Daun Kopi Bermanfaat Kendalikan Pembusukan Akar Cabai, Begini Hasil Penelitian Mahasiswa Fakultas MIPA UNY

Kelompok mahasiswa Fakultas MIPA UNY peneliti ekstrak daun kopi sebagai pengendali jamur pada akar cabai. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Pohon kopi (Coffea Canephora) dan Cabai (Capsicum annum L) merupakan komoditas tanaman hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi di Indonesia, sehingga tidak mengherankan apabila dua komiditas itu kekinian seperti menjadi primadona terlebih bertumbuhnya bisnis kuliner semacam resto maupun kafe di mana-mana.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyarta (UNY), ternyata daun kopi juga bermanfaat untuk meningkatkan produktifitas. Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah serangan jamur patogen. Phytophthora capsici merupakan jamur yang dapat menyebabkan busuk akar pada cabai. Sementara pengendalian busuk akar pada cabai cukup sulit untuk dilakukan karena proses infeksi berada di sistem perakaran sehingga sulit terdeteksi.

Oleh sebab itu, mahasiswa Fakultas MIPA UNY yang terdiri dari Harnung Wulandari dan Nanda Rachma Agustina prodi Biologi, Respa Ardian prodi Kimia dan Amelia Noormufida Widya Hartanti prodi Pendidikan Kimia, mengadakan penelitian ekstrak daun kopi untuk menghambat pertumbuhan phytophthora capsici.

Harnung Wulandari mengemukakan, bahwa pengendalian busuk akar pada cabai cukup sulit untuk dilakukan lantaran proses infeksi berada pada sistem perakaran sehingga sulit terdeteksi. “Phytophthora capsici akan menyebabkan akar menjadi kehitaman, batang kerdil, layu, dan akhirnya mengalami kematian kurang lebih dua minggu setelah proses inokulasi,” kata Harnung, dalam keterangan yang dikirim, Selasa (24/10/2023).

Menurut dia, selama ini pengendalian patogen jamur oleh petani pada umumnya menggunakan fungisida sintesis karena dianggap lebih praktis dan efektif. Namun penggunaan fungisida sintesis yang melebihi batas dapat membahayakan organisme lain, mengganggu kesehatan, menghasilkan residu hingga pencemaran lingkungan. “Penggunaan fungisida sintetis dapat diminimalisir dengan pembuatan biofungisida,” beber Harnung.

Biofungisida merupakan fungisida berbahan dasar ekstrak tumbuhan dengan bahan aktif yang mampu menghambat pertumbuhan jamur. Bahan aktif yang digunakan berasal dari metabolit sekunder salah satunya alkaloid. “Alkaloid dapat menyisip di antara dinding sel dan DNA kemudian mencegah replikasi DNA jamur sehingga pertumbuhan jamur akan terganggu,” imbuh Nanda Rachma Agustina.

“Berdasarkan penelitian daun kopi (Coffea Canephora) memiliki kandungan alkaloid yang cukup tinggi, yaitu sebesar 13.552 mg/g daun kopi tua. Kandungan alkaloid ekstrak daun kopi yang tinggi diharapkan dapat menghambat pertumbuhan jamur phytophthora capsici,” lanjut dia.

Penampakan daun kopi (Coffea Canephora). Foto: Istimewa.

Subjek riset ini adalah nanoemulsi senyawa alkaloid daun kopi dengan variasi jumlah ekstrak senyawa alkaloid, dan kecepatan homogenizer. Adapun bahan yang dibutuhkan yaitu daun kopi (Coffea canephora), reagen fitokimia, akuades, Virgin Coconut Oil (VCO), Kalsium Dodekilbenzen Sulfonat, Etoksilat Alkil Fenol, media Potato Dextrose Agar (PDA), alkohol 96%, metanol, n-heksana, etil asetat, silika gel, alkohol 70%, ketoconazole, isolat jamur P. capsici, dan bibit tanaman cabai.

“Tanaman cabai disiapkan dan dipilih dari populasi yang sehat dan homogen dan diberi perlakuan infeksi jamur phytophthora capsici,” jelas Respa Ardian.

Dikatakan, setelah tanaman cabai terinfeksi jamur phytophthora capsici kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok untuk perlakuan yang berbeda. Selanjutnya, nanoemulsi senyawa alkaloid ekstrak daun kopi diaplikasikan pada tanaman yang terinfeksi. “Perlakuan dilakukan dengan disemprotkan dan disiramkan ke tanaman kemudian dilakukan pengamatan kondisi tanaman setelah diberi perlakuan, diperhatikan tanda tanda pertumbuhan jamur seperti pembusukan atau kerusakan pada bagian tertentu,” papar Ardian.

Amelia Noormufida Widya Hartanti mengungkapkan, berdasarkan riset yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa nanoemulsi formulasi 1 memiliki ukuran partikel paling kecil sebesar 11 nm. Nilai turbiditas dipengaruhi oleh ukuran partikel dimana semakin besar ukuran partikel maka turbiditas nanoemulsi akan semakin meningkat. Persentase transmitansi akan meningkat apabila jumlah fraksi senyawa alkaloid yang ditambahkan semakin rendah. Viskositas dari semua formulasi memiliki nilai yang relatif rendah sekitar 6,0-7,1 cP.

“Nanoemulsi yang terbentuk juga bersifat stabil dimana nilai transmitansi, turbiditas, dan viskositas tidak berbeda nyata sebelum dan setelah penyimpanan. Pengujian antifungi menunjukkan bahwa formula 1 menghasilkan zona hambat paling besar yaitu sebesar 17,8 mm,” terang Amelia.

Dikatakan, pengujian in silico menunjukkan bahwa ligan berinteraksi hidrogen dengan Asp485 dan Mse484 (atom yang berinteraksi N-O), dan ligan berinteraksi hidrofobik dengan Mse488, Lys452, Leu448, dan Gly45 pada protein jamur phytophthora capsici.

“Formulasi sediaan nanoemulsi senyawa alkaloid ekstrak daun kopi paling stabil menghasilkan zona daya hambat phytophthora capsici terbesar dan paling efektif menyembuhkan infeksi jamur pada tanaman cabai,” ujar Amelia. (*/ ted)