bernasnews – Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada ( RSA UGM) memiliki komitmen yang tinggi untuk menghadirkan konsep rumah sakit yang ramah lingkungan.
Direktur Pelayanan Medik RSA UGM, Ade Febrina mengatakan saat ini pihaknya mulai berbenah baik mulai dari memiliki inovasi dalam penanganan limbah rumah sakit, peralatan yang digunakan hingga pelayanan di rumah sakit untuk mewujudkan rumah sakit yang ramah lingkungan atau menuju ‘Green Hospital’.
Komitmen itu digencarkan rupanya karena melihat tantangan lingkungan yang semakin memprihatinkan ditambah adanya perubahan iklim secara ekstrem yang perlu penanganan lebih lanjut dari berbagai sumber, termasuk pihaknya.
“Jadi memang betul RSA UGM menuju green hospitak ada bebebrapa yang sudah kami lakukan tidak menggunakan listrik dari PLN saja tapi juga memproduksi listrik sendiri dari taman,” ujar Direktur Pelayanan Medik RSA UGM, Ade Febrina di Yogyakarta.
Pelayanan tersebut hadir dalam konsep rumah sakit hijau atau green hospital yang disebut ramah lingkungan. Ade menyebut Green Hospital masuk sebagai salah satu agenda dalam upaya yang pro aktif mengkampanyekan sampah listrik dan segala macam.
Menurutnya, Rumah Sakit ramah lingkungan menuju Green Hospital adalah tujuan jangka panjang, yang mana aksi perubahan ini adalah langkah awal atau proses awal dimulainya Rumah Sakit yang menerapkan konsep ramah lingkungan.
“Itu tujuan kami dari rumah sakit, karena rumah sakit merupakan salah satu sarana sosial masyarakat dimana kami harus menuju rumah sakit green hospital agar pemanfaatan dalam hal ini kita sepakat dalam perubahan iklim sangat dipengaruhi oleh kondisi kondisi didunia,” ucap dia.

Terkait masalah sampah di rumah sakit, juga menjadi problem yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Apalagi terhadap upaya untuk mengurangi karbon emisi juga harus dilakukan dengan menggunakan produk kesehatan yang ramah lingkungan.
“Kita juga fokus pengelolaan sampah dalam bentuk pengelolaan sampah organik dalam produksi maggot atau lalat yang digunakan untuk peternak ikan seperti lele,” imbuhnya.
Sementara President Excecutive KE BUMI, Dr. Suherman menuturkan masa depan lingkungan harus mulai diperhatikan. Komitmen rumah sakit menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi pasien, staf, dan masyarakat seharusnya lebih dari sekadar pengelolaan limbah.
Kedepan banyak tantangan yang harus dilakukan. Yang paling berat adalah bagaimana membangun sebuah budaya green. Ini pekerjaan yang sulit, karena membangun sebuah budaya tidak bisa satu dua hari.
“Kalau target ini namanya harus jaga mutu, jadi ada upaya secara terus menerus open mindset terhadap isu global. Bagaimana mereka tidak hanya bertahan pada 10 agenda tetapi berpikir lebih jauh. Misalnya sekarang panas yang luar biasa, nah seharusnya rumah sakit juga ikut memikirkan. Be aware bukan hanya mengobati saja tetapi juga be aware menjaga lingkungan nya dan customer nya loyal jangka panjang,” pungkasnya. (lan)











