bernasnews — Nenek moyangku seorang pelaut. Gemar mengarung luas samudera. Menerjang ombak, tiada takut. Menempuh badai, sudah biasa. Demikian penggalan lirik lagu anak-anak yang diciptakan oleh Ibu Sud, pada tahun 1940. Lagu berjudul ‘Nenek Moyangku’ ini menggambarkan keberanian dan gagahnya seorang pelaut.
Seperti diketahui bahwa luas wilayah Indonesia 70persen merupakan lautan dan 30persennya adalah daratan. Laut dengan segala isinya apabila dieksplorasi dengan bijaksana dapat menjadi sumber kehidupan juga lalulintas transportasi yang menghubungkan antar pulau. Profesi pelaut ataupun nelayan menjadi kurang menarik bagi masyarakat karena imej resiko dan persoalan energi penunjang.
Pasalnya kapal yang dipergunakan kebanyakan adalah berbahan bakar minyak untuk menggerakkan mesin diesel kapal maupun memasok kebutuhan listrik, yang harganya fluktuatif tinggi dan cukup langka. Selain itu, adalah tersedianya kebutuhan air minum merupakan hal yang penting terlebih untuk menjaga kesehatan dan stamina yang menjadi persoalan selama mengarungi lautan samudera.
Hal inilah yang menjadikan keprihatinan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang kemudian merancang alat pengolah air laut menjadi air bersih sekaligus memenuhi kebutuhan energi di lautan yang dinamai Sea Water Desalination.
Mereka adalah Yanuar Agung Fadlullah dari prodi Pendidikan Teknik Mesin, Assadullah al Kaffah Alam prodi Pendidikan Teknik Mesin, Sahid Ramandhani prodi Pendidikan Teknik Elektronika, Bagus Putra Setiyawan prodi Pendidikan Mekatronika dan Khisna Rizqi Fauzia prodi Kimia.
Yanuar Agung Fadlullah selaku Ketua Tim mengemukakan, bahwa teknologi desalinasi air laut menggunakan filter reverse osmosis yang diintegrasikan dengan proses elektrolisis menggunakan alat electrochemical compressor memiliki tujuan sebagai solusi alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis untuk memenuhi kebutuhan energi nelayan, meningkatkan aksesibilitas, serta mengatasi sulitnya akses air minum ketika melaut.
“Teknologi desalinasi dirancang portable mempertimbangkan analisa perancangan golden ratio sehingga cocok diimplementasikan pada dek/kabin kapal nelayan,” terang Yanuar, di Kampus UNY, Senin (6/11/2023).
Pengoperasian teknologi sepenuhnya disuplai menggunakan energi listrik yang diperoleh dari solar cell. Hasil dari proses desalinasi dapat digunakan nelayan untuk memenuhi kebutuhan air minum selama melaut. “Selain itu, melalui proses elektrolisis akan diperoleh hidrogen(H) dan oksigen (O2) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar bakar alternatif untuk menjalankan kapal,” beber Yanuar.
“Penggabungan konsep energi terbarukan, proses desalinasi, dan proses elektrolisis ini diharapkan memberikan solusi atas masalah dihadapi nelayan ataupun pelaut dan meningkatkan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk mendukung bidang kemaritiman di Yogyakarta,” imbuh Assadullah al Kaffah Alam.
Sementara, Sahid Ramadhani menjelaskan, pengembangan alat desalinasi yang terintegrasi dengan electrochemical compressor sehingga memperoleh tiga luaran sekaligus yaitu air minum, listik, serta hidrogen dan oksigen sebagai bahan bakar mesin kapal. “Teknologi dirancang berbasis green energy yang ramah lingkungan sekaligus mampu menghasilkan air bersih dengan jumlah lebih banyak dibandingkan alat desalinasi yang lain,” kata dia.

Lebih lanjut Sahid menjelaskan, alat desalinasi dilengkapi dengan panel surya terintegrasi dengan inverter dan baterai sebagai energi elektrik yang digunakan untuk mengoperasikan alat. Energi listrik yang terdapat pada baterai akan terus terisi ketika panel surya menerima sinar matahari. Independensi energi listrik ini memberikan keuntungan kepada pengguna karena pengguna tidak perlu melakukan charge baterai yang terdapat pada alat desalinasi.
“Desain alat desalinasi yang dikembangkan merujuk pada teknologi portable yang dapat dipindah–pindahkan dengan mudah supaya efektif ketika digunakan. Keunggulan utama dari pengembangan alat desalinasi yang ditawarkan adalah menggabungkan teknologi terapan sebelumnya menjadi satu kesatuan untuk memaksimalkan luaran sehingga masalah nelayan/ pelaut dapat teratasi,” papar Sahid.
Sistem desalinasi air minum dirancang sepenuhnya menggunakan input daya yang diperoleh dari panel surya sehingga ramah lingkungan. Mencatu daya baterai melalui beberapa proses yaitu dari panel surya akan mengalirkan arus ke rangkaian kontrol kemudian diteruskan ke baterai. “Listrik yang dialirkan langsung hanya menghasilkan arus searah atau direct current (DC) kemudian diubah menjadi arus AC menggunakan inverter,” terang Bagus Putra Setiyawan “Arus AC memungkinkan untuk mengoperasikan pompa reciprocating pada sistem filtrasi, menghidupkan stop kontak untuk memasok energi listrik nelayan, serta menjalankan instalasi elektrolisis untuk menghasilkan hidrogen dan oksigen sebagai bahan bakar alternatif,” lanjut dia.
Dikatakan Khisna Rizqi Fauzia, bahwa cara kerja alat ini yaitu air laut dipompa dengan pompa reciprocating kemudian akan disaring melalui filter pre-treatment desalinasi untuk menghilangkan partikel yang tidak diinginkan. Selanjutnya proses desalinasi dilakukan menggunakan filter reverse osmosis untuk menghasilkan air minum.
“Air laut sisa proses reverse osmosis akan dialirkan melalui electrochemical compressor guna menghasilkan oksigen dan hidrogen. Oksigen dan hidrogen disimpan dalam storage sebagai bahan bakar alternatif motor kapal,” ungkap Khisna. (*/ ted)











