” (Sego Segawe), karena menurut beliau, tidak semua warga harus menggunakan motor dan mobil. Dan tentang parkir liar, Pak Hasto memberi saran untuk melakukan penataan lahan parkir.
Nuel kembali menanyakan tentang masalah yang harus diatasi di Kota Yogyakarta. Pak Hasto menjawab masalah yang harus diatasi adalah soal sampah, kebersihan, pendidikan karakter, dan kesehatan. Harapan beliau ke depannya agar Kota Yogyakarta menjadi kota yang maju.
KERUKUNAN WARGA MASYARAKAT
Selanjutnya Richard menanyakan tentang keagamaan dan hubungan antar pemeluk agama. Wali Kota menjawab kerukunan antar umat beragama sangat penting dan mungkin kita tidak dapat bersatu tetapi kita dapat menjadi atau menjaga persatuan. Karena Jogja sebagai kota budaya, kerukunan sangat penting untuk menjadi contoh wisatawan.
Lalu Abi menanyakan tentang sarana dan prasarana yang ramah anak, lansia, dan difabel. Pak Hasto merencanakan memperbanyak ruang terbuka hijau yang ramah anak. Beliau merencanakan program pemeriksaan gratis terhadap lansia setiap 3 bulan sekali. Selain itu, juga akan lebih melengkapi fasilitas publik untuk difabel.
Dan sampailah di pertanyaan terakhir yang disampaikan oleh Lovie. Dia bertanya tentang kiat-kiat untuk para pelajar Jogja dapat menjadi sukses seperti Pak Hasto. Lalu sambil tersenyum beliau menjawab, “Rajin itu penting. Terkadang banyak orang yang kurang bersungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya. Kemandirian adalah kata kunci untuk sukses.” (mar/Tim Wartawan Cilik 2025 Sekolah Dasar Marsudirini Yogyakarta)












