bernasnews – Paling tidak ada tiga hal penting yang sangat dibutuhkan untuk mendukung perkembangan, pembentukan karakter dan kepribadian anak, khususnya generasi Alpha. Ketiga hal itu adalah kontak mata sentuhan, ekspresi kehangatan dan menjadi keakraban antara orantua-anak.
“Beberapa cara yang dapat dilakukan para orangtua untuk mendidik generasi itu adalah menanamkan norma agama sejak dini, menjadi role model yang baik untuk anak, memiliki gaya parenting yang baik, membimbing anak dalam berbagai hal, menciptakan iklim keluarga yang positif, memberikan permainan yang tepat untuk perkembangan psikologi anak, mengasah kemauan dan kemampuan berjuang pada si kecil, serta membiasakan anak untuk bersosialisasi,” kata Kepala PG-TK Pangudi Luhur Yogyakarta Anastasia Arum Sari D., M.Pd. dalam ceramah parenting di Gereja Santo Yakobus, Bantul, DIY, Minggu (25/5/2025).
Bertajuk “Gadget dan Anak : Bagaimana Cara Menjaga Keseimbangannya?”, Arum Sari yang merupakan Narasumber Nasional Kemendikdasmen ini, menyampaikan materinya secara menarik kepada 40-an orang peserta yang kebanyakan adalah ibu-ibu. Pertemuan yang diadakan oleh Timpel PIA dan PIUD ini dibuka dengan doa oleh Ny. Emi, serta sambutan Pastor Paroki Romo Laurensius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr.
Menurut lulusan S2 Pasca Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini UNY dengan IPK 4.0 ini, generasi Alpha adalah anak yang lahir pada tahun 2010 sampai sekarang. Karakter generasi ini adalah melek teknologi, tidak suka mengikuti aturan dan sulit untuk diprediksi, pola makannya sangat berbeda, serta generasi paling terdidik, kritis, cerdas dan penuh inovasi.
“Kemampuan yang seharusnya dimiliki anak-anak abad 21 adalah creative, communicative, colaboration dan critical thinking. Tujuan utama untuk hal terakhir ini adalah mengarahkan anak untuk dapat menyelesaikan masalah.
Di sisi lain, risiko yang mengintai generasi Alpha adalah anak rentan terpapar konten pornografi. Anak berisiko menelan mentah-mentah konten atau informasi yang tidak sesuai dengan usianya, sehingga dia akan menerima informasi yang belum saatnya ia dapatkan atau belum tentu benar kebenarannya. Selain itu, anak rentan terkena stress atau beban psikologis karena melihat atau mendengar sesuatu yang belum saatnya dikonsumsi untuk anak seusianya,” kata Arum Sari.
Secara rinci, pendidik kelahiran Malang dan kini tinggal di Kawasan Condongcatur, Sleman, Yogyakarta ini menyampaikan dampak positif dan negatif penggunaan gadget. Strategi menjaga keseimbangannya adalah dengan pengaturan waktu, pemilihan konten, aktivitas alternatif, pengawasan dan edukasi. (*/mar)










