News  

Berdayakan Perempuan Melalui Nutrisi : Mengungkap Mitos dan Fakta Kesehatan

Gisela Laras Anindiani, S.Gz. (paling kanan) memaparkan materi tentang pengetahuan gizi dan kesehatan di rumah Ny. Tere, Lingkungan Santa Maria Immaculata Mejing Wetan, Gamping, Sleman, DIY. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Sebanyak 20 ibu dari Lingkungan Santa Maria Immaculata Mejing, Paroki Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, DIY berkumpul di rumah Ny. Tere, Minggu (27/4/2025), untuk mengikuti sesi sharing pengetahuan gizi dan kesehatan tentang nutrisi bertema “Wanita Cerdas Pilih Nutrisi Berkualitas: Kesehatan Dimulai dari Piring Anda.” 

Acara tersebut dibawakan oleh Gisela Laras Anindiani, S.Gz., Mahasiswi Profesi Dietisien dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang memaparkan pendekatan yang ketat dalam membongkar mitos gizi dan mempromosikan praktik diet berbasis bukti.

Presentasi diawali dengan pembahasan mitos-mitos umum yang sering muncul di tengah masyarakat. Di antara mitos ini, salah satu yang paling umum adalah bahwa minum air dingin dapat menyebabkan kenaikan berat badan. “Air dingin tidak mengandung kalori, sama seperti air suhu ruangan,” kata Laras. 

Menurut dia, kalori yang dihasilkan sangat kecil, meskipun tubuh mengeluarkan energi untuk menyesuaikan suhu. Fakta ini menghilangkan kesalahpahaman umum bahwa air es meningkatkan berat badan secara tidak sengaja.

Ada pula mitos lain bahwa kaldu jamur secara hakiki memiliki kualitas kesehatan yang lebih baik daripada kaldu biasa. “Meskipun kaldu jamur cukup bergizi, namun pada faktanya jenis kaldu yang dijual di pasaran merupakan kaldu rasa jamur dimana hal ini berbeda dengan kaldu jamur, produk tersebut seringkali mengandung kadar garam yang sama dengan kaldu biasa,” Laras membantah mitos ini. Kaldu jamur harus dipisahkan dari kaldu berasa jamur, yang mungkin memiliki nilai gizi yang lebih rendah.

MENGUNGKAP KEBENARAN GIZI

Beralih ke fakta lain, Laras mengatakan bahwa sayuran dan buah-buahan sangat penting untuk mengurangi berat badan. Sayuran dan buah-buahan rendah kalori dan tinggi serat, memperpanjang rasa kenyang tanpa menambah kalori berlebih. Kandungan serat yang tinggi menstabilkan gula darah, mengurangi keinginan makan, dan meningkatkan metabolisme dan kesehatan pencernaan.

Lebih lanjut dia menjelaskan perbedaan antara garam dan natrium, suatu hal penting bagi individu yang peduli kesehatan. “Natrium adalah komponen penyusun dari garam. Banyak orang masih menyamakan natrium dengan garam, padahal keduanya berbeda. Natrium sendiri adalah jenis mineral yang juga terdapat dalam banyak bentuk lain terutama pada produk makanan atau minuman kemasan. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, perhatian kita lebih sering hanya tertuju pada seberapa banyak garam yang kita konsumsi, sementara kandungan natrium yang tersembunyi di dalam makanan olahan atau kemasan sering kali luput dari perhatian,” katanya. 

Laras juga memberikan pengantar tentang Pedoman Gizi Seimbang (PGS), yang menggantikan konsep “Empat Sehat Lima Sempurna” yang sudah ketinggalan zaman. “PGS menawarkan panduan lengkap tentang jenis makanan yang harus dikonsumsi dan ukuran porsi yang tepat, dengan penekanan pada hidrasi yang teratur – minimal delapan gelas air setiap hari, serta anjuran untuk melakukan olahraga secara rutin” urainya. Pendekatan modern ini mencakup rekomendasi praktis yang mencerminkan ilmu gizi terkini dan lebih komprehensif.

Pada kesempatan ini, para peserta dibekali dengan pengetahuan untuk menilai status gizi mereka sendiri menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), yang diklasifikasikan menurut standar Asia-Pasifik. Individu dengan berat badan kurang dapat mengalami masalah menstruasi dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi akibat sistem kekebalan tubuh yang melemah. 

Selama kehamilan, hal ini berisiko menyebabkan anemia dan kelahiran bayi dengan berat badan rendah atau terhambat pertumbuhannya,” kata Laras mengingatkan. Sebaliknya, status kelebihan berat badan dapat menyebabkan penurunan kesuburan, siklus menstruasi yang tidak teratur, dan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular.

Status gizi merupakan indikator penting yang mencerminkan keseimbangan antara asupan zat gizi yang dikonsumsi dengan kebutuhan tubuh. Fungsi utama dari status gizi adalah untuk menilai kondisi kesehatan seseorang serta baik pada tingkat individu maupun kelompok sebagai dasar dalam perencanaan intervensi kesehatan dan program perbaikan gizi yang sesuai.

Laras menutup sesi dengan tips praktis untuk mengadopsi gaya hidup dan gizi seimbang. Rekomendasi utama yang dia sampaikan termasuk membatasi asupan gula, garam, dan minyak, berpartisipasi dalam aktivitas fisik, serta memeriksa label nutrisi pada makanan kemasan. Secara khusus, dia menekankan bahwa asupan serat dari buah-buahan dan sayuran dapat secara signifikan meningkatkan kesehatan pencernaan dan fungsi metabolisme.

Selain itu, para ibu juga dibekali dengan keterampilan untuk membaca dan memahami label informasi nilai gizi pada produk kemasan. Pemahaman terhadap label gizi sangat penting, karena dapat membantu konsumen dalam membuat pilihan makanan yang lebih sehat, memahami kandungan zat gizi dalam suatu produk, serta memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing. 

Namun, dalam praktiknya, masih banyak terjadi kesalahpahaman dalam membaca label informasi gizi. Beberapa kekeliruan yang umum dijumpai antara lain ketidakpahaman terhadap ukuran sajian dalam satu kemasan, serta kurangnya ketelitian dalam memerhatikan jenis zat gizi yang sebaiknya dibatasi, seperti gula, natrium, dan lemak.

Pertemuan di rumah Ny. Tere menjadi inisiatif pendidikan berbasis komunitas dalam memberdayakan Ibu-ibu dalam membuat keputusan diet yang cerdas. Melalui pemberdayaan ini, mereka dapat mengendalikan kesehatan mereka sendiri dan membangun kesadaran akan pentingnya menanamkan budaya praktik nutrisi dalam kehidupan sehari-hari. (mar/Anselmus Sudirman, Umat Lingkungan Santa Maria Immaculata Paroki Gamping, Sleman, DIY)