News  

Ajeng Buktikan Kesetaraan Perempuan di Dunia Kerja usai Raih Profesi Asisten Masinis Daop 6

Ajeng Elsantika Purnawati, satu dari tiga asisten masinis perempuan di Indonesia. (Foto : Wulan/ bernasnews)

bernasnews – Kesetaraan gender dalam dunia kerja tampaknya mulai terlihat dalam berbagai profesi tak terkecuali masinis atau pengemudi Kereta Api (KA).

Jika selama ini, pekerjaan masinis kerap dilakukan oleh kalangan laki-laki, kini anggapan itu tak berlaku. Pasalnya ada dara cantik bernama Ajeng Elsantika Purnawati kini sukses menjajaki profesinya sebagai Asisten Masinis.

Ajeng menceritakan ia merupakan salah satu dari tiga srikandi yaitu Siti Afioni, dan Dheamorita yang kini berstatus asisten masinis di Daop 6 Yogyakarta, menempuh 2000 jam perjalanan untuk meraih cita-cita mereka untuk bisa naik tingkat menjadi masinis.

Ketertarikannya muncul setelah menjalani pelatihan, tertantang dengan tanggung jawab besar mengemudikan kereta api.

“Menemani masinis membawa banyak penumpang, tanggung jawabnya luar biasa besar. Tantangan itu yang saya sukai. Saya nikmati meski asisten masinis perempuan untuk kereta jarak jauh hanya tiga orang,” ujar Ajeng saat ditemui di Stasiun Lempuyangan.

Sejak Februari 2022, perempuan asli Lamongan ini telah menjalani serangkaian tes, pelatihan, dan ujian untuk mendampingi masinis mengemudikan kereta jarak jauh. Ajeng menjadi Srikandi pertama yang menjadi masinis kereta non listrik di PT KAI Daop 6 Yogyakarta.

Keputusannya dalam memperjuangkan kesetaraan gender di dunia kerja layak diapresiasi. Sebab dari 135 masinis yang bertugas di Daop 6 Yogyakarta, hanya Ajeng dan dua teman perempuan lainnya yang menjadi calon masinis dari kaum perempuan.

“Saya awalnya belum pernah naik kereta seumur hidup, tapi kemudian pada 2022 lalu saat ada lowongan di PT KAI, saya ikut daftar. Saya pilih masinis karena berbeda dari lainnya,” kata dia.

Ajeng juga menceritakan suka dukanya saat bekerja di dunia yang terbilang masih baru bagi dia. Bahkan awal mula menjalani dinas, ia mengaku tak begitu pede lantaran lingkungan kerjanya yang dikelilingi laki-laki.

Karena rasa penasarannya terhadap pekerjaan masinis membuat tekadnya saat itu berapi-api. Apalagi ia menganggap perempuan yang menjadi masinis sangatlah jarang ditemui dan ini menjadi kesempatan baru baginya untuk bisa menunjukkan bahwa gender perempuan juga bisa setara dengan laki-laki di profesi apapun.

“Komentar (negatif) ada. Banyak yang menganggap dan mempertanyakan, perempuan itu bisa apa?” tuturnya.

Ajeng menambahkan, kerja sebagai asisten masinis membutuhkan ketelatenan, ketelitian, fokus tinggi dan risiko besar. Kini Ajeng pun memburu target menempuh 2000 jam tugas sebagai syarat untuk naik tingkat menjadi masinis. Bukan hal mudah bagi dia dan kedua temannya untuk berjuang menjadi masinis KA. 

Saat ini, Ajeng pun bertugas di Daop 6 Yogyakarta, mendampingi masinis ke Cirebon, Purwokerto, Banjar, Madiun, dan Surabaya. Tak hanya kereta penumpang, dia pun mengemudikan kereta barang dan BBM.

Mereka harus memenuhi persyaratan jam kerja itu lalu menjalani masa pendidikan terlebih dahulu untuk bisa mengoperasikan KA serta langsiran.

“Ganti-ganti setiap perjalanannya. Nggak hanya kereta penumpang tapi barang dan kereta BBM,” cerita dia.

Kendati demikian, semangatnya tak pernah luntur. Ketiga srikandi ini tak hanya berjuang untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membuka jalan bagi perempuan lain yang ingin menjadi masinis KA jarak jauh.

Ajeng pun berpesan pada perempuan seusianya agar tak takut mencoba hal baru, terutama profesi pekerjaan yang mungkin masih banyak didominasi kaum laki laki. 

“Semoga bisa menginspirasi, menyemangati adik-adik di bawah saya, terutama yang perempuan bahwa kita bisa. Saat ini fokus dulu menjalani pekerjaan, semoga saya bersama dua teman perempuan lainnya bisa sukses sampai menjadi masinis dan menginspirasi,” (lan)