News  

Mengapa Kita Kangen Pulang ke Rumah? Ini Jawabannya

Suasana perayaan ekaristi pemberkatan rumah di Lingkungan Yohanes Rasul, Bantul, DIY, Minggu (1/10/2023). (Foto : Humas Lingkungan Yohanes Rasul)

bernasnews – Rumah adalah bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan setiap insan di dunia ini. Setiap orang atau keluarga pasti mendambakan sebuah rumah untuk tempat tinggal. Oleh karenanya, memiliki rumah menjadi sebuah perjuangan untuk diwujudkan dalam kehidupan.

Ada pertanyaan sederhana, mengapa kita merasa kangen untuk pulang ke rumah? Dalam keseharian kegiatan kita, setelah dinamika itu selesai, adalah saat untuk pulang. Pulang untuk apa, kepada siapa kita pulang, mengapa kita pulang dan bagaimana kita pulang?

Pulang untuk atau demi keluarga adalah satu alasan kita melakukan hal itu. Hal lain yang menyebabkan kita kangen pulang adalah merasa (lebih bebas) berada di rumah sendiri, meski lebih sederhana dibanding rumah orang lain. Ya berada atau tinggal di rumah ada kenyamanan tersendiri dibanding kalau berada di rumah orang lain, meski milik keluarga atau kenalan sekalipun.

Hal itu mengemuka dalam sebuah perayaan ekaristi pemberkatan rumah sahabat penulis di wilayah Paroki Gereja Santo Yakobus, Klodran, Bantul, DIY, Minggu (1/10/2023). Tepatnya di sebuah paguyuban bernama Lingkungan Yohanes Rasul. Misa ekaristi dipimpin oleh Romo Laurentius. Umat yang hadir adalah pengurus lingkungan, warga perumahan setempat dan keluarga sahabat penulis.

Benang merah yang dapat dipetik dalam pertemuan pagi menjelang siang itu adalah rumah, misa pemberkatan (doa), dan kebersamaan insani. Bahwa tempat tinggal atau rumah baru sebelum dihuni oleh keluarga (hendaknya) diberkati dan didoakan dulu. Ada syukur dan sukacita dalam kebersamaan momentum itu.       

Pemberkatan rumah oleh romo serta didampingi prodiakon dan tuan rumah dimulai di halaman depan, garasi, pintu masuk, ruang tengah, kamar tidur, dapur, dan kamar lainnya. Pemberkatan dengan air suci. 

“Ya, Tuhan, berkatilah seluruh rumah ini, karena di dalamnya tinggal putera-puteri kesayangan-Mu. Jauhkanlah keluarga ini dari segala yang dapat merusakkan dan mengganggu ketenangan. Jagalah agar rumah ini tetap kokoh berdiri, sehingga dapat menjadi naungan yaang nyaman bagi seluruh anggota keluarganya. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami sepanjang segala masa. Amin,” kata Romo Laurentius. 

Lagu-lagu yang mengiringi perayaan ekaristi menambah kekhusyukan dan kemeriahan acara, antara lain Letakkanlah Alas Rumahmu, Syukur Kepadamu Tuhan, Persembahan Sejati, Gratias Agimus Tibi, Tuhan adalah Gembalaku.  

Aku harus menumpang di rumahmu

Bacaan injil Santo Lukas pada perayaan ekaristi pagi itu sesuai dengan kegiatan pemberkatan rumah. Yakni kisah Yesus ketika masuk ke kota Yeriko dan melihat Zakheus seorang pemungut cukai yang bersusah payah untuk melihat-Nya. Ketika Yesus melihat Zakheus di atas pohon ara, kemudian berkata, “Zakheus segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” 

Lalu Zakheus segera turun dari pohon dan menerima Yesus untuk suka cita. Tetapi orang-orang yang melihat hal itu bersungut-sungut karena Yesus bersedia menumpang di rumah orang berdosa. Zakheus pun kemudian berjanji akan membagikan kekayaannya untuk orang miskin dan tidak mau memeras orang lagi. 

Kata Yesus, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun Anak Abraham. Sebab Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Romo Laurentius dalam homilinya mengemukakan, kehadiran Yesus di rumah Zakheus itu memberikan perubahan yang baik, suka cita dan kebahagiaan. Kebahagiaan itu memerdekakan. Maka kebahagiaan itu hendaknya dibagikan kepada sesama dalam hubungan masyarakat. (Anto Margono, Pegiat Literasi)